Selasa, 18 November 2025

Sejarah Keluarga Kerabat Singo Prono (Joyo Wilastro/Mantri Gedhong Praja Mangkunegara I)

        Dengan berkah serta perlindungan Allah yang Maha Esa dan Maha Murah dan Maha Adil serta Maha Kasih yang tanpa pilih kasih, termasuk kasih-Nya kepada kita para ahli waris keluarga besar Singoprono yang sudah berhasil menyatukan tekad menyusun lembaran-lembaran petunjuk tentang alur para ahli waris yang berkaitan dan saling bertalian.  
          Walaupun hanya dapat mewujudkan rangkaian sejarahyang masih sangat sederhana, namun dengan maksud supaya dapat untuk pegangan ahli waris (Himpunan Kerabat Besar Singoprono) yang pada akhirnya bisa membuat terang/jelas atau setidaknya tidak kehilangan jejak. 
        Oleh karena itu, pada tg 22 Maret 1972 para ahli waris mulai bergerak mengadakan pertemuan-pertemuan guna mengadakan musyawarah secukupnya membicarakan bagaumana caranya mencari dan mengumpulkan bahan bahan yang dapat digunakan untuk menyusun buku silsilah. 
        Hasil kesepakatan dari rembugan-rembugan tersebut kita para ahli waris bersama sama mencari dan mengingat-ingat rieayar serta berbagai usaha. Usaha-usaha tersebut diharapkan cukup untuk mengumpulkan keterangan, catatan, bukti-bukti dan sebagainya. 
        Sedangkan susunan bahan dapat dipilah seperti ini : 
1. Dimulai dari Ingkong Sinuwun Kanjeng Prabu Brawijaya V Raja Majapahit sampai Ingkong Sinuwun Kanjeng Sultan Hadiasjoyo Raja Pajang. 
2. Dilanjutkan dari Ingkong Sinuwun Kanjeng Sultan Hadiwijaya Raja Pajang sampai Eyang Singodirjo (yang disebut sebagai Jayo Wiasto, Singodiwiryo atau Mas Ngabei Wignyowijoyo yang dimakamkan di bukit Mengdeg, tepatnya di bagian teras dalam Astana Mengadeg, sebelah kanan pintu masuk makam KGPHP Mangkunagoro II & III. 
3. Dilanjutkan lagi dari Eyang Singodirjo di Bukit Mengadeg sampai anak cucu. 
        Dengan berdasarkan ketiga induk bahan-bahan tersebut, selanjutnya dapat dilanjutkan lagi menurut keperluan masing-masing. Di sini perlu kita jelaskan beberapa hal : Contoh : perilaku yang baik, yang perlu kita teladani dan perlu dibuat cerita (kisah) yang perlu dipahami. 
     Sedangkan perilaku baik dianatarnya yaitu Kyai Demang Singiprono di Simo. Beliau punya wawasan (nasehat) yang dapat untuk pedoman hidup, yaitu : 
1. Sing Sapa salah bakat seleh (Siapa yang bersalah akan menanggung akibatnya, atau keweleh) 
2. Tindak candhala ika angedobake bebuden luhur (Tindakan buruk akan menjauhkan budi luhur) 
3. Budi luhur lan asor iku guman tung ana ing tumindak ( Budi luhur atau jelek tergantung tindakan) 
4. Dana driyah / budidarma marang sapadha-padha, nambahi luhuring budi (Memberi pertolongan kepada sesama manambah sifat budi luhur) 
5. Welas asih marang sapadha-padha iku kalebu wajib. (Belas kasih terhadap sesama itu termasuk perilaku wajib) 
        Juga ada dengan pedhoman "Dasa Sila" 
1. Berbakti kepada Allah yang Maha Esa. 
2. Berbakti kepada utusannya Allah. 
3. Serta berbakti kepada Penguasa Negeri. 
4. ⁠Berbakti kepada tanah air. 
5. Berbakti kepada orang tua. 
6. Berbakti kepada saudara tua. 
7. Berbakti kepada guru. 
8. Berbakti kepada ajaran kebaikan. 
9. Belas kasih kepada sesama. 
10. Menghargai semua agama. 
        Dengan dasar seperti itu para kerabat menjadi akrab menurut kepercayaan masing masing. Serta ibadah masing-masing merendah kedekatan dan kebersamaan hidup bersama. 
      Setelah Kyai Demang Singoprono meninggal dunia maka kedudukan diserahkan kepada anak menantunya yaitu Raden Bagus Danupuro alias Demang Singoprono Alus di Simo Walen. 
        Kyai Singoprono Alus punya dua anak yaitu: 
1. Singodirjo 
2. Singodiwongso 
        Menurut kisah, pada jaman perang Kastasura dua anak tersebut masuk menjadi prajurit. Saat bedah Kraton Kartosura, karena serangan prajurit Tiong Hoa. Singodiwongso pulang sendirian. Ketika ditanya oleh ayahnya: "Dimana kakakmu"? Singodiwongso memberi jawab: "Tidak tahu, tadi saya tunggu agak lama tidak muncul" maka saya tinggal pulang, mungkin sudah tewas dalam peperangan” 
        Ternyata akhirnya diketahui bahwa Singodirjo selalu bersama dengan rombongan prajurit pengikut R.M. Said, sampai R.M. Said berhasil menjadi, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Mangkunagoro I. 
        Selanjutnya Eyang Singodirjo diberi pangkat Mantri Gedong Praja Mangkunagoro I dan diberi nama M. Ng. Singodiwiryo alias Jayo Wilastro yang juga disebut Mas Ngabel Wignyo Wijoyo. Bahkan waktu meninggal pun dimakamkan di Mengadeg, yaitu pada “teras dalam” Astono Mangkunagoro II & III. 
        Di samping itu diberi pangkat Mantri Gedong, juga diberi istri seorang bangsa Tiong Hoa asli dengan petunjuk sebagai berikut: “Singodirjo… kelak bila anakmu terlahir pria bisalah jadi Pamong Desa di wilayah Projo Mangkunagoron turun temurun, tapi bila terlahir wanita sak karepmu (terserah dirimu). Dan saya beri ijin turun temurun bisalah memilih menjadi Jawa atau menjadi Tiong Hoa.” 
        Mematuhi petunjuk tersebut baik ajaran, nasehat, ilmu, pengetahuan dan berkah dari para leluhur, R.Ng. Singodirjo / Wignyowijoyo mempunyai 3 anak yaitu: 
1. R. Wukir. RDM. Secowacono Karang Anyar. 
2. R. Suwiyah, RDM. Poncogutomo I. Jatisrono. 
3. R. Ramet, belum ketemu riwayatnya. 
        Mematuhi nasehat dan petunjuk para leluhur, kenyataannya dapat cocok sesuai tanpa meleset. Mulai dari putra sehingga cucu wareng, selanjutnya turun-temurun mulai dari Eyang Singodirjo/Wignyowijoyo pada bekerja sebagai pamong desa di wilayah Praja Mangkunagaran. 
        Kecuali dipercaya sebagai pamong desa, juga dipercaya dibidang pertanian. Contohnya: Kebon kopi, soklat, juga hasil bumi dan lạin-lain. Dan diberi tanda surat kekancingan (Sertifikat) yg ditandatangani oleh Mangku Negara VI. 
    Di samping dipercaya sebagai Pamong Desa dan bidang pertanian, juga dipercaya menjaga Pasanggrahan di Bulukerto, serta yang lain-lain, dimana hasilnya termasuk kekayaan Praja Mangkunagaran. 
        Termasuk buyut Ki Singodirjo yang bernama Mas Ngabehi Ronggo Taruwirono masih berlangsung tetap setor uang pajeg dan hasil bumi kepada Praja Mangkunagara. Begitu juga R. Demang / Mantri Gunung Jatisrono yang bernama R. Poncosugriwo diijinkan membuat jalan raya Jatisrono - Wonogiri. Dengan gotong royong dengan tanda isyarat membunyikan meriam. 
        Jalan hidup seperti ini menyebabkan krabat/keluarga para pini sepuh mulai wareng hingga putra pada dimakamkan di Desa Bendo, Janggan, Bulukerto. Istri dan anak kumpul jadi satu Desa. Hal ini bisa dibuktikan hingga sekarang. Oleh karena itu para kerabat semua pada tumbuh rasa persaudaraannya. 
        Demikianlah keterangan-keterangan secukupnya, semoga saged untuk pegangan para waris kerabat ageng (keluarga besar) Singoprono. melalui kedua anaknya Seco Wacono dan Ponco Gutomo yang masih ada hingga saat ini.
*Dikutip dari Buku Silsilah Himpunan Kerabat Besar Singoprono II Aloes

