Selasa, 03 November 2026

BEBERAPA CATATAN TENTANG PARA LELUHURKU

Untuk mendapatkan gamabran yang lebih jelas tentang para Leluhur kita, berangkali ada baiknya apabila diutarakan secara ringkas, sejarah aataupun riwayat mulai dari asal sumber yang menurunkan para Leluhur. Apabila didalam uraian ini banyak dikemukakan hal-hal yang berkaitan dengan Kraton, sama sekali bukan dimaksudkan untuk menonjolkan strata dan status kebangsawanan dengan lika-liku gelarnya, akan tetapi justru sebaliknya. Didalam uraian berikutnya akan tampak secara jelas langsung maupun tak langsung, betapa para Leluhur kita lebih suka memilih menetap berbaur dengan masyarakat di pelosok pedesaan, tanpa menonjolkan predikat kebangsawanannya. Kesemuanya itu didorong oleh motivasi keyakinan akan kebenaran cita-cita perjuangan para Nenek-Moyang serta kecintaannya terhadap lingkungan hidupnya, konsisten dengan tujuan hidup masyarakat Jawa yakni tercapainya keselarasan yang serasi dengan alam semesta seisinya. 

Untuk mengawali uraian ini, maka mau tidak mau harus dimulai dari zaman Kartosuro, nama Kartosuro ini dimulai pada masa pemerintahan Amangkurat II /Amangkurat Amral, cucu Sultan Agung, memindahkan ibu-kota ke Wonokerto dan kerajaan Mataram diubah namanya menjadi Kartosuro Hadiningrat. Dan sebagaimana kita ketahui bahwa sumber asal para Leluhur kita berawal dari B.P.H. Mangkunagoro (Kartosuro). 

B.P.H. Mangkunagoro: adalah putra sulung Amangkurat IV (Amangkurat Mas/Jawi) dari istri R.Ay. Kulon (berasan dari Semboyan). Selain Pangeran Mangkunagoro, para putra Amangkurat IV yang terkenal adalah : 1. Sri Sunan Paku Buwono II, putra ke-10 dari Permaisuri G.K.R. Kencana (dari Kudus); 2. B.P.H. Hadiwijoyo (seda Kaliabu), putra ke-18 dari istri R. Pandansari; dan 3. B.P.H Mangkubumi, putra ke-21 dari istri R.Ay. Tejowati Keempat Pangeran tsb, masing-masing mempunyai kelebihan sendiri; B.P.H. Mangkunagoro ahli dibidang Ketata Negaraan dan Agama serta Kejiwaan. Karena mencemaskan hubungan Kraton dengan Kompeni Belanda, maka beliau sering mengasingkan diri meninggalkan Ibu-kota Kerajaan, untuk bermeditasi. Tindakannya ini menimbulkan kesalah-pahaman pihak kerajaan dan beliau dituduh akan makar; karena merasa terasing, pindah bermukim di daerah asal Ibunya di Semboyan. Dengan bantuan Kompeni Belanda, akhirnya beliau ditangkap dan diasingkan ke Ceylon (sekarang Srilanka), diikuti beberapa kerabat. 

B.P.H. Mangkunagoro antara lain berputra: 1. R.M. Said, setelah dewasa bernama R.M. Suryokusumo (dan kemudian menjadi K.G.P.A.A. Mangku Nagoro I); 2. Panembahan Potrokusumo (ketika muda bernama R.M. Ambiya); yang mengikuti jejak ayahandanya dibidang Spiritual, sehingga menanggalkan gelar kebangsawanannya dan bermukim diwilayah Wonogiri; oleh para pengikutnya digelari Panembahan. Beliau bersama adiknya (R.M. Sabar), kelak membantu perjuangan R.M. Said (Pangeran Sambernyowo). 

R.M. Said (yang ahli dibidang Militer dan Pemerintahan) semula mengabdikan diri di Kartusuro, namun intrik dan finah Patih Pringgoloyo, beliau berontak. R.M. Said, menyatakan dirinya tidak lagi bersedia mengakui kedaulatan Kartosuro, meloloskan diri beserta seluruh keluarga dan kerabatnya. Tekadnya makin bulat untuk mengusir Kompeni Belanda dari bumi Mataram. Dari markasnya bermula di desa Nglaroh, dan kemudian berpindah-pindah, dilancarkanlah peperangan melawan Belanda dan pasukan Kartosuro di medan tempur mulai dari Wonogiri, Ponorogo, Madium, Nambangan, Sragen, Cepu, Bojanegoro hingga Grobogan bahkan Kedu Bagelen hinggan Banyumas. (Secara lengkap dapat dibaca dalam Sejarah, babad Salatiga, Babad Panambangan dslb.) Tekad perjuangan waktu itu diikrarkan: “TIJI TIBEH”, artinya : mati sijih mati kabeh, dan mukti siji mukti kabeh. 

Selama perjuangannya, pernah bergabung dengan Pangeran Mangkubumi (Pamannya), dan kawin dengan salah seorang putri Mangkubumen. Ketika Pangeran Mangkubumi dinobatkan sebagai Sinuhun Mangkubumi (Sinuhun Sukowati) beliau diangkat menjadi Patih dengan gelar dan nama K.G.P.A. Mangku Nagoro. Selama itu beliau beserta kerabatnya lebih banyak bermukim di sekitar Madiun, Ponorogo dan Wonogiri, karena itulah mempunyai hubungan erat kekerabatan dengan pemuka masyarakat setempat. Sebelum menjadi menantu B.P.H. Mangkubumi, beliau menikah dengan putri seorang Ulama: Kyai Nuriman, perkawinannya ini berputra seorang putri bernama R.Aj. Sombrong. 

Perlu diketahui bahwa menjelang perjanjian Giyanti (desa Pagiyanti), R.M. Said memisahkan diri dari pasukan Mangkubumen, dan meneruskan perlawanan terhadap Belanda. Hal ini disebabkan beliau sangat kecewa karena Mataram dipecah menjadi 2 (dua) wilayah Kerajaan; dan tidak urung akan kian mudah dilindas Belanda. Kekecewaannya itu pernah disampaikan kepada kerabat dekatnya dan sekaligus juga salah seorang penasehatnya, yakni Tumenggung Kudonowarso. 

Sejak itu kian bulat dan mantaplah tekadnya, untuk tidak pulang kembali ke Mataram sebelum: 1. Belanda terusir dari bumi Mataram dan 2. Sebelum dapat mempersatukan para birokrat dan tokoh Mataram untuk membangun kembali Wilayah dan bangsanya. Ketika pada tahun 1757, beliau dipanggil kembali oleh Sri Sunan Paku Buwono III (adik sepupunya), untuk pulang kembali ke Surakarta Hadiningrat, dengan sangat berat hati terpaksa dipenuhinya, dengan syarat : 1. Bekas Rumah kediaman Patih Sindurejo, diminta untuk menjadi tempat tinggalnya (kompleks Puro Mangkunagaran sekarang). 2. Gelar dan Nama K.G.P.A. tetap diminta untuk dipakai. 3. Seluruh wilayah yang didudukinya tetap menjadi wilayah kekuasaannya. Dengan dasar perjanjuan Salatiga maka, seluruh tuntutannya dipenuhi dan beliau, dinobatkan sebagai seorang Pangeran Adipati dan sekaligus Senopati Surakarta Hadiningrat. 

