Jumat, 31 Oktober 2025

Matahari yang Selalu Jingga

 


Dimuat di Jawa Pos Radar Banyuwangi, 5 Oktober 2025

 

            “Pada saatnya nanti, akan kubuat matahari itu sebagai hadiah untukmu,” ucap Pujud sambil menunjuk matahari yang menyilaukan mata di bawah birunya langit bumi Sriwijaya.

            “Aku tak suka silaunya,” sahut Wangi, kekasihnya.

            “Akan kubuat matahari itu berwarna jingga. Warna senja kesukaanmu.” Lelaki pemilik banyak lahan itu mantap dengan janjinya.

            Pujud ingat, hal itu terjadi karena tantangan orang tua Wangi beberapa hari yang lalu saat mengutarakan niatnya mempersunting kekasihnya itu.

            Wangi bangga pada keteguhan hati Pujud. Mendengar janji itu, hatinya gemetar. Bangga.

            “Agar orang tuamu melihat, bahwa aku bisa berbuat apapun. Bahkan mengubah takdir. Mengubah warna matahari!” lanjut Pujud tegas.

            Perlahan, matahari tergelincir ke arah barat, meski panasnya masih menyengat sepasang kekasih itu. Panas matahari itu bagi Pujud adalah tantangan baginya untuk menunjukkan kesombongannya merubah matahari menjadi jingga.

            Jembatan Ampera menjadi saksi atas sebuah janji seorang pemuda kaya pada kekasinya. Sebuah janji yang jika tidak ditepati akan membuat malu dirinya sebagai seorang lelaki. Baginya, kemegahan jembatan itu menyiratkan keteguhan janjinya untuk menantang takdir.

            Lalu lalang orang-orang di sekitar jembatan legendaris yang berwarna jingga tersebut saat ini tidak mempedulikan janji besar dari seorang Pujud. Kelak janji itu sebenarnya juga mempengaruhi orang-orang di sekitar mereka.

            Kini Pujud mulai berpikir dengan cara apa dia menantang matahari. Sebuah perbuatan yang tidak main-main, menjadikan warna matahari berubah.

            Pujud ingat, sebenarnya janji itu telah dia utarakan secara spontan saat mempersunting Wangi beberapa hari yang lalu. Sebab orang tua Wangi seakan meremehkan kekayaannya demi menolak dirinya menjadi suami Wangi.

            “Aku tahu kau pasti bisa memberikan banyak harta untuk Wangi. Tapi Wangi jauh lebih berharga dari itu semua!” ujar ayah Wangi saat itu.

            Hal itu tentu menempeleng harga diri Pujud. Baginya apapun bisa dia berikan demi menikahi Wangi.

            “Jangankan emas. Matahari senja pun akan kuberikan untuk Wangi!” balas Pujud sambil menahan geram.

            Mendengarnya, ayah Wangi seakan mendapat angin segar. Orang tua itu seakan mendapat jalan demi menolak keinginan Pujud yang temperamental. Sifat itu yang tidak disukai orang tua Wangi.

            “Buktikan! Kau telah menjanjikan senja. Sebagai lelaki, kau tentu pantang menelan ludahmu sendiri!” Ayah Wangi berdiri lalu berlalu masuk ke dalam rumahnya, diikuti ibu Wangi.

            Tinggal Wangi yang duduk menunduk di ruang depan. Janji kekasihnya itu bukan man-main. Dalam hati, Wangi meragukan janji Pujud. Gadis itu tahu, sifat keras hati Pujud ditampakkan di depan orang tuanya dan janji itu keluar demi melindungi harga dirinya. Sedangkan bagi Pujud, janji yang diucapkan itu keluar begitu saja tanpa dia sadari. Namun janji telah terucap tak dapat ditarik kembali. Janji yang jika dia ingkari akan melepaskan Wangi dari genggamannya dan jika diwujudkan, hal itu bagai membangun kota di lapisan luar matahari. Konyol.

***

            Maka siang ini ketika bertemu Wangi di dekat jembatan Ampera, Pujud meyakinkan bahwa dia mampu mewujudkan janjinya itu. Menjadikan matahari selalu jingga. Selalu senja.

            “Janjiku seperti api ini,” kata Pujud sambil menyalakan api di tangannya. Lalu api itu dijatuhkan ke sungai musi. Seketika api itu padam, menyisakan asap. “Menyala. Panas. Namun tak mampu mengalahkan air,” lanjutnya.

            “Aku terus berusaha yakin bahwa kamu mampu, meski aku meragukannya. Tapi janji telah kau ucap, buatkan senja untukku. Matahari yang selalu jingga.” Wangi membangkitkan semangat dalam diri Pujud.

            Wagi selalu seperti air bagi Pujud, yang selalu memadamkan apinya yang selalu menyala-nyala.

“Api,” desis Pujud. “Ya. Aku bisa. Tunggu beberapa hari lagi. Matahari akan selalu senja sepanjang hari.” Pujud tersenyum. Senyum kemenangan.

***

            Di tepi sungai musi, Pujud dan Wangi kembali bertemu di hari yang pengap dengan mata yang basah dan napas yang naik turun.

            “Lihatah, Wangi. Lihat matahari itu. Matahari jingga yang kujanjikan.” Meski napasnya terengah-engah, dia terlihat riang dengan mewujudkan janjinya itu.

            Wangi menatap matahari. Matahari itu bulat penuh, tidak menyilaukan matanya. Dengan warna jingga, seperti janji Pujud.

            “Tidak, langit itu kelabu meski matahari jingga. Ini bukan jingga dalam indahnya senja. Apa yang kaubuat?”

            “Aku wujudkan janji bahwa matahari selalu jingga. Hadiah untukmu.”

            “Dan lihatlah orang-orang itu.” Wangi memandang sekeliling. Orang-orang banyak yang memakai penutup hidung. “Lalu lihatlah ke depan sana. Kemana Ampera yang kemarin jelas terlihat dari sini? Semua kelabu, warna mendung, warna duka. Aku tak menerima semua ini!” keluh Wangi pada Pujud.

            “Mengubah takdir itu harus bersedia berkorban, Wangi. Setiap perjuangan besar dan setiap perubahan selalu membutuhkan korban.”

            “Aku tahu ini perbuatanmu. Dan ini bukan perjuangan, tapi ini merusak segalanya. Juga lihatlah dirimu, napasmu putus-putus. Ini juga karena asap yang kau buat untuk menutup matahari itu.”

            “Ah kau tidak memahami perubahan. Bukankah janjiku menjadikan matahari berwarna jingga? Terimalah, dan kita akan hidup lebih bahagia, karena sebentar lagi lahanku akan semakin banyak.”

            “Tidak. Kau buat matahari menangis!” Wangi lalu berlari meninggalkan Pujud, membelah asap yang menyelubungi kotanya.

            Kembali Pujud merasa direndahkan. Teringat lahan yang dihanguskannya. Dilihatnya udara tertutup asap dari lahan yang terbakar, membuat matahari berwarna jingga. Api dari tangannya kembali menyala. Matanya menyeringai menatap kekasihnya yang pergi.

            “Kaupun akan kubuat jingga, Wangi!” gumam Pujud seperti kutukan.

***

Bukit Sangkal, 29 Oktober 2015         14.42 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sejarah Keluarga Kerabat Singo Prono (Joyo Wilastro/Mantri Gedhong Praja Mangkunegara I)

          Dengan berkah serta perlindungan Allah yang Maha Esa dan Maha Murah dan Maha Adil serta Maha Kasih yang tanpa pilih kasih, termas...