Jumat, 31 Oktober 2025

Matahari yang Selalu Jingga

 


Dimuat di Jawa Pos Radar Banyuwangi, 5 Oktober 2025

 

            “Pada saatnya nanti, akan kubuat matahari itu sebagai hadiah untukmu,” ucap Pujud sambil menunjuk matahari yang menyilaukan mata di bawah birunya langit bumi Sriwijaya.

            “Aku tak suka silaunya,” sahut Wangi, kekasihnya.

            “Akan kubuat matahari itu berwarna jingga. Warna senja kesukaanmu.” Lelaki pemilik banyak lahan itu mantap dengan janjinya.

            Pujud ingat, hal itu terjadi karena tantangan orang tua Wangi beberapa hari yang lalu saat mengutarakan niatnya mempersunting kekasihnya itu.

            Wangi bangga pada keteguhan hati Pujud. Mendengar janji itu, hatinya gemetar. Bangga.

            “Agar orang tuamu melihat, bahwa aku bisa berbuat apapun. Bahkan mengubah takdir. Mengubah warna matahari!” lanjut Pujud tegas.

            Perlahan, matahari tergelincir ke arah barat, meski panasnya masih menyengat sepasang kekasih itu. Panas matahari itu bagi Pujud adalah tantangan baginya untuk menunjukkan kesombongannya merubah matahari menjadi jingga.

            Jembatan Ampera menjadi saksi atas sebuah janji seorang pemuda kaya pada kekasinya. Sebuah janji yang jika tidak ditepati akan membuat malu dirinya sebagai seorang lelaki. Baginya, kemegahan jembatan itu menyiratkan keteguhan janjinya untuk menantang takdir.

            Lalu lalang orang-orang di sekitar jembatan legendaris yang berwarna jingga tersebut saat ini tidak mempedulikan janji besar dari seorang Pujud. Kelak janji itu sebenarnya juga mempengaruhi orang-orang di sekitar mereka.

            Kini Pujud mulai berpikir dengan cara apa dia menantang matahari. Sebuah perbuatan yang tidak main-main, menjadikan warna matahari berubah.

            Pujud ingat, sebenarnya janji itu telah dia utarakan secara spontan saat mempersunting Wangi beberapa hari yang lalu. Sebab orang tua Wangi seakan meremehkan kekayaannya demi menolak dirinya menjadi suami Wangi.

            “Aku tahu kau pasti bisa memberikan banyak harta untuk Wangi. Tapi Wangi jauh lebih berharga dari itu semua!” ujar ayah Wangi saat itu.

            Hal itu tentu menempeleng harga diri Pujud. Baginya apapun bisa dia berikan demi menikahi Wangi.

            “Jangankan emas. Matahari senja pun akan kuberikan untuk Wangi!” balas Pujud sambil menahan geram.

            Mendengarnya, ayah Wangi seakan mendapat angin segar. Orang tua itu seakan mendapat jalan demi menolak keinginan Pujud yang temperamental. Sifat itu yang tidak disukai orang tua Wangi.

            “Buktikan! Kau telah menjanjikan senja. Sebagai lelaki, kau tentu pantang menelan ludahmu sendiri!” Ayah Wangi berdiri lalu berlalu masuk ke dalam rumahnya, diikuti ibu Wangi.

            Tinggal Wangi yang duduk menunduk di ruang depan. Janji kekasihnya itu bukan man-main. Dalam hati, Wangi meragukan janji Pujud. Gadis itu tahu, sifat keras hati Pujud ditampakkan di depan orang tuanya dan janji itu keluar demi melindungi harga dirinya. Sedangkan bagi Pujud, janji yang diucapkan itu keluar begitu saja tanpa dia sadari. Namun janji telah terucap tak dapat ditarik kembali. Janji yang jika dia ingkari akan melepaskan Wangi dari genggamannya dan jika diwujudkan, hal itu bagai membangun kota di lapisan luar matahari. Konyol.

***

            Maka siang ini ketika bertemu Wangi di dekat jembatan Ampera, Pujud meyakinkan bahwa dia mampu mewujudkan janjinya itu. Menjadikan matahari selalu jingga. Selalu senja.

            “Janjiku seperti api ini,” kata Pujud sambil menyalakan api di tangannya. Lalu api itu dijatuhkan ke sungai musi. Seketika api itu padam, menyisakan asap. “Menyala. Panas. Namun tak mampu mengalahkan air,” lanjutnya.

            “Aku terus berusaha yakin bahwa kamu mampu, meski aku meragukannya. Tapi janji telah kau ucap, buatkan senja untukku. Matahari yang selalu jingga.” Wangi membangkitkan semangat dalam diri Pujud.

            Wagi selalu seperti air bagi Pujud, yang selalu memadamkan apinya yang selalu menyala-nyala.

“Api,” desis Pujud. “Ya. Aku bisa. Tunggu beberapa hari lagi. Matahari akan selalu senja sepanjang hari.” Pujud tersenyum. Senyum kemenangan.

***

            Di tepi sungai musi, Pujud dan Wangi kembali bertemu di hari yang pengap dengan mata yang basah dan napas yang naik turun.

            “Lihatah, Wangi. Lihat matahari itu. Matahari jingga yang kujanjikan.” Meski napasnya terengah-engah, dia terlihat riang dengan mewujudkan janjinya itu.

            Wangi menatap matahari. Matahari itu bulat penuh, tidak menyilaukan matanya. Dengan warna jingga, seperti janji Pujud.

            “Tidak, langit itu kelabu meski matahari jingga. Ini bukan jingga dalam indahnya senja. Apa yang kaubuat?”

            “Aku wujudkan janji bahwa matahari selalu jingga. Hadiah untukmu.”

            “Dan lihatlah orang-orang itu.” Wangi memandang sekeliling. Orang-orang banyak yang memakai penutup hidung. “Lalu lihatlah ke depan sana. Kemana Ampera yang kemarin jelas terlihat dari sini? Semua kelabu, warna mendung, warna duka. Aku tak menerima semua ini!” keluh Wangi pada Pujud.

            “Mengubah takdir itu harus bersedia berkorban, Wangi. Setiap perjuangan besar dan setiap perubahan selalu membutuhkan korban.”

            “Aku tahu ini perbuatanmu. Dan ini bukan perjuangan, tapi ini merusak segalanya. Juga lihatlah dirimu, napasmu putus-putus. Ini juga karena asap yang kau buat untuk menutup matahari itu.”