Inilah kesemua ringkasnya, dan selanjutnya menjadi lebih jelas bagi kita, mengapa para “Tedak Turunnya” (mulai dari Eyang Harjoreksoko), dinikahkan dengan para pemuka dan kerabat dari bekas basis wilayah pejuangan Pangeran Sambernyowo. Wilayah tersebut meliputi Purwantoro, Jatsrono di Wonogiri dan Badegan, Sumoroto di Ponorogo serta wilayah Madiun. Jejak Pangeran Sambernyowo ini diikuti oleh adiknya yakni Panembahan Potrokusumo. Dua alur waris bersaudara itu, atas kehendak Tuhan YME akhirnya dipersatukan/dipertautkan kembali pada turunan VI – V, yakni perkawinan antara Eyang Juminah dengan Eyang Poncodikromo. Demikian dari generasi hingga kita sekalian yang pada akhirnya telah menyebar ke seluruh pelosok Nusantara tercinta. 

Mengapa Eyang-eyang itu lebih memilih tinggal dan hidup dipelosok pedesaan (menurut ukuran pada zaman itu) daripada menetap dan menikmati hidup di Kotaraja ? Sebagai keturunan ningrat, beliau-beliau tanpa banyak kesulitan, tentu bisa mencapai tingkat kedudukan yang baik dan mendapatkan tempat tinggal yang lebih nyaman dipusat pusat pemerintahan, tetapi tidak pula dilakukannya, mengapa ? Inilah hikmah salah satu warisan beliau yang patut kita syukuri. Jelas disini betapa tajamnya para Eyang kita menalari, menghayati serta melaksanakan secara konsekuen, segala yang tersurat serta tersirat didalam wasiat Leluhur terdahulu. 

Jika dianalisis dalam relevansinya dengan cara berpikir dewasa ini, maka kurang lebih adalah sebagai berikut: 

 1. Para Eyang merasa mengemban amanat cita-cita luhur dari Leluhur yang belum sempat terselesaikan, yakni terusirnya penjajah dan persatuan bangsa serta pembagunan Tanah Air seisinya, dengan kekuatan diri sendiri berasaskan jati diri manusia Jawa. Percaya akan diri sendiri dilandasi iman yang kokoh, memang merupakan kekuatan yang tak kenal surut. Faham akan kewajiban. 

 2. Untuk mencapai itu kesemuanya, makna falsafah “kumpule balung pisah” tidak diartikan mutlak harus bermukim disatu tempat dan menjalin kekerabatan dalam arti sempit, justru harus bersedia menyebar berbaur dalam masyarakat yang lebih luas. (seperti fasafah pohon pisang; jika ingin pohon dan buah yang subur, anakannya harus dipisah dari rumpun induknya). Bukankah ini relevan dengan konsep transmigrasi swakarsa? Disamping itu dalam kaitannya dengan perjuangan mengusir penjajah, tiada lain adalah pemekaran pengaruh dan pemerataan kekuatan untuk memecah kekuatan lwan. 

 3. Bersedia menjadi pelopor didalam membangun serta mengembangkan tempat yang baru karena disitulah sumber penghidupan bersama anak-cucu bersama masyarakatnya dan menjadi pangkalan perjuangan kelak. Membaur bukan berarti menanggalkan jati diri, akan tetapi justru terjadi pengayaan wawasan dan budaya, kebhinekaan kian beragam corak warnanya, sedangkan kesatuan dan hakekat keyakinan akan cita-cita luhur kian meluas, mendalam dan mantap. 

 4. Daerah/Wilayah sebagai basis penopang suksesnya perjuangan tidak mungkin dilupakan dan diabaikan; Pusat dengan Daerah (Pelosok) bisa dibedakan tetapi tidak mungkin dipisahkan. Bukankah ini konsep Sentralisasi dan desentralisasi yang dimulai aplikasinya dari kerabat sendiri? 

 5. Secara tak langsung menanamkan kesadaran berbangsa dan bernegara (falsafah kebangsaan) kepada masyarakat daerah pelosok tanpa kesan menggurui. Itulah sebabnya para Eyang putri banyak yang dinikahkan dengan Lurah, Demang dan bukan dengan Wedana atau Bupati (yang sebagian telah terbius bujuk rayu Belanda). Lurah dan Demang bukan saja Pamong rakyat, akan tetapi pemuka yang faham benar serta tak terpisahkan dari masyarakat serta wilayahnya. 

Kini kita lebih paham, mengapa Eyang Malang Wibowo, Eyang Poncosasmito dan Eyang Poncodikromo lebih suka dan krasan menetap dipelosok, hingga diakhir hayatnya jasadnya tenteram disemayamkan di Pemakaman Gunung Cilik Badegan Ponorogo. Disamping itu masih terdapat pula Pekerjaan Rumah untuk kita yakni menelusuri kembali dan mencatat: Siapa suami Eyang-eyang putri kita itu (dalam sisilah tampak jelas bahwa keturunan Leluhur kita lebih dominan putri daripada prianya), dari mana pula asal-usulnya. Misalnya: Siapa Eyang Harjoreksoko Kakung, dan Eyang Malang Wibowo Kakung itu? Atau siapakah Besan Eyang-eyang itu? Dari beberapa sumber yang patut dipercaya, salah seorang Besan Eyang Malang Wibowo, yaitu "Eyang Joyodirono" sekaliyan, dimakamkan di "Gunung Bungkus" letaknya ± 12 km dari Makam Gunung Cilik. 

Kini kesemuanya terserah kepada kita, akan mampukah kita mewujudkan harapan serta dambaan para Leluhur. Dengan keutuhan keakraban Paguyuban Kekerabatan kita yang bukan bersifat eksklusif, tetapi justru memadu kehendak mulya, yakin pasti kita mampu. Semoga Tuhan YME senantiasa melimpahkan Rahmat dan hidayahnya kepada kita sekalian. Amien.

