Walaupun hanya dapat mewujudkan rangkaian sejarahyang masih sangat sederhana, namun dengan maksud supaya dapat untuk pegangan ahli waris (Himpunan Kerabat Besar Singoprono) yang pada akhirnya bisa membuat terang/jelas atau setidaknya tidak kehilangan jejak.
Oleh karena itu, pada tg 22 Maret 1972 para ahli waris mulai bergerak mengadakan pertemuan-pertemuan guna mengadakan musyawarah secukupnya membicarakan bagaumana caranya mencari dan mengumpulkan bahan bahan yang dapat digunakan untuk menyusun buku silsilah.
Hasil kesepakatan dari rembugan-rembugan tersebut kita para ahli waris bersama sama mencari dan mengingat-ingat rieayar serta berbagai usaha. Usaha-usaha tersebut diharapkan cukup untuk mengumpulkan keterangan, catatan, bukti-bukti dan sebagainya.
Sedangkan susunan bahan dapat dipilah seperti ini :
1. Dimulai dari Ingkong Sinuwun Kanjeng Prabu Brawijaya V Raja Majapahit sampai Ingkong Sinuwun Kanjeng Sultan Hadiasjoyo Raja Pajang.
2. Dilanjutkan dari Ingkong Sinuwun Kanjeng Sultan Hadiwijaya Raja Pajang sampai Eyang Singodirjo (yang disebut sebagai Jayo Wiasto, Singodiwiryo atau Mas Ngabei Wignyowijoyo yang dimakamkan di bukit Mengdeg, tepatnya di bagian teras dalam Astana Mengadeg, sebelah kanan pintu masuk makam KGPHP Mangkunagoro II & III.
3. Dilanjutkan lagi dari Eyang Singodirjo di Bukit Mengadeg sampai anak cucu.
Dengan berdasarkan ketiga induk bahan-bahan tersebut, selanjutnya dapat dilanjutkan lagi menurut keperluan masing-masing. Di sini perlu kita jelaskan beberapa hal : Contoh : perilaku yang baik, yang perlu kita teladani dan perlu dibuat cerita (kisah) yang perlu dipahami.
Sedangkan perilaku baik dianatarnya yaitu Kyai Demang Singiprono di Simo. Beliau punya wawasan (nasehat) yang dapat untuk pedoman hidup, yaitu :
1. Sing Sapa salah bakat seleh (Siapa yang bersalah akan menanggung akibatnya, atau keweleh)
2. Tindak candhala ika angedobake bebuden luhur (Tindakan buruk akan menjauhkan budi luhur)
3. Budi luhur lan asor iku guman tung ana ing tumindak ( Budi luhur atau jelek tergantung tindakan)
4. Dana driyah / budidarma marang sapadha-padha, nambahi luhuring budi (Memberi pertolongan kepada sesama manambah sifat budi luhur)
5. Welas asih marang sapadha-padha iku kalebu wajib. (Belas kasih terhadap sesama itu termasuk perilaku wajib)
Juga ada dengan pedhoman "Dasa Sila"
1. Berbakti kepada Allah yang Maha Esa.
2. Berbakti kepada utusannya Allah.
3. Serta berbakti kepada Penguasa Negeri.
4. Berbakti kepada tanah air.
5. Berbakti kepada orang tua.
6. Berbakti kepada saudara tua.
7. Berbakti kepada guru.
8. Berbakti kepada ajaran kebaikan.
9. Belas kasih kepada sesama.
10. Menghargai semua agama.
Dengan dasar seperti itu para kerabat menjadi akrab menurut kepercayaan masing masing. Serta ibadah masing-masing merendah kedekatan dan kebersamaan hidup bersama.
Setelah Kyai Demang Singoprono meninggal dunia maka kedudukan diserahkan kepada anak menantunya yaitu Raden Bagus Danupuro alias Demang Singoprono Alus di Simo Walen.