            “Ah kau tidak memahami perubahan. Bukankah janjiku menjadikan matahari berwarna jingga? Terimalah, dan kita akan hidup lebih bahagia, karena sebentar lagi lahanku akan semakin banyak.”

            “Tidak. Kau buat matahari menangis!” Wangi lalu berlari meninggalkan Pujud, membelah asap yang menyelubungi kotanya.

            Kembali Pujud merasa direndahkan. Teringat lahan yang dihanguskannya. Dilihatnya udara tertutup asap dari lahan yang terbakar, membuat matahari berwarna jingga. Api dari tangannya kembali menyala. Matanya menyeringai menatap kekasihnya yang pergi.

            “Kaupun akan kubuat jingga, Wangi!” gumam Pujud seperti kutukan.

***

Bukit Sangkal, 29 Oktober 2015         14.42 WIB

Legawa Berpikir untuk Bunuh Diri

https://nominaidekarya.com/tag/danang-febriansyah/

Dimuat di https://nominaidekarya.com 31 Oktober 2025
 

Akhirnya setelah minta transfer uang dari ibunya, Legawa pulang naik bis. Ia kecewa sebab koordinator unjuk rasa membiarkannya kelaparan. Pun uang lelah tak juga dibayarkan. Keringat yang bercucuran di siang yang panas dan berteriak menolak penutupan rumah ibadah besar di ibukota seakan menjadi antiklimaks karena makan siang tak ada, bayaran juga sirna. Bahkan koordinator unjuk rasa tak nampak setelah polisi membubarkan pengunjuk rasa dan sempat terjadi kerusuhan. Legawa bahkan sempat tersulut emosi mudanya karena terkena gebuk dari polisi. Ia sempat membalas dan memukul salah satu petugas keamanan.

            Sebenarnya Legawa adalah seorang pemuda penakut. Tapi karena jiwa mudanya sudah dibakar sedemikian rupa, dibakar bahwa menolak penutupan rumah ibadah adalah bentuk ajaran agamanya dan akan mendapat pahala, emosinya meledak. Pemerintah yang akan menutup bahkan menghancurkan tempat ibadah di ibukota adalah pemerintah yang ateis. Maka sepenakut apapun Legawa, jika banyak pemuda lain yang telah mendapatkan semangat serupa dirinya, Legawa akan nekat.

            Pada akhirnya unjuk rasa bubar. Dan ia telah ditandai oleh petugas keamanan. Dalam perjalanan pulang, ia memikirkan ibu yang sakit sesak napas. Ketika ingin diajak ke rumah sakit beberapa waktu lalu, ibu menolak. Sebab takut sakitnya yang menahun itu didiagnosa terkena pandemi.

            Sampai di rumah, ia melihat ibunya masih tertidur ditemani dua adiknya. Ia masuk kamarnya dan merebahkan badan di lantai. Legawa mengambil beberapa buku dan digunakan untuk bantal.

            Matanya menerawang, ia sangat kecewa dengan unjuk rasa yang diikutinya. Apa yang diharapkan tak sesuai kenyataan. Sehari kemudian kabar unjuk rasa itu sudah beredar di koran dan televisi. Dan yang paling mengecewakan adalah bara yang dibawa koordinator unjuk rasa bahwa pemerintah akan menutup rumah ibadah itu ternyata hanya berita bohong. Hanya untuk membakar semangat mudanya yang menggelegak, agar segera bergerak melawan apa yang dianggap sebagai ketidakadilan oleh orang yang tak bertanggungjawab.

            Adiknya masuk kamar dan memintanya untuk membelikan obat untuk ibu. Ia bangkit, ia akan mengambil sisa uang yang ditransfer tadi untuk obat ibunya. Di teras rumah, ia sekilas melihat gerobak bapaknya dulu untuk jualan sayur. Dengan motor tua milik almarhum bapaknya, ia berangkat ke apotek.

            Legawa berpikiran untuk melamar kerja beberapa hari kemudian. Ibu butuh banyak obat demi kesembuhan. Tapi ternyata banyak perusahaan menolak lamarannya meski ijazahnya sarjana dari univeritas yang baik. Tapi karena ia terlibat unjuk rasa, Legawa tidak mendapatkan surat keterangan berkelakuan baik. Ia merasa kuliahnya menjadi sia-sia gara-gara berteriak di siang yang terik dalam unjuk rasa.

            Ia embuskan asap rokok saat duduk di teras rumahnya sambil memandangi gerobak milik bapaknya. Terbersit harap memanfaatkan kembali gerobak yang mulai rapuh itu seteleh ditinggal bapaknya meninggal dunia setahun yang lalu.

            Legawa membersihkan kembali gerobak itu serta memperbaiki dan mengganti bagian-bagian yang rapuh. Besok ia berencana menjual sayur. Meneruskan usaha bapak.

Jam tiga pagi dia bangun tidur. Dengan mengendarai sepeda motor tua, ia mengikat gerobak sayur di belakang motor. Legawa menuju pasar untuk kulak berbagai macam sayur. Menggunakan gerobak yang di atasnya telah ditata berbagai macam sayur, Legawa mencari tempat yang sesuai di dalam pasar. Namun setiap tempat dan los di dalam pasar tak ada lagi ruang untuknya. Ia berusaha meminta sedikit tempat pada pedagang yang telah menempati los pasar, namun tak ada satupun yang mengizinkan. Akhirnya ia menggelar dagangan di tengah persimpangan di dalam pasar. Satu dua pembeli menjadi pembelinya. Tapi kemudian petugas pasar datang dan memintanya pergi, sebab ia mengganggu pejalan dan pengunjung pasar jika ia berdagang di tengah jalan.

            Legawa pun pergi, keluar dari pasar. Ia menarik gerobaknya dengan motor tua. Sayurannya tak terlihat berkurang. Ia coba masuk kampung untuk menjual dagangannya. Tapi ternyata setiap kampung yang ia masuki telah ada penjual sayur yang lain yang memintanya tak masuk kampung tempat mereka berjualan.

            Ia pulang dengan sedikit hasil. Sayuran dagangannya masih menumpuk. Ibu menyarankan untuk dibagikan pada tetangga.

            “Setiap doa dari orang yang kau beri adalah pupuk hidupmu.” Begitu kata ibu.

            Setelah semua dagangan ia bagikan ke tetangga, ia kembali duduk di teras dan menyalakan rokok. Ia bosan di teras, lalu masuk ke dalam rumah, sebentar melihat ibunya di kamar, kemudian masuk kamarnya sendiri. Mengambil beberapa buku untuk bantal dari tumpukan buku di samping tempat tidurnya.

            Legawa berpikir untuk menjual buku-bukunya saja. Sebab jika tak terjual hari ini, maka buku tak layu seperti sayuran.

            Pagi berikutnya ia menarik gerobak menggunakan motor seperti kemarin, tapi isi gerobak bukan sayur, tapi buku-buku. Ia juga tak lagi masuk ke dalam pasar, sebab ia pasti akan terusir karena berjualan di tengah jalan. Legawa memilih menjual buku-bukunya di luar pasar. Ia menata buku-buku di gerobak.

            Satu dua orang datang membaca buku lalu berlalu. Belum ada yang datang untuk membeli. Beberapa waktu kemudian datang petugas keamanan. Yang menginterogasinya.

            “Sejak kapan jualan buku?” tanya petugas.

            “Baru hari ini,” jawab Legawa agak gemetar.