TINJAUAN PADA JALUR ASAL-USUL PARA LELUHURKU DARI PIHAK EYANG KAKUNG

I. PANEMBAHAN POTROKUSUMO ; adalah juga salah seorang putra B.P.H. MANGKUNAGORO Kartosuro (saudara seayah lain ibu dengan R.M. SAID (Pangeran Sambernyowo) yang kemudian menjadi K.G.P.A.A. MANGKU NAGORO I. Panehmabahan Potrokusumo, rupa-rupanya mengikuti jejak ayahandanya yang lebih mengutamakan “olah kejiwaan dan keagamaan” (kebatinan/spiritual), sehingga lebih suka menganggalkan gelar kebangsawanannya; para pengikutnya menyebutnya Panembahan. Sedangkan saudaranya, R.M. Said lebih mengutamakan dibidang “olah Kanuragan”. Panembahan POTROKUSUMO berputra 3 (tiga) orang, sebagai berikut : 1. R.Ay. MALANG SEMERANG ; Demang di desa Tempuran, Kismantoro Purwantoro. 2. R.Ay. PONCODIWIRYO (RONGGO SUGOTO) Purwantoro Wonogiri. 3. R.Ay. PANEWU Wonogiri 

II. R.Ay. PONCODIWIRYO (RONGGO SUGOTO) berputra 3 (tiga) orang : 1. R.Ay. RONGGO TARUKARTIKO Sengon Bulukerto 2. R.Ay. MALANG WIBOWO Demang di desa Sambijajar, Jatisrono Wonogiri (dimakankan di Badegan Sumoroto, Ponorogo). 3. Nama serta domisilinya secara jelas tidak diketahui 

III. R.Ay. MALANG WIBOWO berputra 6 (enam) orang : 1. R. HATMODIWIRYO Petinggi Ngendran Jatisrono Wonogiri 2. R.Ngt. PONCOWIGUNO Demang di Doho GIrimarto 3. R.Ng. PONCOPRAYITNO Demang di desa Bendo Bulukerto 4. R.Ng. PONCOSASMITO Demang di Tawang Jatisrono Wonogiri, tetapi kemudian 5. R.Ng. MARTODIRONO 6. R.Ngt. TIRTODIRONO meletakkan jabatan dan pangkat Demangnya, dan selanjutnya menjadi “Lurah Kepolo” di Badegan, Ponorogo. Merdikan ****) di Badegan Petinggi di desa Tanjungsari Jatisrono Wonogiri. 

IV. R.Ng. PONCOSASMITO berputra 5 (lima) orang : 1. R. PONCOLAKSONO Lurah desa Karangwaluh 2. R. REKSOSAMITO 3. R.Ng. PONCODIKROMO 4. R. JOYODIKROMO 5. R. KARTODIKROMO Badegan Lurah di Badegan Ponorogo Lurah di Badegan Ponorogo Badegan Ponorogo 

Selanjutnya R.Ng. PONCODIKROMO (cucu MALANG WIBAWAN) menikah dengan R. Aj. JUMINAH (cucu SURYONEGARAN), menurut jalur garis keturunan dari B.P.H. MANGKUNAGORO Kartosuro, masing-masing adalah turun ke V (Wareng) dan turun ke VI (Udeg-udeg); jadi “Paman” menikahi “Kemenakan” (periksa halaman 2 dan bagan silsilah).*****) Setelah berputra 2 (dua) orang, Eyang Poncodikromo menikah lagi dengan putri Cina (Tiongkok). Dari kedua perkawinannya, beliau dikaruniai putra 14 (empat belas) orang, masing-masing dari Eyang Juminah (sembilan) orang dan dari Eyang Nyonyah* 5 (lima) orang putra. 

Keterangan : * ** *** **** 

Berdasarkan ketentuan Projo Kadipaten Mangkunagaran, seseorang calon atau pengganti Mangku Nagoro, sebelum berusia 40 tahun (berdasarkan perhitungan tarikh Jawa), belum diperkenankan menggunakan gelar dan sesebutan Mangku Nagoro. Gelar dan sesebutannya adalah : Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Prabu Prangwadono (tempat tinggal beliau juga bukan di Dalem, tetapi di bagian barat Puro Mangkunagaran yang disebut Prangwadanan). Adapun gelar dan sesebutan Mangku Nagoro selengkapnya adalah : Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Nagoro Senopati Surakarta Hadiningrat.

Didalam Naskah Bapak Gunawan Alm. Tertulis B.R.M. SLAMET; telah dicocokkan dengan “Serat Asal-Silah lan Sujawarah para Noto Tanah Jawa” dan “Het Triwindu-Gedenkbuk Mangku Nagoro VII”, dan yang benar adalah Raden Mas Sulomo (Para putra Mangkunagaran baru mulai menggunakan sebutan Bandoro Raden Mas, pada masa M.N. III). 

Didalam naskah Bapak Gunawan Alm. Tertulis Ngabehi; Ngabehi adalah bukan pangkat atau jabatan, akan tetapi sesebutan atau gelar yang diberikan kepada seorang “Penewu = Pejabat yang membawahi 1000 orang bawahan” atau kepada seseorang Pejabat (di daerah) yang dianugrahi tanah (bengkok) seluas 1000 karyo. Sebagai contoh: Eyang R.Ng. PONCODIKROMO, lurah di Badegan, karena keturunan Priyayi (Wareng) atau karena jasanya, rupa-rupanya juga mendapatkan bengkok seluas 1000 karyo, karena itu bergelar Ngabehi. (Di daerah-daerah, banyak pejabat yang sebutannya disesuaikan dengan bawahan atau bengkoknya: Kliwon = 2000 (kalih ewon); Penatus = 100; Paneket = 50; Penglawe = 25 biasanya Kebayan). Sebagai informasi, di Jawa Timur khususnya di daerah Madiun, karena “salah-kaprah”, sebutan Ngabehi ini sering dianggap gelar turun-temurun, sehingga anak – cucu – hingga cicit ikut menggunakannya. 

Sangat boleh jadi yang dimaksud adalah “Kepala Perdikan” (Daerah yang dibebaskan dari segala pajak). Tetapi mungkin juga seperti yang diwilayah Kasultanan Jogja, seseorang yang tidak mengabdi pada Raja/Gupermen juga disebut “Merdikan” (mirip arti swasta, tetapi bukan wiswasta). Umumnya hidup semata-mata dari hasil kekayaan pribadi. ***** 

Didalam lingkungan masyarakat Jawa, sistem hubungan kekerabatan tersusun dan mempunyai nama/sebutan hingga 10 tingkat: I. Anak. VI. Udeg-udeg. II. Cucu (Putu/Wayah). VII. Gantung Siwur III. Cicit (Buyut). VIII. Gropak Senthe. IV. Canggah. IX. Debog Bosok. V. Wareng. X. Galih Asem ****** 

Kolom kedua ini kelak dapat diubah, diperlebar atau dikembangkan menjadi anak-lampiran bila data telah dapat dihimpun dengan lebih lengkap. Bahkan untuk lebih memudahkan didalam mencari alur hubungan waris, bila perlu dapat disertai dengan “Nomor Urut Jalur Keturunan”. (Semacam Nomor Kode Jati Diri didalam lingkungan kekerabatan). 

Arti singkatan SI.S.K.S. : SampeyanDalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan/Sultan KGPAA : Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Ario KGPA : Kangjeng Gusti Pangeran Ario KPH : Kangjeng Pangeran Haryo (Pangeran Sentono) BPH : Bandoro Kangjeng Pangeran (Pangeran Putro) GKR : Gusti Kangjeng Ratu GRA : Gusti Raden Ayu/Ajeng BRM : Bandoro Raden Mas RMH : Raden Mas Haryo RM : Raden Mas RAy : Raden Ayu RAj : Raden Ajeng RNg : Raden Ngabehi RNgt : Raden Nganten RRr : Raden Rara R : Rade M : Mas Rr : Mas Rara

RISALAH TENTANG ASAL-USUL DAN GARIS KETURUNAN PARA LELUHURKU UNTUK MUDAH DAN SINGKATNYA DIAWALI DARI MANGKU NAGORO PERTAMA TINJAUAN TERHADAP JALUR ASAL-USUL PARA LELUHUR DARI PIHAK EYANG PUTRI I. II. III.

