| https://nominaidekarya.com/tag/danang-febriansyah/ |
Dimuat di https://nominaidekarya.com 31 Oktober 2025
Akhirnya setelah minta
transfer uang dari ibunya, Legawa pulang naik bis. Ia kecewa sebab koordinator
unjuk rasa membiarkannya kelaparan. Pun uang lelah tak juga dibayarkan.
Keringat yang bercucuran di siang yang panas dan berteriak menolak penutupan
rumah ibadah besar di ibukota seakan menjadi antiklimaks karena makan siang tak
ada, bayaran juga sirna. Bahkan koordinator unjuk rasa tak nampak setelah
polisi membubarkan pengunjuk rasa dan sempat terjadi kerusuhan. Legawa bahkan
sempat tersulut emosi mudanya karena terkena gebuk dari polisi. Ia sempat
membalas dan memukul salah satu petugas keamanan.
Sebenarnya
Legawa adalah seorang pemuda penakut. Tapi karena jiwa mudanya sudah dibakar
sedemikian rupa, dibakar bahwa menolak penutupan rumah ibadah adalah bentuk
ajaran agamanya dan akan mendapat pahala, emosinya meledak. Pemerintah yang akan
menutup bahkan menghancurkan tempat ibadah di ibukota adalah pemerintah yang
ateis. Maka sepenakut apapun Legawa, jika banyak pemuda lain yang telah
mendapatkan semangat serupa dirinya, Legawa akan nekat.
Pada
akhirnya unjuk rasa bubar. Dan ia telah ditandai oleh petugas keamanan. Dalam
perjalanan pulang, ia memikirkan ibu yang sakit sesak napas. Ketika ingin diajak
ke rumah sakit beberapa waktu lalu, ibu menolak. Sebab takut sakitnya yang
menahun itu didiagnosa terkena pandemi.
Sampai
di rumah, ia melihat ibunya masih tertidur ditemani dua adiknya. Ia masuk kamarnya
dan merebahkan badan di lantai. Legawa mengambil beberapa buku dan digunakan
untuk bantal.
Matanya
menerawang, ia sangat kecewa dengan unjuk rasa yang diikutinya. Apa yang
diharapkan tak sesuai kenyataan. Sehari kemudian kabar unjuk rasa itu sudah
beredar di koran dan televisi. Dan yang paling mengecewakan adalah bara yang
dibawa koordinator unjuk rasa bahwa pemerintah akan menutup rumah ibadah itu
ternyata hanya berita bohong. Hanya untuk membakar semangat mudanya yang
menggelegak, agar segera bergerak melawan apa yang dianggap sebagai
ketidakadilan oleh orang yang tak bertanggungjawab.
Adiknya
masuk kamar dan memintanya untuk membelikan obat untuk ibu. Ia bangkit, ia akan
mengambil sisa uang yang ditransfer tadi untuk obat ibunya. Di teras rumah, ia
sekilas melihat gerobak bapaknya dulu untuk jualan sayur. Dengan motor tua
milik almarhum bapaknya, ia berangkat ke apotek.
Legawa
berpikiran untuk melamar kerja beberapa hari kemudian. Ibu butuh banyak obat
demi kesembuhan. Tapi ternyata banyak perusahaan menolak lamarannya meski
ijazahnya sarjana dari univeritas yang baik. Tapi karena ia terlibat unjuk
rasa, Legawa tidak mendapatkan surat keterangan berkelakuan baik. Ia merasa
kuliahnya menjadi sia-sia gara-gara berteriak di siang yang terik dalam unjuk
rasa.
Ia embuskan
asap rokok saat duduk di teras rumahnya sambil memandangi gerobak milik
bapaknya. Terbersit harap memanfaatkan kembali gerobak yang mulai rapuh itu
seteleh ditinggal bapaknya meninggal dunia setahun yang lalu.
Legawa
membersihkan kembali gerobak itu serta memperbaiki dan mengganti bagian-bagian
yang rapuh. Besok ia berencana menjual sayur. Meneruskan usaha bapak.
Jam tiga pagi dia bangun
tidur. Dengan mengendarai sepeda motor tua, ia mengikat gerobak sayur di
belakang motor. Legawa menuju pasar untuk kulak berbagai macam sayur. Menggunakan
gerobak yang di atasnya telah ditata berbagai macam sayur, Legawa mencari
tempat yang sesuai di dalam pasar. Namun setiap tempat dan los di dalam pasar
tak ada lagi ruang untuknya. Ia berusaha meminta sedikit tempat pada pedagang
yang telah menempati los pasar, namun tak ada satupun yang mengizinkan.