            “Kenapa kau jual buku-buku kiri?” tanya petugas lagi sambil mengambil buku Aksi Massa Tan Malaka.

            “Maksudnya apa?”

            “Ini kamu juga jual buku-buku teroris?” Petugas mengambil buku-buku agama.

            “Tolong lah, Pak. Baca dulu. Jangan mudah menuduh.” Legawa mulai kesal.

            “Apa! Kamu melawan petugas!”

            Seketika dua petugas itu menghajar Legawa hingga terjungkal. Orang-orang di pasar memusatkan perhatian pada kejadian itu.

            “Kamu itu nggak bisa lari dari kami. Kamu itu dalam pantauan kami! Mau main-main, hah!” Sebuah tendangan telak mengenai perutnya. Seketika napasnya menjadi sesak.

            Ia ingat ibunya yang menderita sesak napas di rumah. Legawa di area pasar ini juga sesak napas karena tendangan petugas.

            Seorang petugas mengobrak-abrik dagangannya, hingga gerobaknya terguling. Kemudian buku-buku yang mereka anggap terlarang diambilnya. Gerobak diangkut ke dalam truk dan membiarkan buku-buku lain berserakan. Legawa merasa kalah. Apalagi setelah unjuk rasa beberapa waktu lalu, hari-harinya terasa ada yang terus mengawasi kesehariannya. Ia takut. Sifat penakutnya telah kembali dalam kesendirian. Ia hanya berani jika bersama dengan orang yang bersikap sama dengannya. Ia mengusap darah yang menetes di ujung bibirnya.

            Beberapa orang mencoba menolongnya untuk bangkit dan menghibur dirinya. Ia benci pada petugas keamanan. Ia ingin kembali berunjuk rasa seperti dulu. Tapi ia telah kecewa karena janji koordinator unjuk rasa dan si pembakar semangat. Upah unjuk rasa tidak diberikan. Makan siang pun tak ada. Ia membenci itu.

            Karenanya, ia ingin berunjuk rasa sendirian. Tanpa koordinator. Ia hanya ingin memperjuangkan nasibnya saja. Maka masih disertai rasa takutnya, Legawa berangkat ke kantor petugas keamanan.

            “Aku ingin mengambil gerobakku, Pak,” ucap Legawa gemetar di bagian depan kantor petugas keamanan.

            Di sudut lain, ia melihat gerobaknya. Gerobak peninggalan bapak.

            “Kamu yang jual buku-buku terlarang?” tanya petugas.

            “Itu hanya buku-buku sejarah dan agama, Pak. Demi ibuku aku jual buku.” Legawa mencoba menerangkan.

            “Alasan saja. Kamu itu yang ikut unjuk rasa. Jadi alasan apapun, kamu pasti punya niat menggulingkan pemerintah!” tegas petugas.

            “Tidak, Pak. Aku hanya ....”

            “Sudah! Pergi sana! Sebelum kami tangkap karena menyerang petugas!”

            Legawa surut. Ia kembali. Pulang. Sekilas ia melihat gerobaknya. Ingin saja ia ambil. Langkahnya berbelok ke arah gerobak. Tapi petugas meneriakinya. Legawa kembali menuju jalan keluar. Dadanya bergemuruh.

            Sampai rumah, adik-adiknya diminta untuk tidak memberitahu ibunya kalau ia pulang tanpa gerobak. Setelah mencium tangan ibunya, ia masuk kamar, menyalakan rokok dan merebahkan badannya.

            Ia ingat kejadian di sebuah negara, seorang pemuda miskin yang mampu mengobarkan semangat revolusi meski dia harus mengorbankan dirinya sendiri. Kejadian yang nyaris seperti yang dialaminya. Ia ingin negara ini tidak semena-mena pada rakyat miskin seperti dirinya. Ia merasa tidak salah, tapi petugas keamanan selalu memata-matai dirinya.

            Unjuk rasa waktu itu terjadi karena ia terprovokasi seseorang. Ia hanya ikut-ikutan. Karena hal itu, ia tak bisa melamar pekerjaan. Ia coba meneruskan usaha bapak yang telah lama ditinggalkan, tapi semua keadaan sudah berubah. Ia mencoba menjual buku-buku koleksinya, petugas keamanan malah menganggapnya memberontak. Dunia menjadi sempit. Jika sudah begini, melakukan hal yang sama dengan pemuda di negara lain itu, mungkin juga akan membakar seluruh negeri ini untuk menuntut keadilan.

            Ia yakin dengan hal itu.

            Malam hari ia melihat ibunya tertidur dengan napas yang tampak berat. Dua adiknya menemani ibu. Ia mengambil botol air mineral bekas, lalu mengutak atik selang aliran bahan bakar motornya, sehingga bahan bakar motornya keluar dan ditampung di botol air mineral yang dibawanya.

            Setelah selesai, ia mengeluarkan motornya dan pergi mewujudkan tujuannya. Masih terlalu dini, ia sampai di kantor petugas keamanan. Di bagian depan, ia melihat petugas yang kemarin mengusirnya. Matanya tampak menahan kantuk. Ia mendekatinya.

            “Pak, aku mau ambil gerobakku. Itu gerobak peninggalan bapak. Aku mau jualan dengan gerobak itu,” kata Legawa pelan. Ia terlalu takut untuk bicara keras.

            “Kamu yang kemarin? Pemberontak itu?” tanya petugas merasa terganggu.

            “Pak, aku hanya ingin gerobakku kembali. Aku bukan pemberontak.”

            “Pergi sana! Sikapmu pada pemerintah sudah buruk. Itulah akibatnya jika melawan petugas!”

            “Tapi, Pak ....”

            Dan sebuah pukulan dengan tongkat mengenai lengan Legawa. Ia gemetar, takut. Tak berani jika ia sendirian. Ia hanya berani jika banyak teman seperti dalam unjuk rasa waktu itu. Karenanya, Legawa berencana melakukan rencana keduanya. Ia mengambil sebotol bahan bakar di tasnya. Ia ingin seluruh rakyat melakukan revolusi menuntut keadilan bagi rakyat kecil seperti di negara lain. Ia akan membakar tubuhnya yang akan memicu aksi besar-besaran seluruh negeri karena membaca latar belakang aksi bakar dirinya.

            Di sebelah gerbang kantor keamanan, ia mengguyurkan bahan bakar dari kepalanya. Ia ambil korek api dari sakunya. Ia ingat sebuah novel yang pernah dibacanya, ‘Dalam Kobaran Api’, seorang pemuda di sebuah negeri menjadi obor api sekejap setelah korek api menyala. Lalu tubuhnya gosong dan beberapa waktu kemudian tewas.

            Membayangkan itu, rasa takut Legawa membesar. Ia begidik ngeri membayangkan rasa panas dan perih di sekujur badan. Sekejap kemudian, Legawa ingat, setelah pemuda mati, aksi besar-besaran terjadi di seluruh negeri. Betapa pemuda itu menjadi pahlawan. Sungguh heroik. Ia ingin seperti itu.

            Namun, rasa takut makin memeluknya. Korek api dilihatnya. Dan kenekatannya padam.


Ia yang Menjelma Bunga Matahari - Penerbit Cahaya Harapan/Penerbit Andi Jogja


Buku kumpulan cerpen yang berisi 17 Cerpen yang pernah dimuat di media dan memiliki benang merah: Orang-orang desa dan orang terpinggirkan. Terbit pada awal 2025 di Penerbit Cahaya Harapan/Penerbit Andi Jogja.