K.G.P.A.A. MANGKU NAGORO I (Pangeran SAMBERNYOWO) di Surakarta Hadiningrat, ketika muda bernama R.M. SAID, dilahirkan di Kartosuro pada tanggal 7 April 1726; beliau adalah putra B.P.H. Mangkunagoro (putra sulung S.I.S.K.S.. Amangkurat IV/Jawi di Kartosuro). Setelah dewasa bernama R.M. SURYOKUSUMO. Dinobatkan menjadi K.G.P.A.A. Mangku Nagoro I pada tanggal 24 Februari 1757 dan wafat pada tanggal 28 Desember 1795. Beliai menjadi menantu B.P.H. Mangkubumi (yang kelak setelah bertahta bergelar: Ng. D.S.D.I.S.K.S.. Hamengku Buwono I), dinikahkan dengan R. Aj. Galuh atau R. Aj. Inten, selanjutnya bernama G.K. Ratu Bendoro. Dari pernikahannya ini, berputra 3 (tiga) orang sebagai berikut: 1. Kangjeng Ratu Angger 2. Kangjeng Ratu Sasi 3. Bandoro Raden Mas Hamijoyo (Prabu Hamijoyo) 

B.R.M. PRABU HAMIJOYO ; setelah dewasa diangkat menjadi Pangeran dengan gelar dan nama Kangjeng Pangeran Haryo Prabu Prangwadono *) Beliau menikah dengan salah satu seorang putri Almarhum S.I.S.K.S.. Paku Buwono II; perkawinan tsb terjadi dimasa pemerintahan S.I.S.K.S.. Paku Buwono III. Dari perkawinannya ini berputra Bandoro Raden Mas Sulomo **) K.P.H. Prabu Prangwadono, wafat menahului ayahandanya (Mangku Nagoro I), dan belum sampai dinobatkan menjadi Kangjeng Gusti. 

B.R.M. SULOMO ; dilahirkan di Surakarta pada tanggal 4 Januari 1768. Pada usia 28 tahun ditetapkan sebagai penggantu kakeknya, menjadi MANGKU NAGORO II (tgl. 25 Januari 1796). Selanjutnya menjadi menantu S.I.S.K.S.. Paku Buwono III ini, hanya dilahirkan seorang putri, yang pada dewasanya dinikahkan putra DANUREJAN; yakni Kangjeng Pangeran KOLONEL (?) dari Surakarta. Sebelum menjadi K.G.P.A. Prabu Prangwadono, beliau terlebih dulu telah menikah dengan putri B.R.M. Haryo Warih Kusumo dari Keparen Surakarta; dari perkawinannya dianugerahi 2 (dua) orang putra : 1. Kangjeng Pangeran Haryo SURYONAGORO 2. B.R.M. Haryo BROJONOTO (Letnan Kolonel Legiun Mangkunagaran). IV. 

KANGJENG PANGERAN HARYO SURYONAGORO ; berputra 3 (tiga) orang (dua orang putri dan seorang pria) sebagai berikut : 1. R.Ay. PONCOWINOTO Wedono di Jatisrono (Daerah Wonogiri) 2. R.Ay. HARJOREKSOKO 3. R.Ng. HARJOWACONO Abdidalem Panewu ***) Mangkunagaran. Abdidalem Panewu ***) Mangunagaran. V. 

R.Ay. HARJOREKSOKO berputra 3 (tiga) orang putri kesemuanya : 1. R.Ay. JUMINAH 2. R.Ay. JUMINEM 3. R.Ay. JUMIRAH VI. dan (wafat ketika masih kanak-kanak). 

R.Ay. JUMINAH setelah dewasa dinikahkan dengan R.Ng. PONCODIKROMO lurah di Badegan Ponorogo yang sebelumnya bernama R.Ng. SASMITOWIJOYO (cucu R.Ay. MALANG WIBOWO). Ditinjau dari hubungan alur waris bila dihitung sejak dari B.P.H. MANGKUNAGORO Kartosuro, maka : R.Ay. JUMINAH adalah turun ke VI (Udeg-udeg); sedangkan R.Ng. PONCODIKROMO adalah turunan V (Wareng). Dengan demikian dalam hubungan waris adalah “Kemenakan” dengan “Paman” (periksa halaman 3 dan bagan Silsilah). *****) 

Selasa, 18 November 2025

Sejarah Keluarga Kerabat Singo Prono (Joyo Wilastro/Mantri Gedhong Praja Mangkunegara I)