Akhirnya ia menggelar dagangan di tengah persimpangan di dalam pasar. Satu dua
pembeli menjadi pembelinya. Tapi kemudian petugas pasar datang dan memintanya
pergi, sebab ia mengganggu pejalan dan pengunjung pasar jika ia berdagang di
tengah jalan.
Legawa
pun pergi, keluar dari pasar. Ia menarik gerobaknya dengan motor tua.
Sayurannya tak terlihat berkurang. Ia coba masuk kampung untuk menjual
dagangannya. Tapi ternyata setiap kampung yang ia masuki telah ada penjual
sayur yang lain yang memintanya tak masuk kampung tempat mereka berjualan.
Ia
pulang dengan sedikit hasil. Sayuran dagangannya masih menumpuk. Ibu
menyarankan untuk dibagikan pada tetangga.
“Setiap
doa dari orang yang kau beri adalah pupuk hidupmu.” Begitu kata ibu.
Setelah
semua dagangan ia bagikan ke tetangga, ia kembali duduk di teras dan menyalakan
rokok. Ia bosan di teras, lalu masuk ke dalam rumah, sebentar melihat ibunya di
kamar, kemudian masuk kamarnya sendiri. Mengambil beberapa buku untuk bantal
dari tumpukan buku di samping tempat tidurnya.
Legawa
berpikir untuk menjual buku-bukunya saja. Sebab jika tak terjual hari ini, maka
buku tak layu seperti sayuran.
Pagi
berikutnya ia menarik gerobak menggunakan motor seperti kemarin, tapi isi
gerobak bukan sayur, tapi buku-buku. Ia juga tak lagi masuk ke dalam pasar,
sebab ia pasti akan terusir karena berjualan di tengah jalan. Legawa memilih
menjual buku-bukunya di luar pasar. Ia menata buku-buku di gerobak.
Satu
dua orang datang membaca buku lalu berlalu. Belum ada yang datang untuk
membeli. Beberapa waktu kemudian datang petugas keamanan. Yang
menginterogasinya.
“Sejak
kapan jualan buku?” tanya petugas.
“Baru
hari ini,” jawab Legawa agak gemetar.
“Kenapa
kau jual buku-buku kiri?” tanya petugas lagi sambil mengambil buku Aksi Massa
Tan Malaka.
“Maksudnya
apa?”
“Ini
kamu juga jual buku-buku teroris?” Petugas mengambil buku-buku agama.
“Tolong
lah, Pak. Baca dulu. Jangan mudah menuduh.” Legawa mulai kesal.
“Apa!
Kamu melawan petugas!”
Seketika
dua petugas itu menghajar Legawa hingga terjungkal. Orang-orang di pasar
memusatkan perhatian pada kejadian itu.
“Kamu
itu nggak bisa lari dari kami. Kamu itu dalam pantauan kami! Mau main-main,
hah!” Sebuah tendangan telak mengenai perutnya. Seketika napasnya menjadi
sesak.
Ia
ingat ibunya yang menderita sesak napas di rumah. Legawa di area pasar ini juga
sesak napas karena tendangan petugas.
Seorang
petugas mengobrak-abrik dagangannya, hingga gerobaknya terguling. Kemudian
buku-buku yang mereka anggap terlarang diambilnya. Gerobak diangkut ke dalam
truk dan membiarkan buku-buku lain berserakan. Legawa merasa kalah. Apalagi
setelah unjuk rasa beberapa waktu lalu, hari-harinya terasa ada yang terus
mengawasi kesehariannya. Ia takut. Sifat penakutnya telah kembali dalam
kesendirian. Ia hanya berani jika bersama dengan orang yang bersikap sama
dengannya. Ia mengusap darah yang menetes di ujung bibirnya.
Beberapa
orang mencoba menolongnya untuk bangkit dan menghibur dirinya. Ia benci pada
petugas keamanan. Ia ingin kembali berunjuk rasa seperti dulu. Tapi ia telah
kecewa karena janji koordinator unjuk rasa dan si pembakar semangat. Upah unjuk
rasa tidak diberikan. Makan siang pun tak ada. Ia membenci itu.
Karenanya,
ia ingin berunjuk rasa sendirian. Tanpa koordinator. Ia hanya ingin
memperjuangkan nasibnya saja. Maka masih disertai rasa takutnya, Legawa
berangkat ke kantor petugas keamanan.
“Aku
ingin mengambil gerobakku, Pak,” ucap Legawa gemetar di bagian depan kantor
petugas keamanan.
Di sudut
lain, ia melihat gerobaknya. Gerobak peninggalan bapak.
“Kamu
yang jual buku-buku terlarang?” tanya petugas.
“Itu
hanya buku-buku sejarah dan agama, Pak. Demi ibuku aku jual buku.” Legawa
mencoba menerangkan.