Kyai Singoprono Alus punya dua anak yaitu:
1. Singodirjo
2. Singodiwongso
Menurut kisah, pada jaman perang Kastasura dua anak tersebut masuk menjadi prajurit. Saat bedah Kraton Kartosura, karena serangan prajurit Tiong Hoa. Singodiwongso pulang sendirian. Ketika ditanya oleh ayahnya: "Dimana kakakmu"? Singodiwongso memberi jawab: "Tidak tahu, tadi saya tunggu agak lama tidak muncul" maka saya tinggal pulang, mungkin sudah tewas dalam peperangan”
Ternyata akhirnya diketahui bahwa Singodirjo selalu bersama dengan rombongan prajurit pengikut R.M. Said, sampai R.M. Said berhasil menjadi, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Mangkunagoro I.
Selanjutnya Eyang Singodirjo diberi pangkat Mantri Gedong Praja Mangkunagoro I dan diberi nama M. Ng. Singodiwiryo alias Jayo Wilastro yang juga disebut Mas Ngabel Wignyo Wijoyo. Bahkan waktu meninggal pun dimakamkan di Mengadeg, yaitu pada “teras dalam” Astono Mangkunagoro II & III.
Di samping itu diberi pangkat Mantri Gedong, juga diberi istri seorang bangsa Tiong Hoa asli dengan petunjuk sebagai berikut: “Singodirjo… kelak bila anakmu terlahir pria bisalah jadi Pamong Desa di wilayah Projo Mangkunagoron turun temurun, tapi bila terlahir wanita sak karepmu (terserah dirimu). Dan saya beri ijin turun temurun bisalah memilih menjadi Jawa atau menjadi Tiong Hoa.”
Mematuhi petunjuk tersebut baik ajaran, nasehat, ilmu, pengetahuan dan berkah dari para leluhur, R.Ng. Singodirjo / Wignyowijoyo mempunyai 3 anak yaitu:
1. R. Wukir. RDM. Secowacono Karang Anyar.
2. R. Suwiyah, RDM. Poncogutomo I. Jatisrono.
3. R. Ramet, belum ketemu riwayatnya.
Mematuhi nasehat dan petunjuk para leluhur, kenyataannya dapat cocok sesuai tanpa meleset. Mulai dari putra sehingga cucu wareng, selanjutnya turun-temurun mulai dari Eyang Singodirjo/Wignyowijoyo pada bekerja sebagai pamong desa di wilayah Praja Mangkunagaran.
Kecuali dipercaya sebagai pamong desa, juga dipercaya dibidang pertanian. Contohnya: Kebon kopi, soklat, juga hasil bumi dan lạin-lain. Dan diberi tanda surat kekancingan (Sertifikat) yg ditandatangani oleh Mangku Negara VI.
Di samping dipercaya sebagai Pamong Desa dan bidang pertanian, juga dipercaya menjaga Pasanggrahan di Bulukerto, serta yang lain-lain, dimana hasilnya termasuk kekayaan Praja Mangkunagaran.
Termasuk buyut Ki Singodirjo yang bernama Mas Ngabehi Ronggo Taruwirono masih berlangsung tetap setor uang pajeg dan hasil bumi kepada Praja Mangkunagara. Begitu juga R. Demang / Mantri Gunung Jatisrono yang bernama R. Poncosugriwo diijinkan membuat jalan raya Jatisrono - Wonogiri. Dengan gotong royong dengan tanda isyarat membunyikan meriam.
Jalan hidup seperti ini menyebabkan krabat/keluarga para pini sepuh mulai wareng hingga putra pada dimakamkan di Desa Bendo, Janggan, Bulukerto. Istri dan anak kumpul jadi satu Desa. Hal ini bisa dibuktikan hingga sekarang. Oleh karena itu para kerabat semua pada tumbuh rasa persaudaraannya.
Demikianlah keterangan-keterangan secukupnya, semoga saged untuk pegangan para waris kerabat ageng (keluarga besar) Singoprono. melalui kedua anaknya Seco Wacono dan Ponco Gutomo yang masih ada hingga saat ini.
*Dikutip dari Buku Silsilah Himpunan Kerabat Besar Singoprono II Aloes
.jpeg)