        Dengan berkah serta perlindungan Allah yang Maha Esa dan Maha Murah dan Maha Adil serta Maha Kasih yang tanpa pilih kasih, termasuk kasih-Nya kepada kita para ahli waris keluarga besar Singoprono yang sudah berhasil menyatukan tekad menyusun lembaran-lembaran petunjuk tentang alur para ahli waris yang berkaitan dan saling bertalian.  
          Walaupun hanya dapat mewujudkan rangkaian sejarahyang masih sangat sederhana, namun dengan maksud supaya dapat untuk pegangan ahli waris (Himpunan Kerabat Besar Singoprono) yang pada akhirnya bisa membuat terang/jelas atau setidaknya tidak kehilangan jejak. 
        Oleh karena itu, pada tg 22 Maret 1972 para ahli waris mulai bergerak mengadakan pertemuan-pertemuan guna mengadakan musyawarah secukupnya membicarakan bagaumana caranya mencari dan mengumpulkan bahan bahan yang dapat digunakan untuk menyusun buku silsilah. 
        Hasil kesepakatan dari rembugan-rembugan tersebut kita para ahli waris bersama sama mencari dan mengingat-ingat rieayar serta berbagai usaha. Usaha-usaha tersebut diharapkan cukup untuk mengumpulkan keterangan, catatan, bukti-bukti dan sebagainya. 
        Sedangkan susunan bahan dapat dipilah seperti ini : 
1. Dimulai dari Ingkong Sinuwun Kanjeng Prabu Brawijaya V Raja Majapahit sampai Ingkong Sinuwun Kanjeng Sultan Hadiasjoyo Raja Pajang. 
2. Dilanjutkan dari Ingkong Sinuwun Kanjeng Sultan Hadiwijaya Raja Pajang sampai Eyang Singodirjo (yang disebut sebagai Jayo Wiasto, Singodiwiryo atau Mas Ngabei Wignyowijoyo yang dimakamkan di bukit Mengdeg, tepatnya di bagian teras dalam Astana Mengadeg, sebelah kanan pintu masuk makam KGPHP Mangkunagoro II & III. 
3. Dilanjutkan lagi dari Eyang Singodirjo di Bukit Mengadeg sampai anak cucu. 
        Dengan berdasarkan ketiga induk bahan-bahan tersebut, selanjutnya dapat dilanjutkan lagi menurut keperluan masing-masing. Di sini perlu kita jelaskan beberapa hal : Contoh : perilaku yang baik, yang perlu kita teladani dan perlu dibuat cerita (kisah) yang perlu dipahami. 
     Sedangkan perilaku baik dianatarnya yaitu Kyai Demang Singiprono di Simo. Beliau punya wawasan (nasehat) yang dapat untuk pedoman hidup, yaitu : 
1. Sing Sapa salah bakat seleh (Siapa yang bersalah akan menanggung akibatnya, atau keweleh) 
2. Tindak candhala ika angedobake bebuden luhur (Tindakan buruk akan menjauhkan budi luhur) 
3. Budi luhur lan asor iku guman tung ana ing tumindak ( Budi luhur atau jelek tergantung tindakan) 
4. Dana driyah / budidarma marang sapadha-padha, nambahi luhuring budi (Memberi pertolongan kepada sesama manambah sifat budi luhur) 
5. Welas asih marang sapadha-padha iku kalebu wajib. (Belas kasih terhadap sesama itu termasuk perilaku wajib) 
        Juga ada dengan pedhoman "Dasa Sila" 
1. Berbakti kepada Allah yang Maha Esa. 
2. Berbakti kepada utusannya Allah. 
3. Serta berbakti kepada Penguasa Negeri. 
4. ⁠Berbakti kepada tanah air. 
5. Berbakti kepada orang tua. 
6. Berbakti kepada saudara tua. 
7. Berbakti kepada guru. 
8. Berbakti kepada ajaran kebaikan. 
9. Belas kasih kepada sesama. 
10. Menghargai semua agama. 
        Dengan dasar seperti itu para kerabat menjadi akrab menurut kepercayaan masing masing. Serta ibadah masing-masing merendah kedekatan dan kebersamaan hidup bersama. 
      Setelah Kyai Demang Singoprono meninggal dunia maka kedudukan diserahkan kepada anak menantunya yaitu Raden Bagus Danupuro alias Demang Singoprono Alus di Simo Walen. 
        Kyai Singoprono Alus punya dua anak yaitu: 
1. Singodirjo 
2. Singodiwongso 
        Menurut kisah, pada jaman perang Kastasura dua anak tersebut masuk menjadi prajurit. Saat bedah Kraton Kartosura, karena serangan prajurit Tiong Hoa. Singodiwongso pulang sendirian. Ketika ditanya oleh ayahnya: "Dimana kakakmu"? Singodiwongso memberi jawab: "Tidak tahu, tadi saya tunggu agak lama tidak muncul" maka saya tinggal pulang, mungkin sudah tewas dalam peperangan” 
        Ternyata akhirnya diketahui bahwa Singodirjo selalu bersama dengan rombongan prajurit pengikut R.M. Said, sampai R.M. Said berhasil menjadi, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Mangkunagoro I. 
        Selanjutnya Eyang Singodirjo diberi pangkat Mantri Gedong Praja Mangkunagoro I dan diberi nama M. Ng. Singodiwiryo alias Jayo Wilastro yang juga disebut Mas Ngabel Wignyo Wijoyo. Bahkan waktu meninggal pun dimakamkan di Mengadeg, yaitu pada “teras dalam” Astono Mangkunagoro II & III. 
        Di samping itu diberi pangkat Mantri Gedong, juga diberi istri seorang bangsa Tiong Hoa asli dengan petunjuk sebagai berikut: “Singodirjo… kelak bila anakmu terlahir pria bisalah jadi Pamong Desa di wilayah Projo Mangkunagoron turun temurun, tapi bila terlahir wanita sak karepmu (terserah dirimu). Dan saya beri ijin turun temurun bisalah memilih menjadi Jawa atau menjadi Tiong Hoa.” 
        Mematuhi petunjuk tersebut baik ajaran, nasehat, ilmu, pengetahuan dan berkah dari para leluhur, R.Ng. Singodirjo / Wignyowijoyo mempunyai 3 anak yaitu: 
1. R. Wukir. RDM. Secowacono Karang Anyar. 
2. R. Suwiyah, RDM. Poncogutomo I. Jatisrono. 
3. R. Ramet, belum ketemu riwayatnya. 
        Mematuhi nasehat dan petunjuk para leluhur, kenyataannya dapat cocok sesuai tanpa meleset. Mulai dari putra sehingga cucu wareng, selanjutnya turun-temurun mulai dari Eyang Singodirjo/Wignyowijoyo pada bekerja sebagai pamong desa di wilayah Praja Mangkunagaran. 
        Kecuali dipercaya sebagai pamong desa, juga dipercaya dibidang pertanian. Contohnya: Kebon kopi, soklat, juga hasil bumi dan lạin-lain. Dan diberi tanda surat kekancingan (Sertifikat) yg ditandatangani oleh Mangku Negara VI. 
    Di samping dipercaya sebagai Pamong Desa dan bidang pertanian, juga dipercaya menjaga Pasanggrahan di Bulukerto, serta yang lain-lain, dimana hasilnya termasuk kekayaan Praja Mangkunagaran. 
        Termasuk buyut Ki Singodirjo yang bernama Mas Ngabehi Ronggo Taruwirono masih berlangsung tetap setor uang pajeg dan hasil bumi kepada Praja Mangkunagara. Begitu juga R. Demang / Mantri Gunung Jatisrono yang bernama R. Poncosugriwo diijinkan membuat jalan raya Jatisrono - Wonogiri. Dengan gotong royong dengan tanda isyarat membunyikan meriam. 
        Jalan hidup seperti ini menyebabkan krabat/keluarga para pini sepuh mulai wareng hingga putra pada dimakamkan di Desa Bendo, Janggan, Bulukerto. Istri dan anak kumpul jadi satu Desa. Hal ini bisa dibuktikan hingga sekarang. Oleh karena itu para kerabat semua pada tumbuh rasa persaudaraannya. 
        Demikianlah keterangan-keterangan secukupnya, semoga saged untuk pegangan para waris kerabat ageng (keluarga besar) Singoprono. melalui kedua anaknya Seco Wacono dan Ponco Gutomo yang masih ada hingga saat ini.
*Dikutip dari Buku Silsilah Himpunan Kerabat Besar Singoprono II Aloes

Jumat, 31 Oktober 2025

Matahari yang Selalu Jingga

 


Dimuat di Jawa Pos Radar Banyuwangi, 5 Oktober 2025

 

            “Pada saatnya nanti, akan kubuat matahari itu sebagai hadiah untukmu,” ucap Pujud sambil menunjuk matahari yang menyilaukan mata di bawah birunya langit bumi Sriwijaya.

            “Aku tak suka silaunya,” sahut Wangi, kekasihnya.

            “Akan kubuat matahari itu berwarna jingga. Warna senja kesukaanmu.” Lelaki pemilik banyak lahan itu mantap dengan janjinya.

            Pujud ingat, hal itu terjadi karena tantangan orang tua Wangi beberapa hari yang lalu saat mengutarakan niatnya mempersunting kekasihnya itu.

            Wangi bangga pada keteguhan hati Pujud. Mendengar janji itu, hatinya gemetar. Bangga.

            “Agar orang tuamu melihat, bahwa aku bisa berbuat apapun. Bahkan mengubah takdir. Mengubah warna matahari!” lanjut Pujud tegas.

            Perlahan, matahari tergelincir ke arah barat, meski panasnya masih menyengat sepasang kekasih itu. Panas matahari itu bagi Pujud adalah tantangan baginya untuk menunjukkan kesombongannya merubah matahari menjadi jingga.

            Jembatan Ampera menjadi saksi atas sebuah janji seorang pemuda kaya pada kekasinya. Sebuah janji yang jika tidak ditepati akan membuat malu dirinya sebagai seorang lelaki. Baginya, kemegahan jembatan itu menyiratkan keteguhan janjinya untuk menantang takdir.

            Lalu lalang orang-orang di sekitar jembatan legendaris yang berwarna jingga tersebut saat ini tidak mempedulikan janji besar dari seorang Pujud. Kelak janji itu sebenarnya juga mempengaruhi orang-orang di sekitar mereka.

            Kini Pujud mulai berpikir dengan cara apa dia menantang matahari. Sebuah perbuatan yang tidak main-main, menjadikan warna matahari berubah.

            Pujud ingat, sebenarnya janji itu telah dia utarakan secara spontan saat mempersunting Wangi beberapa hari yang lalu. Sebab orang tua Wangi seakan meremehkan kekayaannya demi menolak dirinya menjadi suami Wangi.

            “Aku tahu kau pasti bisa memberikan banyak harta untuk Wangi. Tapi Wangi jauh lebih berharga dari itu semua!” ujar ayah Wangi saat itu.

            Hal itu tentu menempeleng harga diri Pujud. Baginya apapun bisa dia berikan demi menikahi Wangi.

            “Jangankan emas. Matahari senja pun akan kuberikan untuk Wangi!” balas Pujud sambil menahan geram.

            Mendengarnya, ayah Wangi seakan mendapat angin segar. Orang tua itu seakan mendapat jalan demi menolak keinginan Pujud yang temperamental. Sifat itu yang tidak disukai orang tua Wangi.

            “Buktikan! Kau telah menjanjikan senja. Sebagai lelaki, kau tentu pantang menelan ludahmu sendiri!” Ayah Wangi berdiri lalu berlalu masuk ke dalam rumahnya, diikuti ibu Wangi.

            Tinggal Wangi yang duduk menunduk di ruang depan. Janji kekasihnya itu bukan man-main. Dalam hati, Wangi meragukan janji Pujud. Gadis itu tahu, sifat keras hati Pujud ditampakkan di depan orang tuanya dan janji itu keluar demi melindungi harga dirinya. Sedangkan bagi Pujud, janji yang diucapkan itu keluar begitu saja tanpa dia sadari. Namun janji telah terucap tak dapat ditarik kembali. Janji yang jika dia ingkari akan melepaskan Wangi dari genggamannya dan jika diwujudkan, hal itu bagai membangun kota di lapisan luar matahari. Konyol.

***

            Maka siang ini ketika bertemu Wangi di dekat jembatan Ampera, Pujud meyakinkan bahwa dia mampu mewujudkan janjinya itu. Menjadikan matahari selalu jingga. Selalu senja.

            “Janjiku seperti api ini,” kata Pujud sambil menyalakan api di tangannya. Lalu api itu dijatuhkan ke sungai musi. Seketika api itu padam, menyisakan asap. “Menyala. Panas. Namun tak mampu mengalahkan air,” lanjutnya.

            “Aku terus berusaha yakin bahwa kamu mampu, meski aku meragukannya. Tapi janji telah kau ucap, buatkan senja untukku. Matahari yang selalu jingga.” Wangi membangkitkan semangat dalam diri Pujud.

            Wagi selalu seperti air bagi Pujud, yang selalu memadamkan apinya yang selalu menyala-nyala.

“Api,” desis Pujud. “Ya. Aku bisa. Tunggu beberapa hari lagi. Matahari akan selalu senja sepanjang hari.” Pujud tersenyum. Senyum kemenangan.

***

            Di tepi sungai musi, Pujud dan Wangi kembali bertemu di hari yang pengap dengan mata yang basah dan napas yang naik turun.

            “Lihatah, Wangi. Lihat matahari itu. Matahari jingga yang kujanjikan.” Meski napasnya terengah-engah, dia terlihat riang dengan mewujudkan janjinya itu.

            Wangi menatap matahari. Matahari itu bulat penuh, tidak menyilaukan matanya. Dengan warna jingga, seperti janji Pujud.

            “Tidak, langit itu kelabu meski matahari jingga. Ini bukan jingga dalam indahnya senja. Apa yang kaubuat?”

            “Aku wujudkan janji bahwa matahari selalu jingga. Hadiah untukmu.”

            “Dan lihatlah orang-orang itu.” Wangi memandang sekeliling. Orang-orang banyak yang memakai penutup hidung. “Lalu lihatlah ke depan sana. Kemana Ampera yang kemarin jelas terlihat dari sini? Semua kelabu, warna mendung, warna duka. Aku tak menerima semua ini!” keluh Wangi pada Pujud.

            “Mengubah takdir itu harus bersedia berkorban, Wangi. Setiap perjuangan besar dan setiap perubahan selalu membutuhkan korban.”

            “Aku tahu ini perbuatanmu. Dan ini bukan perjuangan, tapi ini merusak segalanya. Juga lihatlah dirimu, napasmu putus-putus. Ini juga karena asap yang kau buat untuk menutup matahari itu.”

            “Ah kau tidak memahami perubahan. Bukankah janjiku menjadikan matahari berwarna jingga? Terimalah, dan kita akan hidup lebih bahagia, karena sebentar lagi lahanku akan semakin banyak.”

            “Tidak. Kau buat matahari menangis!” Wangi lalu berlari meninggalkan Pujud, membelah asap yang menyelubungi kotanya.

            Kembali Pujud merasa direndahkan. Teringat lahan yang dihanguskannya. Dilihatnya udara tertutup asap dari lahan yang terbakar, membuat matahari berwarna jingga. Api dari tangannya kembali menyala. Matanya menyeringai menatap kekasihnya yang pergi.

            “Kaupun akan kubuat jingga, Wangi!” gumam Pujud seperti kutukan.

***

Bukit Sangkal, 29 Oktober 2015         14.42 WIB

Legawa Berpikir untuk Bunuh Diri

https://nominaidekarya.com/tag/danang-febriansyah/

Dimuat di https://nominaidekarya.com 31 Oktober 2025
 

Akhirnya setelah minta transfer uang dari ibunya, Legawa pulang naik bis. Ia kecewa sebab koordinator unjuk rasa membiarkannya kelaparan. Pun uang lelah tak juga dibayarkan. Keringat yang bercucuran di siang yang panas dan berteriak menolak penutupan rumah ibadah besar di ibukota seakan menjadi antiklimaks karena makan siang tak ada, bayaran juga sirna. Bahkan koordinator unjuk rasa tak nampak setelah polisi membubarkan pengunjuk rasa dan sempat terjadi kerusuhan. Legawa bahkan sempat tersulut emosi mudanya karena terkena gebuk dari polisi. Ia sempat membalas dan memukul salah satu petugas keamanan.

            Sebenarnya Legawa adalah seorang pemuda penakut. Tapi karena jiwa mudanya sudah dibakar sedemikian rupa, dibakar bahwa menolak penutupan rumah ibadah adalah bentuk ajaran agamanya dan akan mendapat pahala, emosinya meledak. Pemerintah yang akan menutup bahkan menghancurkan tempat ibadah di ibukota adalah pemerintah yang ateis. Maka sepenakut apapun Legawa, jika banyak pemuda lain yang telah mendapatkan semangat serupa dirinya, Legawa akan nekat.

            Pada akhirnya unjuk rasa bubar. Dan ia telah ditandai oleh petugas keamanan. Dalam perjalanan pulang, ia memikirkan ibu yang sakit sesak napas. Ketika ingin diajak ke rumah sakit beberapa waktu lalu, ibu menolak. Sebab takut sakitnya yang menahun itu didiagnosa terkena pandemi.

            Sampai di rumah, ia melihat ibunya masih tertidur ditemani dua adiknya. Ia masuk kamarnya dan merebahkan badan di lantai. Legawa mengambil beberapa buku dan digunakan untuk bantal.

            Matanya menerawang, ia sangat kecewa dengan unjuk rasa yang diikutinya. Apa yang diharapkan tak sesuai kenyataan. Sehari kemudian kabar unjuk rasa itu sudah beredar di koran dan televisi. Dan yang paling mengecewakan adalah bara yang dibawa koordinator unjuk rasa bahwa pemerintah akan menutup rumah ibadah itu ternyata hanya berita bohong. Hanya untuk membakar semangat mudanya yang menggelegak, agar segera bergerak melawan apa yang dianggap sebagai ketidakadilan oleh orang yang tak bertanggungjawab.

            Adiknya masuk kamar dan memintanya untuk membelikan obat untuk ibu. Ia bangkit, ia akan mengambil sisa uang yang ditransfer tadi untuk obat ibunya. Di teras rumah, ia sekilas melihat gerobak bapaknya dulu untuk jualan sayur. Dengan motor tua milik almarhum bapaknya, ia berangkat ke apotek.

            Legawa berpikiran untuk melamar kerja beberapa hari kemudian. Ibu butuh banyak obat demi kesembuhan. Tapi ternyata banyak perusahaan menolak lamarannya meski ijazahnya sarjana dari univeritas yang baik. Tapi karena ia terlibat unjuk rasa, Legawa tidak mendapatkan surat keterangan berkelakuan baik. Ia merasa kuliahnya menjadi sia-sia gara-gara berteriak di siang yang terik dalam unjuk rasa.

            Ia embuskan asap rokok saat duduk di teras rumahnya sambil memandangi gerobak milik bapaknya. Terbersit harap memanfaatkan kembali gerobak yang mulai rapuh itu seteleh ditinggal bapaknya meninggal dunia setahun yang lalu.

            Legawa membersihkan kembali gerobak itu serta memperbaiki dan mengganti bagian-bagian yang rapuh. Besok ia berencana menjual sayur. Meneruskan usaha bapak.

Jam tiga pagi dia bangun tidur. Dengan mengendarai sepeda motor tua, ia mengikat gerobak sayur di belakang motor. Legawa menuju pasar untuk kulak berbagai macam sayur. Menggunakan gerobak yang di atasnya telah ditata berbagai macam sayur, Legawa mencari tempat yang sesuai di dalam pasar. Namun setiap tempat dan los di dalam pasar tak ada lagi ruang untuknya. Ia berusaha meminta sedikit tempat pada pedagang yang telah menempati los pasar, namun tak ada satupun yang mengizinkan. Akhirnya ia menggelar dagangan di tengah persimpangan di dalam pasar. Satu dua pembeli menjadi pembelinya. Tapi kemudian petugas pasar datang dan memintanya pergi, sebab ia mengganggu pejalan dan pengunjung pasar jika ia berdagang di tengah jalan.

            Legawa pun pergi, keluar dari pasar. Ia menarik gerobaknya dengan motor tua. Sayurannya tak terlihat berkurang. Ia coba masuk kampung untuk menjual dagangannya. Tapi ternyata setiap kampung yang ia masuki telah ada penjual sayur yang lain yang memintanya tak masuk kampung tempat mereka berjualan.

            Ia pulang dengan sedikit hasil. Sayuran dagangannya masih menumpuk. Ibu menyarankan untuk dibagikan pada tetangga.

            “Setiap doa dari orang yang kau beri adalah pupuk hidupmu.” Begitu kata ibu.

            Setelah semua dagangan ia bagikan ke tetangga, ia kembali duduk di teras dan menyalakan rokok. Ia bosan di teras, lalu masuk ke dalam rumah, sebentar melihat ibunya di kamar, kemudian masuk kamarnya sendiri. Mengambil beberapa buku untuk bantal dari tumpukan buku di samping tempat tidurnya.

            Legawa berpikir untuk menjual buku-bukunya saja. Sebab jika tak terjual hari ini, maka buku tak layu seperti sayuran.

            Pagi berikutnya ia menarik gerobak menggunakan motor seperti kemarin, tapi isi gerobak bukan sayur, tapi buku-buku. Ia juga tak lagi masuk ke dalam pasar, sebab ia pasti akan terusir karena berjualan di tengah jalan. Legawa memilih menjual buku-bukunya di luar pasar. Ia menata buku-buku di gerobak.

            Satu dua orang datang membaca buku lalu berlalu. Belum ada yang datang untuk membeli. Beberapa waktu kemudian datang petugas keamanan. Yang menginterogasinya.

            “Sejak kapan jualan buku?” tanya petugas.

            “Baru hari ini,” jawab Legawa agak gemetar.

            “Kenapa kau jual buku-buku kiri?” tanya petugas lagi sambil mengambil buku Aksi Massa Tan Malaka.

            “Maksudnya apa?”

            “Ini kamu juga jual buku-buku teroris?” Petugas mengambil buku-buku agama.

            “Tolong lah, Pak. Baca dulu. Jangan mudah menuduh.” Legawa mulai kesal.

            “Apa! Kamu melawan petugas!”

            Seketika dua petugas itu menghajar Legawa hingga terjungkal. Orang-orang di pasar memusatkan perhatian pada kejadian itu.

            “Kamu itu nggak bisa lari dari kami. Kamu itu dalam pantauan kami! Mau main-main, hah!” Sebuah tendangan telak mengenai perutnya. Seketika napasnya menjadi sesak.

            Ia ingat ibunya yang menderita sesak napas di rumah. Legawa di area pasar ini juga sesak napas karena tendangan petugas.

            Seorang petugas mengobrak-abrik dagangannya, hingga gerobaknya terguling. Kemudian buku-buku yang mereka anggap terlarang diambilnya. Gerobak diangkut ke dalam truk dan membiarkan buku-buku lain berserakan. Legawa merasa kalah. Apalagi setelah unjuk rasa beberapa waktu lalu, hari-harinya terasa ada yang terus mengawasi kesehariannya. Ia takut. Sifat penakutnya telah kembali dalam kesendirian. Ia hanya berani jika bersama dengan orang yang bersikap sama dengannya. Ia mengusap darah yang menetes di ujung bibirnya.

            Beberapa orang mencoba menolongnya untuk bangkit dan menghibur dirinya. Ia benci pada petugas keamanan. Ia ingin kembali berunjuk rasa seperti dulu. Tapi ia telah kecewa karena janji koordinator unjuk rasa dan si pembakar semangat. Upah unjuk rasa tidak diberikan. Makan siang pun tak ada. Ia membenci itu.

            Karenanya, ia ingin berunjuk rasa sendirian. Tanpa koordinator. Ia hanya ingin memperjuangkan nasibnya saja. Maka masih disertai rasa takutnya, Legawa berangkat ke kantor petugas keamanan.

            “Aku ingin mengambil gerobakku, Pak,” ucap Legawa gemetar di bagian depan kantor petugas keamanan.

            Di sudut lain, ia melihat gerobaknya. Gerobak peninggalan bapak.

            “Kamu yang jual buku-buku terlarang?” tanya petugas.

            “Itu hanya buku-buku sejarah dan agama, Pak. Demi ibuku aku jual buku.” Legawa mencoba menerangkan.

            “Alasan saja. Kamu itu yang ikut unjuk rasa. Jadi alasan apapun, kamu pasti punya niat menggulingkan pemerintah!” tegas petugas.

            “Tidak, Pak. Aku hanya ....”

            “Sudah! Pergi sana! Sebelum kami tangkap karena menyerang petugas!”

            Legawa surut. Ia kembali. Pulang. Sekilas ia melihat gerobaknya. Ingin saja ia ambil. Langkahnya berbelok ke arah gerobak. Tapi petugas meneriakinya. Legawa kembali menuju jalan keluar. Dadanya bergemuruh.

            Sampai rumah, adik-adiknya diminta untuk tidak memberitahu ibunya kalau ia pulang tanpa gerobak. Setelah mencium tangan ibunya, ia masuk kamar, menyalakan rokok dan merebahkan badannya.

            Ia ingat kejadian di sebuah negara, seorang pemuda miskin yang mampu mengobarkan semangat revolusi meski dia harus mengorbankan dirinya sendiri. Kejadian yang nyaris seperti yang dialaminya. Ia ingin negara ini tidak semena-mena pada rakyat miskin seperti dirinya. Ia merasa tidak salah, tapi petugas keamanan selalu memata-matai dirinya.

            Unjuk rasa waktu itu terjadi karena ia terprovokasi seseorang. Ia hanya ikut-ikutan. Karena hal itu, ia tak bisa melamar pekerjaan. Ia coba meneruskan usaha bapak yang telah lama ditinggalkan, tapi semua keadaan sudah berubah. Ia mencoba menjual buku-buku koleksinya, petugas keamanan malah menganggapnya memberontak. Dunia menjadi sempit. Jika sudah begini, melakukan hal yang sama dengan pemuda di negara lain itu, mungkin juga akan membakar seluruh negeri ini untuk menuntut keadilan.

            Ia yakin dengan hal itu.

            Malam hari ia melihat ibunya tertidur dengan napas yang tampak berat. Dua adiknya menemani ibu. Ia mengambil botol air mineral bekas, lalu mengutak atik selang aliran bahan bakar motornya, sehingga bahan bakar motornya keluar dan ditampung di botol air mineral yang dibawanya.

            Setelah selesai, ia mengeluarkan motornya dan pergi mewujudkan tujuannya. Masih terlalu dini, ia sampai di kantor petugas keamanan. Di bagian depan, ia melihat petugas yang kemarin mengusirnya. Matanya tampak menahan kantuk. Ia mendekatinya.

            “Pak, aku mau ambil gerobakku. Itu gerobak peninggalan bapak. Aku mau jualan dengan gerobak itu,” kata Legawa pelan. Ia terlalu takut untuk bicara keras.

            “Kamu yang kemarin? Pemberontak itu?” tanya petugas merasa terganggu.

            “Pak, aku hanya ingin gerobakku kembali. Aku bukan pemberontak.”

            “Pergi sana! Sikapmu pada pemerintah sudah buruk. Itulah akibatnya jika melawan petugas!”

            “Tapi, Pak ....”

            Dan sebuah pukulan dengan tongkat mengenai lengan Legawa. Ia gemetar, takut. Tak berani jika ia sendirian. Ia hanya berani jika banyak teman seperti dalam unjuk rasa waktu itu. Karenanya, Legawa berencana melakukan rencana keduanya. Ia mengambil sebotol bahan bakar di tasnya. Ia ingin seluruh rakyat melakukan revolusi menuntut keadilan bagi rakyat kecil seperti di negara lain. Ia akan membakar tubuhnya yang akan memicu aksi besar-besaran seluruh negeri karena membaca latar belakang aksi bakar dirinya.

            Di sebelah gerbang kantor keamanan, ia mengguyurkan bahan bakar dari kepalanya. Ia ambil korek api dari sakunya. Ia ingat sebuah novel yang pernah dibacanya, ‘Dalam Kobaran Api’, seorang pemuda di sebuah negeri menjadi obor api sekejap setelah korek api menyala. Lalu tubuhnya gosong dan beberapa waktu kemudian tewas.

            Membayangkan itu, rasa takut Legawa membesar. Ia begidik ngeri membayangkan rasa panas dan perih di sekujur badan. Sekejap kemudian, Legawa ingat, setelah pemuda mati, aksi besar-besaran terjadi di seluruh negeri. Betapa pemuda itu menjadi pahlawan. Sungguh heroik. Ia ingin seperti itu.

            Namun, rasa takut makin memeluknya. Korek api dilihatnya. Dan kenekatannya padam.


Ia yang Menjelma Bunga Matahari - Penerbit Cahaya Harapan/Penerbit Andi Jogja


Buku kumpulan cerpen yang berisi 17 Cerpen yang pernah dimuat di media dan memiliki benang merah: Orang-orang desa dan orang terpinggirkan. Terbit pada awal 2025 di Penerbit Cahaya Harapan/Penerbit Andi Jogja.

BEBERAPA CATATAN TENTANG PARA LELUHURKU

Untuk mendapatkan gamabran yang lebih jelas tentang para Leluhur kita, berangkali ada baiknya apabila diutarakan secara ringkas, sejarah aa...