Minggu, 16 Maret 2025

Buku-buku Membangun Peradaban di Kamarku


Dalam
 Norwegian Wood terbitan KPG Halaman 45, Haruki Murakami menuliskan, “Kalau kita membaca buku yang sama dengan yang dibaca orang lain, kita cuma bisa berpikir seperti orang lain.”

Kahlil Gibran adalah nama yang tak pernah tersebut di desaku pada awal 2000-an. Pun buku-bukunya. Tak pernah terpikirkan siapa dia di desa ini. Di abad 21 permulaan itu aku mendapat kesempatan setiap minggu sekali pergi ke Solo. Selain menyempatkan pergi ke toko kaset, juga aku pergi ke toko buku. Satu-satunya toko buku yang kukenal saat itu di Solo adalah Toko Buku Sekawan. Dan buku yang kubeli adalah karya Kahlil Gibran. Mulai saat itu, buku-buku membangun peradabannya di kamarku.

Di tahun 1997 aku mulai menulis, meski hanya untuk dikonsumsi sendiri. Dan mulai banyak membaca serta membeli buku di tahun 2000-an ketika sudah pulang ke desa di Bulukerto, Wonogiri setelah lulus dari sekolah di Solo. Itulah awal mulainya aku mencintai buku-buku.

Tahun berjalan, buku-buku semakin menambah penduduk baru di kamar. Maka kubelikan rak dari kios di dekat UNS. Setelah mulai jarang ke Solo, aku juga semakin jarang membeli buku. Dan kebetulan aku melihat di sebuah kios di Purwantoro, aku melihat toko buku. Maka minat bukuku kembali lagi. Beberapa buku-buku keagamaan aku membelinya dari kios kecil ini.

Ada niat yang muncul di otakku. Aku tak ingin mengkonsumsi sendiri buku-buku yang mulai kuberi label dan katalog. Pada teman-teman yang mengajar TPA (Taman Pendidikan Alquran), aku menginfokan beberapa buku. Tak semua teman antusias dengan buku-buku, hanya beberapa saja. Dan beberapa teman itu kemudian meminjam buku. Mereka tak mengambilnya di tempatku, tapi aku rela membawa buku kepada mereka. Sejak saat itu Perpustakaan pribadi yang kuberi nama “Pustaka Dan” berdiri. Motto perpustakaan ini adalah “Bila Ilmu Lebih Berharga”. Embrio taman baca ini belum dibuka untuk umum, masih di dalam kamar kecil dan sebagai teman saat sendirian di rumah. Pada era ini, karya puncak Kahlil Gibran, “Sang Nabi” terbeli. Buku fenomenal karya Fauzil Adhim, “Kado Pernikahan untuk Istriku” juga memperbanyak katalog meski saat itu jomblo menjadi status yang kusandang J . Tapi, buku tebal hard cover ini di kemudian hari menjadi buku paling laris dipinjam. Tahu kenapa? Hehe.

Tahun 2005 akhir, aku bergabung dengan FLP (Forum Lingkar Pena) Solo setelah setahun sebelumnya mencari informasi tentang komunitas menulis ini. Dan pelatihan menulis ke Solo seminggu sekali bersama FLP selama 3 bulan kujalani. Dari sini katalog bukuku semakin bertambah karena semakin banyak karya sastra yang kutahu. Kini belanja bukuku beralih ke Gramedia Slamet Riyadi, sebab buku terbaru dan lebih lengkap ada di sini. Setiap minggu aku belanja buku di sini. Ya, setiap minggu, dari hasil kerjaku membuka jasa pengetikan dan desain. Pada tahun-tahun ini, usaha jasa pengetikan meski di desa cukup untuk biayaku belanja buku. Belum banyak warga memiliki komputer, beda dengan saat ini.

Seri “Supernova” Dee cetakan awal kubeli pada tahun-tahun itu. Jauh sebelum semakin booming Supernova yang sekarang. Lima buku tebal seri Gajah Mada karya Langit Kresna Hariadi dalam waktu satu bulan juga mampu mengisi rak buku. Juga buku-buku lain dari berbagai karya penulis, Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Seno Gumira Ajidarma, dan juga berbagai karya non fiksi. Sedangkan novel tipis “Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta” karya Luis Sepulveda yang diterbitkan Marjin Kiri adalah buku yang tak sengaja aku beli. Di sebuah minggu di Solo, aku harus membeli buku, karena aku sudah memiliki niat tiap minggu harus beli buku. Tapi di minggu itu, aku tak tahu buku apa yang harus kubeli. Sebab aku merasa sudah membeli buku dari penulis-penulis yang kutahu dari FLP, Ayat-ayat Cinta – Habiburrahman Al Shirazy, Ronggeng Dukuh Paruk – Ahmad Tohari, juga Sang Alkemis – Paulo Coelho sudah kupunya. Tapi di minggu itu aku tak tahu harus beli buku apa. Dan mataku melihat sebuah buku tipis dengan judul yang bagiku menarik, “Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta”, maka tanpa pikir panjang kubeli juga buku itu. Dan ternyata aku menyukai kisah di buku itu.

Aku memastikan buku-buku yang membangun peradaban di kamarku itu adalah satu-satunya buku di desa ini. Paling tidak sebagian. Karena itu aku ingin berbagi bahan bacaan pada siapapun yang mau membaca. Kukabarkan kepada kawan-kawan tentang buku-buku itu. Satu per satu kawan meminjamnya. Tidak banyak memang. Tapi ada rasa bahagia ketika melihat ada yang mau membaca buku. Novel Gajah Mada, Ayat-Ayat Cinta, dan Kado Pernikahan untuk Istriku mulai ada yang membacanya.

Kabar tentang buku-buku ini mulai keluar desa. Ada yang dari luar desa meminjam sebuah buku. Tapi sayangnya, sampai sekarang sudah lebih dari sepuluh tahun, buku yang dipinjam tak pernah kembali. Kecewa? Pasti. Sedih? Tentu. Kejadian ini kemudian mengingatkanku akan pesan Gol A Gong ketika ngobrol FLP Solo bersama beliau di Solo, bahwa ketika kita berniat membuka taman baca, jangan takut buku hilang. Ya sudah, biarkan buku tak kembali, semoga itu bermanfaat baginya.

Gerilya literasi tak hanya sekadar itu yang kulakukan. Bersama kawan-kawan di TPA Arrahman, kami menerbitkan buletin Bil Haq yang terbit setiap bulan. Oplah paling banyak adalah 500 lembar buletin yang masuk ke sekolah-sekolah dan masjid-masjid. Buletin itu disebar oleh kawan-kawan sedesa yang masih sekolah atau kami sebar sendiri. Pernah buletin Bil Haq menerima tulisan dari kontributor dan kami beri honor sebuah buku.

Giat buku ini vakum ketika aku harus ke Solo di tahun 2010 hingga 2015. Pada tahun itu kegiatan literasiku di desa juga berhenti, meski buku bertambah karena ternyata istriku juga mengoleksi buku. Selama tahun itu aku tidak lagi membeli buku. Pada tahun 2013, buku-buku di serang rayap saat aku di Solo. Kerusakan parah diderita novel Supernova: Akar – Dee dan Ayat-ayat Cinta – Habiburrahman Al Shirazy. Beberapa buku lain juga mengalami kerusakan. Ini sangat menyakitkan, melebihi sakitnya buku dipinjam dan tidak kembali.

Kembali ke desa pada tahun 2015, aku kembali bersama buku. Beberapa buku kudisplay di Salo Reri, salon yang dikelola istriku di Kecamatan Puhpelem yang baru didirikannya, agar pelanggan salon setidaknya mengantri sambil membaca buku.

Aku tetap bergerilya membudayakan buku sendirian. Sebuah support datang dari kawan penulis di Solo, Mbak Indah Darmastuti, Tan Malaka juga sendiri, katanya. Ini melecut semangatku untuk terus membumikan buku di desa, meski sendirian. Sendirian juga bisa berjalan kok? Jadi kuputuskan untuk sendirian mulai membangun taman baca.

Ketika aku membaca koran Jawa Pos, aku membaca profil Mas Wahyudi Rumah Baca Sang Petualang bersama Ndok Dadar Pustaka. Pikirku, berarti di Wonogiri ini akses baca bisa dikembangkan, dibuktikan oleh seorang relawan tersebut yang kini desa tempat tinggalnya dikenal sebagai desa literasi. Segera aku cari akun Facebooknya dan ku add. Ternyata permintaan pertemanan di FB di ACC oleh beliau. Jadilah aku mengikuti kegiatannya seperti apa dan niatnya untuk menjadikan Wonogiri sebagai Kabupaten Literasi. Dan akhirnya aku bergabung dengan Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Wonogiri. Dari sini aku sudah tak lagi merasa sendirian. Dan di sini juga Teras Baca Salon Reri dengan tagline “Membaca itu Bahagia” diliput oleh Jawa Pos Radar Solo.

Sejak saat itu, taman baca yang pernah kurintis sejak awal 2000-an, kini menggeliat kembali. Branding perpustakaan pribadi Pustaka Dan kemudian kuubah menjadi Taman Baca Naturalitera, biar tak lagi sebagai perpustakaan pribadi. Tagline pun menjadai “Membudayakan membaca, membumikan buku”, harapannya biar membaca bisa menjadi budaya, setidaknya di desa ini, dan buku bisa diakses dan dijangkau banyak orang, tak lagi menjadi kebutuhan sekunder

Beberapa kawan dari luar daerah kemudian mendonasikan bukunya untuk taman baca ini. Buku-buku donasi dari kawan-kawan dari beberapa daerah datang. Seorang pegawai Perpustakaan Nasional juga pernah mendonasikan puluhan buku-buku. Pun seorang kawan penulis di Solo, Mas Yudi Herwibowo mendonasikan 3 kardus buku untuk taman baca ini. Sebuah penerbit di Sumatera Selatan juga pernah mendonasikan buku-buku terbitannya di taman baca ini. Beberapa buku di Taman Baca Naturalitera juga pernah didonasikan untuk taman baca lain.

Dalam usaha membumikan buku ini tetap saja ada kendala, misalnya kurangnya dana yang mengakibatkan taman baca ini tidak mempunyai rak buku. Jadi buku hanya diletakkan di teras rumah. Kendala lain adalah di desa ini hanya sendirian, tak ada relawan lain sehingga kegiatan-kegiatan dan ide yang mendorong tumbuhnya minat baca tidak bisa dieksekusi.

Buku-buku di Taman Baca Naturalitera memang belum banyak, tapi tetap misi membudayakan membaca dan membumikan buku terus tertanam di hidupku. Bagaimanapun juga pada awalnya, buku-buku telah membangun peradaban mereka dari kamarku.

Untuk kesekian kali taman baca yang kubangun berganti nama. Kini menjadi Taman Baca Fatiha sejak resmi bergabung dengan Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) dan mendapat nomor anggota. Sejak itu beberapa donasi buku beberapa kali datang. Dari Kang Maman Suherman dan dari toko buku Patjarmerah yang secara simbolis dibertikan oleh Raja Mangkunegara X. Terakhir bantuan dari Perpustakaan Nasional dengan seribu judul buku anak lengkap dengan rak buku.

Sampai saat ini buku-buku yang berawal membangun peradaban dari kamar itu sudah terbuka untuk umum. Masih kecil, tapi semoga terus menebar makna.


Dimuat di: https://disarpus.wonogirikab.go.id/buku-buku-membangun-peradaban-di-kamarku/

Membaca, Bercerita dan Menjadi Teman Bagi Anak

Membaca Buku di teras baca Salon Reri


Di sebuah sore menjelang senja, Reri – anak kami tiba-tiba bicara tentang aurora. Tapi aurora tersebut tidak bisa dilihat dari sini, katanya. Kami – ayah dan bundanya heran bagaimana anak usia 7 tahun bicara tentang aurora yang dari langit Indonesia tidak bisa dilihat. Aku bertanya darimana dia tahu tentang aurora. Reri menjawab, “Dari membaca buku.”

Membaca, adalah kuncinya. Kami bangga dengan pengetahuan yang dia tahu. Aku sebagai ayahnya memang tidak memaksa dia membaca buku. Tapi aku sering memperlihatkan padanya ketika sedang membaca buku. Meski sesekali bicara dan menyarankan dia membaca buku, tapi tentu tanpa memaksanya. Namun Reri selalu bilang, nggak suka membaca. Ia ingin bercita-cita menjadi pelukis.

Dalam hal membaca buku, Reri dengan terang bilang bahwa ia tidak suka membaca buku, akan tetapi karena di rumah banyak buku, ia kadang “tercyduk” sedang membaca buku. Beberapa waktu lalu ia minta untuk berpuasa sunnah Senin – Kamis. Ketika aku tanya darimana niatnya itu datang, ia menjawab dari buku Seri Adab Anak Islam “30 Cerita Islami Terpopuler Sepanjang Masa” karya Deasylawati dan Ungu Lianza. Akhirnya ia memulai puasa sunnahnya yang pertama kali.

Aku tidak memaksa ia membaca buku. Tapi di rumah, telah kusediakan banyak buku yang aman dan baik dibaca siapa saja, termasuk anak kami. Aku tidak melarang dia bilang bahwa ia tidak suka membaca buku, hanya karena ia sering melihat buku di rumah, akhirnya ia mau membaca buku. Dan dampaknya, wawasannya bertambah, ia tahu tentang aurora, tentang migrasi burung, kisah-kisah nabi dan ia juga bisa memulai puasa sunnah Senin – Kamis.

Aku juga membiarkan dia untuk berekspresi tentang apa yang diimajinasikannya. Aku selalu menuruti keinginannya ketika akan beranjak tidur malam selalu ingin dibacakan cerita. Buku tebal kisah 1001 malam, pernah kubacakan meski belum tamat. Beberapa kisah nabi dan cerita rakyat sudah dia tahu.

Ketika masa kanak-kanakku selalu dilarang untuk mengekspresikan keingintahuan, aku malah membebaskan Reri dengan segenap rasa penasarannya. Ketika masa kecilku disuruh diam ketika bertanya apa yang tak kutahu, aku berusaha mendengar dan mencari jawaban apa yang ditanyakan Reri. Ketika marah dan sikap kasar yang kuingat pada masa kanak-kanakku, aku memberikan kelembutan dan pelukan bagi Reri. Reri sering bertanya hal-hal yang di luar pikiran kami. Misal tentang bagaimana terciptanya pelangi, asal usul Allah dan kenapa Allah memberi masalah pada makhluk-Nya jika Allah Maha Baik? Pertanyaan-pertanyaan itu lepas dari prediksi kami bisa keluar dari pikiran Reri di usia 8 tahun. Tapi bagaimanapun harus kami cari jawabannya. Jika kami tidak bisa menjawab saat itu juga, kami memberi alasan pertanyaan itu dijadikan PR oleh kami.

Kami sebagai orang tua dari seorang anak memberi ruang yang luas untuknya bertanya, berbicara, mengkritik, berdiskusi dan bercanda bersama kami. Namun selali kami batasi dengan adab dan akhlak yang baik agar masih tercipta akal untuk menghormati dan menyayangi diantara kami.

Sering dari Reri kami banyak belajar bagaimana seharusnya memperlakukan dia. Sebab di saat aku seusia dia, ruang untuk mengungkapkan pendapat dan sejenisnya adalah tabu. Jika nekat mengatakan yang ingin kukatakan, maka bentakan dan kemarahan yang harus aku terima. Dan hatiku menciut. Aku tak ingin apa yang kualami di masa kecil dialami Reri. Jika aku tumbuh penuh ketakutan, aku ingin Reri tumbuh dengan berani dan bahagia dengan banyak kasih sayang, pelukan dan ruang untuknya berekspresi.

Putri Diana pernah berkata, “Sebuah pelukan bisa memberi banyak manfaat, terutama pada anak-anak.” Kami memberikan banyak pelukan untuk Reri daripada memarahi dan membuatnya merasa bersalah. Kami tak ingin Reri tumbuh dipenuhi rasa bersalah dan takut. Kami menghargai segala usaha yang dilakukan Reri. Meski di bidang akademik di sekolah, Reri belum pernah ranking 1, tapi kami selalu memberikan dia pelukan. Sebagai wujud penghargaan atas usahanya dalam belajar.

Ada yang menganggap sikap kami ini adalah sikap yang memanjakan Reri, kami tidak merasa begitu. Kami juga tak selalu mengabulkan apa yang diminta Reri dan memberitahunya bahwa apa yang kita pinta tak selamanya selalu terpenuhi. Aku hanya berkaca pada pengalaman masa kecilku bahwa sikap kasar, pukulan dan kemarahan yang paling aku ingat sampai sekarang. Dan itu membuatku selalu berpikir negatif dan penuh prasangka serta dendam. Aku tak ingin Reri mengalami perasaan serupa. Kami ingin Reri yang kini usianya menjelang 9 tahun memenuhi masa kanak-kanaknya dengan bahagia. Kami tidak tahu takdirnya di masa depan, tapi setidaknya bekal bahagia di saat sekarang menjadi modal sikap optimis Reri saat dewasa kelak.

Aku tak paham ilmu tentang parenting, aku hanya bercermin dari masa kecilku untuk mendidik Reri di saat sekarang. Membiarkan Reri dengan imajinasi dan mengeksplore banyak hal, tanpa memaksa dia sesuai keinginan kami, orang tuanya. Kata Khaled Hosseini, “Anak-anak bukanlah buku mewarnai. Anda tak dapat mewarnai mereka sesuka hati anda.”

Setiap manusia tentu memiliki jalan hidup masing-masing, tak terkecuali anak-anak. Meskipun anak-anak tersebut adalah anak kita, namun tidak berarti kita yang menentukan jalan hidup mereka. Cara terbaik dalam mendidik mereka bertumbuh adalah dengan membebaskan mereka menentukan jalan hidupnya masing-masing.

Aku tidak menganggap cara kami mendidik Reri adalah yang terbaik. Aku hanya merasa cara kami mendidiknya adalah yang paling pas untuk perkembangan Reri. Kami mendengar perasaan Reri hanya karena di saat aku seusia Reri, berbicara dan mengungkapkan keinginan hati adalah hal terlarang. Mungkin ini masalah zaman. Dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda: “Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian”.

Zaman sekarang disesaki dengan teknologi, tentu berbeda dengan masa lalu yang tak ada media sosial dan gawai seperti yang ada sekarang. Informasi saat ini sangat mudah diakses siapapun, termasuk anak-anak. Karenanya menemani mereka dan mengarahkan mereka kami rasa lebih baik daripada melarang dan memarahi mereka, sebab dengan melarang anak-anak dengan mematahkan rasa keingintahuan mereka malah akan membebani pikiran anak-anak.

Orang tua harus bisa menjadi teman bagi anak-anaknya. Orang tua yang ingin ditakuti anak-anaknya justru akan menjadikan anak melakukan hal-hal yang tidak baik secara diam-diam. Mereka enggan untuk berbagi hal yang dihadapinya dengan orang tua. Mereka akan lebih nyaman berbagi dengan teman-temannya. Jika teman-temannya baik, tidak menjadi masalah. Sebaliknya jika teman-temannya memberi solusi yang justru menjerumuskan mereka pada perbuatan yang tidak baik, ini yang akan menggurita menambah masalah baru.

Orang tua yang bisa berperan menjadi teman bagi anaknya akan membuat anak merasa aman dan nyaman berbagi masalah kepada orang tuanya. Beberapa kali Reri menceritakan kepada kami pengalaman-pengalamannya di sekolah, yang kadang lucu, membuat kami haru dan bangga.

Seringkali Reri enggan membuang sampah di sembarang tempat. Sampah yang sebenarnya harus dibuang dia simpan dahulu, jika ketemu tempat sampah, baru sampah itu dibuang. Atau jika terpaksa harus membuang sampah bukan pada tempatnya karena sampah itu basah dan akan membuat kotor sakunya, ia pasti akan mengucap Basmalah dan memohon ampun pada Tuhan karena membuang sampah sembarangan, dan sampah itu diletakkan dengan pelan. Kami belum mengajari dia membuang sampah harus pada tempat sampah, tapi dia sudah melakukannya.

Jika sudah begini, nilai akademiknya sudah dia kalahkan dengan adab dan akhlak baik yang dia miliki. Sebab dengan membaca, bercerita dan menjadi teman bagi anak akan membuat anak merasa aman dan nyaman.

***

Kini Reri sudah menginjak remaja, ia sudah menjadi siswi SMP. Apa yang menjadi kebiasaan beberapa tahun lalu Ketika SD ada yang sudah berubah.


Dimuat di: https://disarpus.wonogirikab.go.id/membaca-bercerita-dan-menjadi-teman-bagi-anak/

100 Tahun Pramoedya Ananta Toer: Membaca Pram, Membaca Nurani

 Mulai awal tahun 2006, aku selalu menyempatkan main ke Gramedia Solo dengan target tiap minggu harus beli buku. Biasanya sejak dari rumah, aku sudah merencanakan buku apa yang akan kubeli. Namun beberapa kali, aku tidak ada bayangan buku yang ada dibenak, tapi harus beli buku. Dan jika sudah begitu, selalu berkeliling di toko buku besar itu sambil memilih buku yang kuanggap cocok dan pas harganya sesuai isi dompet.

Pada Juli 2006. Berita-berita di koran dan TV mengabarkan bahwa sastrawan nominator nobel Pramoedya Ananta Toer meninggal dunia. Setelah itu buku karya Pram, sebuah biografi berjudul “Panggil Aku Kartini Saja” banyak diberitakan. Aku terpengaruh untuk membelinya. Maka, pada tanggal 27 Agustus 2006, aku membeli buku ini di Gramedia Solo.

Di buku setebal 304 halaman ini, Pram menulis R.A Kartini sebagai sosok yang tangguh, yang sendirian mendobrak tatanan kasta. Kartini yang seorang perempuan melawan kekuasaan penjajah Belanda, mendobrak dinding tebal kabupaten, berteriak dalam kesepian dalam pingitan, dan melawan semua tekanan sistem feodalisme di Jawa.

Pada halaman 93 buku tersebut, Pram menulis, sudah sejak awal orang mengenal Kartini bersikap pada lingkungan, terhadap tata hidup feodal. Ia lebih bersimpati pada rakyat jelata dan penderitaannya. Kepada kaum feodal, Kartini memproklamasikan bahwa makin tinggi kebangsawanan seseorang, makin berat tugas dan kewajibannya terhadap rakyat. Ini berarti Kartini ingin menyembuhkan tata hidup “feodalisme pribumi yang sakit” dan mengembalikan tugasnya seperti pada zaman sebelum jatuhnya Majapahit. Bila kebangsawanan itu tidak sanggup memikul tugas dan kewajiban itu, dia pun tidak berarti sesuatu pun, dan hanya merupakan beban belaka bagi masyarakat.

Pada buku biografi R.A. Kartini ini, Pramoedya Ananta Toer menggambarkan sosok Kartini dengan penuh daya pesona yang mampu membuat perbedaan dengan pengenalan serta penafsiran atas diri Kartini yang pernah ada.

Dari buku biografi Kartini, aku kemudian penasaran dengan karya lain sosok sastrawan ini. Sebulan kemudian pada 24 September 2006 di toko buku yang sama, saat itu, aku tertarik dengan judul dan desain cover yang klasik juga karya Pramoedya Ananta Toer. Aku ambil dan membayarnya di Kasir, sebuah novel “Midah, Simanis Bergigi Emas”.

Mengenal Pramoedya Ananta Toer dari novel Midah, Simanis Bergigi Emas. Karya sederhana, namun sebenarnya mengkritisi kehidupan pada masa itu, pada setting kisah di tahun 1950-an. Tentang perjalanan seorang gadis dari keluarga yang relijius dan terpandang, namun karena sebuah tekanan dan ketidakadilan di dalam rumah yang menjajah nuraninya, ia berkembang menjadi gadis yang berbeda, berani pergi dari rumah dan tenggelam di jalanan Jakarta yang terkenal ganas pada tahun itu. Ia tidak menyerah pada kehidupan yang dipilihnya, menjadi seorang penyanyi jalanan yang kemudian dikenal dengan sebutan “si manis bergigi emas”. Dalam keadaan hamil, ia terus bertarung dengan kehidupan dan moral yang keras. Kisah ini aku baca hingga dua kali sambil belajar menulis dari novel setebal 134 halaman ini.

“Bersama Mas Pram”, sebuah memoar tentang Pram yang ditulis oleh dua adiknya, Koesalah Soebagyo Toer dan Soesilo Toer. Buku ini aku beli di sebuah toko buku di sebuah kota di Jawa Timur pada 31 Januari 2017. Aku tertarik dengan harga yang ditawarkan, seharga buku obral di toko buku besar. Hanya 25.000 untuk buku setebal 504 halaman itu. Sesampainya di rumah ketika kubuka segel. Jilid bagian punggung buku tidak rata. Isi buku menggunakan kertas buram, foto-foto tidak jelas, banyak noda tinta. Baru aku sadar bahwa ternyata buku itu bajakan. Menyesal aku membelinya, sebab baru kali itu aku tahu wujud buku bajakan.

Tapi tetap saja aku baca.

Kisah perjalanan Pram melalui adiknya. Ia ternyata seorang pekerja keras. Menyekolahkan adik-adiknya setelah bapaknya yang seorang guru – kini disebut PNS – tiada. Pram yang seorang jurnalis mendidik adik-adiknya dengan keras hingga entah mengapa tiba-tiba dituduh sebagai salah satu bagian dari PKI pada 1965 karena menjadi anggota Lekra (Padahal, seperti dalam novel Tjap, karya Yuditeha, Lekra adalah organisasi tersendiri). Pram ditangkap. Juga adik-adiknya. Hidup Pram hampir sebagian besar dihabiskan dalam penjara

Pada memoar tentang Pram ini, ditulis sejak masa kecil Pram di Blora, kemudian di Semarang, Jakarta hingga pada tahun-tahun yang panjang sebagai tahanan politik di Pulau Buru, sampai dibebaskan dan meninggal dunia. Dari tahanan di Pulau Buru, geliat kepenulisan Pram tidaklah habis. Dari memoar ini, kita akan mengenal sosok Pramoedya lebih dalam dan membaca pikiran-pikiran Pram yang menjadi ketakutan pemerintah saat itu. Sayangnya, ini buku bajakan. Jangan beli buku bajakan, ya?

Buku Pram selanjutnya yang aku beli adalah “Cerita Calon Arang” sebuah dongeng klasik Indonesia yang kembali ditulis Pramoedya dengan gayanya. Buku ini kubeli di Toko Buku Diomedia Solo. Cerita Calon Arang gubahan Pramoedya Ananta Toer ini pernah diterbitkan di Spanyol dengan judul “ El Rei, La Bruixa I El Sacerdot” dan di Singapura dengan judul “The King, The Witch and The Priest”.

Aku semakin menyukai karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Apalagi di sebuah sekolah tempatku bekerja membeli buku-buku, salah satunya beberapa karya Pramoedya Ananta Toer. Diantaranya: “Jejak Langkah”, “Medan Prijaji”, “Sang Pemula”, “Gadis Pantai”, dan “Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer (Catatan Pulau Buru)”. Semua buku tersebut aku pinjam dan kubaca.

Pertama kubaca adalah Jejak Langkah. Salah satu tetralogi Pulau Buru. Kemudian Medan Prijaji, sebuah roman tentang jurnalis perintis media pertama di Indonesia. Lalu, Gadis Pantai, sebuah novel kritik sosial akan tidak manusiawinya para priyayi pada rakyat biasa. Kemudian Sang Pemula, sebuah naskah semacam biografi dari R.M. Tirto Adhi Soerjo, yang oleh pemerintah cukup dianugerahi jasa sebagai Perintis Pers Indonesia, bukan sebagai Pahlawan Kemerdekaan. Buku ini sebenarnya sangat bagus jika bukan bajakan, sebab foto-foto yang dimuat akan lebih jelas, tidak seperti buku bajakan yang foto-fotonya tidak jelas.

Terakhir kubaca Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer. Kisah-kisah yang jarang bahkan tidak dimunculkan dalam sejarah bangsa saat penjajahan Belanda dan Jepang. Kita jadi tahu derita tersembunyi dari perjuangan bangsa dalam memperoleh kemerdekaan.

Tentu masih ada karya Pramoedya yang lain yang fenomenal, seperti Bumi Manusia yang sempat dijadikan film, pun Anak Semua Bangsa.

Jika seandainya ada yang menyebutkan kalau belum membaca Bumi Manusia maka belum membaca Pram. Aku akui, aku mengenal Pram memang bukan dari Bumi Manusia, pun belum membaca novel bagus tersebut. Aku membaca Pram, karena membaca nurani kemanusiaan.

100 Tahun Pram tahun ini, buku Tetralogi Pulau Buru kembali terbit. Karya-karya Pramoedya tetap abadi. Seperti kalimat yang pernah diucapkannya, “Menulislah, karena tanpa menulis engkau akan hilang dari pusaran sejarah”.


Dimuat di: https://disarpus.wonogirikab.go.id/100-tahun-pramoedya-ananta-toer-membaca-pram-membaca-nurani/

Sejarah Keluarga Kerabat Singo Prono (Joyo Wilastro/Mantri Gedhong Praja Mangkunegara I)

          Dengan berkah serta perlindungan Allah yang Maha Esa dan Maha Murah dan Maha Adil serta Maha Kasih yang tanpa pilih kasih, termas...