“Alasan
saja. Kamu itu yang ikut unjuk rasa. Jadi alasan apapun, kamu pasti punya niat
menggulingkan pemerintah!” tegas petugas.
“Tidak,
Pak. Aku hanya ....”
“Sudah!
Pergi sana! Sebelum kami tangkap karena menyerang petugas!”
Legawa
surut. Ia kembali. Pulang. Sekilas ia melihat gerobaknya. Ingin saja ia ambil.
Langkahnya berbelok ke arah gerobak. Tapi petugas meneriakinya. Legawa kembali
menuju jalan keluar. Dadanya bergemuruh.
Sampai
rumah, adik-adiknya diminta untuk tidak memberitahu ibunya kalau ia pulang
tanpa gerobak. Setelah mencium tangan ibunya, ia masuk kamar, menyalakan rokok
dan merebahkan badannya.
Ia
ingat kejadian di sebuah negara, seorang pemuda miskin yang mampu mengobarkan
semangat revolusi meski dia harus mengorbankan dirinya sendiri. Kejadian yang
nyaris seperti yang dialaminya. Ia ingin negara ini tidak semena-mena pada
rakyat miskin seperti dirinya. Ia merasa tidak salah, tapi petugas keamanan
selalu memata-matai dirinya.
Unjuk
rasa waktu itu terjadi karena ia terprovokasi seseorang. Ia hanya ikut-ikutan. Karena
hal itu, ia tak bisa melamar pekerjaan. Ia coba meneruskan usaha bapak yang
telah lama ditinggalkan, tapi semua keadaan sudah berubah. Ia mencoba menjual
buku-buku koleksinya, petugas keamanan malah menganggapnya memberontak. Dunia
menjadi sempit. Jika sudah begini, melakukan hal yang sama dengan pemuda di
negara lain itu, mungkin juga akan membakar seluruh negeri ini untuk menuntut
keadilan.
Ia
yakin dengan hal itu.
Malam
hari ia melihat ibunya tertidur dengan napas yang tampak berat. Dua adiknya
menemani ibu. Ia mengambil botol air mineral bekas, lalu mengutak atik selang
aliran bahan bakar motornya, sehingga bahan bakar motornya keluar dan ditampung
di botol air mineral yang dibawanya.
Setelah
selesai, ia mengeluarkan motornya dan pergi mewujudkan tujuannya. Masih terlalu
dini, ia sampai di kantor petugas keamanan. Di bagian depan, ia melihat petugas
yang kemarin mengusirnya. Matanya tampak menahan kantuk. Ia mendekatinya.
“Pak,
aku mau ambil gerobakku. Itu gerobak peninggalan bapak. Aku mau jualan dengan
gerobak itu,” kata Legawa pelan. Ia terlalu takut untuk bicara keras.
“Kamu
yang kemarin? Pemberontak itu?” tanya petugas merasa terganggu.
“Pak,
aku hanya ingin gerobakku kembali. Aku bukan pemberontak.”
“Pergi
sana! Sikapmu pada pemerintah sudah buruk. Itulah akibatnya jika melawan
petugas!”
“Tapi,
Pak ....”
Dan
sebuah pukulan dengan tongkat mengenai lengan Legawa. Ia gemetar, takut. Tak
berani jika ia sendirian. Ia hanya berani jika banyak teman seperti dalam unjuk
rasa waktu itu. Karenanya, Legawa berencana melakukan rencana keduanya. Ia
mengambil sebotol bahan bakar di tasnya. Ia ingin seluruh rakyat melakukan
revolusi menuntut keadilan bagi rakyat kecil seperti di negara lain. Ia akan
membakar tubuhnya yang akan memicu aksi besar-besaran seluruh negeri karena
membaca latar belakang aksi bakar dirinya.
Di
sebelah gerbang kantor keamanan, ia mengguyurkan bahan bakar dari kepalanya. Ia
ambil korek api dari sakunya. Ia ingat sebuah novel yang pernah dibacanya, ‘Dalam
Kobaran Api’, seorang pemuda di sebuah negeri menjadi obor api sekejap setelah
korek api menyala. Lalu tubuhnya gosong dan beberapa waktu kemudian tewas.
Membayangkan
itu, rasa takut Legawa membesar. Ia begidik ngeri membayangkan rasa panas dan
perih di sekujur badan. Sekejap kemudian, Legawa ingat, setelah pemuda mati,
aksi besar-besaran terjadi di seluruh negeri. Betapa pemuda itu menjadi
pahlawan. Sungguh heroik. Ia ingin seperti itu.
Namun,
rasa takut makin memeluknya. Korek api dilihatnya. Dan kenekatannya padam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar