Tampilkan postingan dengan label HIDUPKU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HIDUPKU. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 November 2025

Sejarah Keluarga Kerabat Singo Prono (Joyo Wilastro/Mantri Gedhong Praja Mangkunegara I)

        Dengan berkah serta perlindungan Allah yang Maha Esa dan Maha Murah dan Maha Adil serta Maha Kasih yang tanpa pilih kasih, termasuk kasih-Nya kepada kita para ahli waris keluarga besar Singoprono yang sudah berhasil menyatukan tekad menyusun lembaran-lembaran petunjuk tentang alur para ahli waris yang berkaitan dan saling bertalian.  
          Walaupun hanya dapat mewujudkan rangkaian sejarahyang masih sangat sederhana, namun dengan maksud supaya dapat untuk pegangan ahli waris (Himpunan Kerabat Besar Singoprono) yang pada akhirnya bisa membuat terang/jelas atau setidaknya tidak kehilangan jejak. 
        Oleh karena itu, pada tg 22 Maret 1972 para ahli waris mulai bergerak mengadakan pertemuan-pertemuan guna mengadakan musyawarah secukupnya membicarakan bagaumana caranya mencari dan mengumpulkan bahan bahan yang dapat digunakan untuk menyusun buku silsilah. 
        Hasil kesepakatan dari rembugan-rembugan tersebut kita para ahli waris bersama sama mencari dan mengingat-ingat rieayar serta berbagai usaha. Usaha-usaha tersebut diharapkan cukup untuk mengumpulkan keterangan, catatan, bukti-bukti dan sebagainya. 
        Sedangkan susunan bahan dapat dipilah seperti ini : 
1. Dimulai dari Ingkong Sinuwun Kanjeng Prabu Brawijaya V Raja Majapahit sampai Ingkong Sinuwun Kanjeng Sultan Hadiasjoyo Raja Pajang. 
2. Dilanjutkan dari Ingkong Sinuwun Kanjeng Sultan Hadiwijaya Raja Pajang sampai Eyang Singodirjo (yang disebut sebagai Jayo Wiasto, Singodiwiryo atau Mas Ngabei Wignyowijoyo yang dimakamkan di bukit Mengdeg, tepatnya di bagian teras dalam Astana Mengadeg, sebelah kanan pintu masuk makam KGPHP Mangkunagoro II & III. 
3. Dilanjutkan lagi dari Eyang Singodirjo di Bukit Mengadeg sampai anak cucu. 
        Dengan berdasarkan ketiga induk bahan-bahan tersebut, selanjutnya dapat dilanjutkan lagi menurut keperluan masing-masing. Di sini perlu kita jelaskan beberapa hal : Contoh : perilaku yang baik, yang perlu kita teladani dan perlu dibuat cerita (kisah) yang perlu dipahami. 
     Sedangkan perilaku baik dianatarnya yaitu Kyai Demang Singiprono di Simo. Beliau punya wawasan (nasehat) yang dapat untuk pedoman hidup, yaitu : 
1. Sing Sapa salah bakat seleh (Siapa yang bersalah akan menanggung akibatnya, atau keweleh) 
2. Tindak candhala ika angedobake bebuden luhur (Tindakan buruk akan menjauhkan budi luhur) 
3. Budi luhur lan asor iku guman tung ana ing tumindak ( Budi luhur atau jelek tergantung tindakan) 
4. Dana driyah / budidarma marang sapadha-padha, nambahi luhuring budi (Memberi pertolongan kepada sesama manambah sifat budi luhur) 
5. Welas asih marang sapadha-padha iku kalebu wajib. (Belas kasih terhadap sesama itu termasuk perilaku wajib) 
        Juga ada dengan pedhoman "Dasa Sila" 
1. Berbakti kepada Allah yang Maha Esa. 
2. Berbakti kepada utusannya Allah. 
3. Serta berbakti kepada Penguasa Negeri. 
4. ⁠Berbakti kepada tanah air. 
5. Berbakti kepada orang tua. 
6. Berbakti kepada saudara tua. 
7. Berbakti kepada guru. 
8. Berbakti kepada ajaran kebaikan. 
9. Belas kasih kepada sesama. 
10. Menghargai semua agama. 
        Dengan dasar seperti itu para kerabat menjadi akrab menurut kepercayaan masing masing. Serta ibadah masing-masing merendah kedekatan dan kebersamaan hidup bersama. 
      Setelah Kyai Demang Singoprono meninggal dunia maka kedudukan diserahkan kepada anak menantunya yaitu Raden Bagus Danupuro alias Demang Singoprono Alus di Simo Walen. 
        Kyai Singoprono Alus punya dua anak yaitu: 
1. Singodirjo 
2. Singodiwongso 
        Menurut kisah, pada jaman perang Kastasura dua anak tersebut masuk menjadi prajurit. Saat bedah Kraton Kartosura, karena serangan prajurit Tiong Hoa. Singodiwongso pulang sendirian. Ketika ditanya oleh ayahnya: "Dimana kakakmu"? Singodiwongso memberi jawab: "Tidak tahu, tadi saya tunggu agak lama tidak muncul" maka saya tinggal pulang, mungkin sudah tewas dalam peperangan” 
        Ternyata akhirnya diketahui bahwa Singodirjo selalu bersama dengan rombongan prajurit pengikut R.M. Said, sampai R.M. Said berhasil menjadi, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Mangkunagoro I. 
        Selanjutnya Eyang Singodirjo diberi pangkat Mantri Gedong Praja Mangkunagoro I dan diberi nama M. Ng. Singodiwiryo alias Jayo Wilastro yang juga disebut Mas Ngabel Wignyo Wijoyo. Bahkan waktu meninggal pun dimakamkan di Mengadeg, yaitu pada “teras dalam” Astono Mangkunagoro II & III. 
        Di samping itu diberi pangkat Mantri Gedong, juga diberi istri seorang bangsa Tiong Hoa asli dengan petunjuk sebagai berikut: “Singodirjo… kelak bila anakmu terlahir pria bisalah jadi Pamong Desa di wilayah Projo Mangkunagoron turun temurun, tapi bila terlahir wanita sak karepmu (terserah dirimu). Dan saya beri ijin turun temurun bisalah memilih menjadi Jawa atau menjadi Tiong Hoa.” 
        Mematuhi petunjuk tersebut baik ajaran, nasehat, ilmu, pengetahuan dan berkah dari para leluhur, R.Ng. Singodirjo / Wignyowijoyo mempunyai 3 anak yaitu: 
1. R. Wukir. RDM. Secowacono Karang Anyar. 
2. R. Suwiyah, RDM. Poncogutomo I. Jatisrono. 
3. R. Ramet, belum ketemu riwayatnya. 
        Mematuhi nasehat dan petunjuk para leluhur, kenyataannya dapat cocok sesuai tanpa meleset. Mulai dari putra sehingga cucu wareng, selanjutnya turun-temurun mulai dari Eyang Singodirjo/Wignyowijoyo pada bekerja sebagai pamong desa di wilayah Praja Mangkunagaran. 
        Kecuali dipercaya sebagai pamong desa, juga dipercaya dibidang pertanian. Contohnya: Kebon kopi, soklat, juga hasil bumi dan lạin-lain. Dan diberi tanda surat kekancingan (Sertifikat) yg ditandatangani oleh Mangku Negara VI. 
    Di samping dipercaya sebagai Pamong Desa dan bidang pertanian, juga dipercaya menjaga Pasanggrahan di Bulukerto, serta yang lain-lain, dimana hasilnya termasuk kekayaan Praja Mangkunagaran. 
        Termasuk buyut Ki Singodirjo yang bernama Mas Ngabehi Ronggo Taruwirono masih berlangsung tetap setor uang pajeg dan hasil bumi kepada Praja Mangkunagara. Begitu juga R. Demang / Mantri Gunung Jatisrono yang bernama R. Poncosugriwo diijinkan membuat jalan raya Jatisrono - Wonogiri. Dengan gotong royong dengan tanda isyarat membunyikan meriam. 
        Jalan hidup seperti ini menyebabkan krabat/keluarga para pini sepuh mulai wareng hingga putra pada dimakamkan di Desa Bendo, Janggan, Bulukerto. Istri dan anak kumpul jadi satu Desa. Hal ini bisa dibuktikan hingga sekarang. Oleh karena itu para kerabat semua pada tumbuh rasa persaudaraannya. 
        Demikianlah keterangan-keterangan secukupnya, semoga saged untuk pegangan para waris kerabat ageng (keluarga besar) Singoprono. melalui kedua anaknya Seco Wacono dan Ponco Gutomo yang masih ada hingga saat ini.
*Dikutip dari Buku Silsilah Himpunan Kerabat Besar Singoprono II Aloes

Jumat, 06 Oktober 2023

Buah Hati

Ardhanareswari


"Ardhanareswari," jawabku ketika ada keluarga yang menanyakan nama putri kecil kami ketika itu hari Jum'at, 27 Mei 2011 jam 09.15 WIB.
***
Sembilan bulan sebelumnya, saat itu selepas maghrib, di dalam kamar kos kecil dengan kasur yang teramat tipis, istriku memberitahu kalau dia hamil. Jelas saja saya kaget, makanya saat itu saya hanya diam dengan berbagai pikiran berkecamuk di otakku, antara seneng dan terkejut. Seneng karena tak semua orang bisa mendapatkan anugerah yang sebesar ini, dan tak semua orang dipercaya Sang Raja Manusia dipercaya untuk memiliki buah hati. Terkejut karena tak menyangka akan secepat ini, 3 bulan setelah pernikahan kami.
Sejak saat itu kami rutin memeriksakan kehamilan ke dokter yang direkomendasikan teman istri saya di daerah Pasar Gede, Solo. Tiap 2 minggu sekitar jam 7 malam kami periksa dengan mengantri lewat telepon siang harinya, setelah periksa kami harus menebus obat dari resep dokter ke apotek di daerah Pasar Kembang, Solo.
Kami lihat perkembangan janin dari foto USG, dari kecil, tidak nampak, sampai terbentuk wujudnya dengan terlihat jari tangan, jari kaki dan bergerak menendang nampak diperut istriku. Kumpulan foto-foto USG itu kami kumpulkan dalam sebuah album foto untuk kenangan tentang anak pertama kami, Sekitar 6 / 7 bulan dokter mengatakan kalau anak kami kemungkinan lahir sebagai perempuan. Bahagia kami akan memiliki putri.
Ketika periksa tak seluruhnya lancar, banyak kendala, awal-awal periksakami belum mengetahui kalau periksa kebanyakan antri dulu dari telepon siang harinya, antara marah dan sebel kami datang paling awal sekitar jam 7, ada pasien datang lebih lambat dari kami malah dipanggil untuk periksa lebih dulu dari kami. Saya kasihan dengan istri saya yang harus menunggu lama dalam keadaan hamil, ternyata pasien itu sudah daftar duluan siang harinya. Setelah itu kami baru tahu kalau periksa, ambil nomer antrian dulu melalui telepon. Pernah juga kami periksa dalam keadaan hujan lebat. kami pulang periksa sekitar jam 10 malam, hujan dari jam 7 belum juga reda bahkan makin lebat, kami memutuskan nekat dengan mengenakan mantel hujan mengendarai motor. Saya harus menjalankan motor dengan teramat pelan, karena ada istri saya yang sedang hamil. Akhirnya kami sampai di kos dengan basah kuyup. Perjuangan menjaga calon putri pertama kami.
Pukulan keras, ketika hari-hari menjelang kelahiran kami diberitahu ketika periksa bahwa putri kami terlilit tali pusar. Sedih banget saat itu, tapi sang dokter menenangkan hati kami kalau ada kemungkinan bisa terlepas ketika akan melahirkan. 
Kami ingin kelahiran putri kami normal, seperti kebanyakan ibu yang lain, istri saya ingin melahirkan secara normal,maka ketika ada kabar seperti itu, kami sedih,kami tak berharap kelahiran cesar.
Sepuluh hari menjelang kelahiran, kami sekali lagi memeriksakan kandungan istri saya ke rumah sakit tempat dokter yang biasa tempat kami periksa. Ternyata masih terlilit tali pusar.
Sampai akhirnya istri saya mengambil cuti dari tempat kerjanya, cuti melahirkan. Kami pulang ke Desa, berhari-hari tanda-tanda akan melahirkan tidak ada sampai duahari menjelang Hari Perkiraan Lahir, kami periksakan kembali kandungan istri saya ke dokter di wilayah Ponorogo dengan diantar oleh ayah dan ibu saya. Lagi-lagi kondisi janin tidak berubah, berarti kelahiran harus dengan cara operasi.
Satu hari sebelum hari ulang tahun pernikahan kami, kami kembali ke Ponorogo untuk kelahiran calon putri kami diantar oleh keluarga saya lagi. Sedangkan biaya yang harus dikeluarkan melebihi tabungan kami yang rencananya hanya untuk kelahiran normal. Bingung, itu pasti, hanya berdoa kepada-Nya kami memohon untuk dilancarkan semuanya. Akhirnya ada bantuan dari orang tua kami.
Jelang kelahiran, istri saya masuk ruang operasi dengan sedikit ganjalan,perilaku para perawat di Rumah Bersalin itu layaknya ibu tiri yang sadis, kejam dan merampas hak para pasien.
"Gini aja berteriak kesakitan, apalagi kalau lahir normal!"bentak perawat itu dengan wajah yang kejam tanpa kelembutan sedikitpun.
Detik-detikkelahiran, sekitar jam 09.00 pagi saya disuruh menunggu diluar ruang operasi, padahal saya ingin menemani istri saya. Saya telepon ayah dan ibu mertua saya,memohon doa untuk kelancaran semuanya, tapi tidak tersambung. Setelah menunggu agaklama, akhirnya telepon saya diangkat oleh ibu, tetes air mata saya memohon doa pada ibu. Setelah disuruh menunggu diluar ruang,akhirnya saya hanya menunggu di luar ruang, dengan Al-Qur'an saku, saya membaca ayat-ayat suci sambil berdoa untuk keselamatan istri saya dan calon anak kami, masih belum ada kabar dari dalam ruang, saya memutuskan untuk sholat dhuha dimushola Rumah Bersalin itu, dua rakaat kemudian dzikir, istighfar, shalawat memohon kemurahanNya untuk kelancaran persalinan istri saya. Setelah itu saya kembali ke depan ruang operasi dan membaca Al-Qur'an lagi.


Tak lama berselang, perawat galak keluar menggendong bayi mungil dan memanggil nama saya. Itulan anak kami,perawat kejam itu membawa anak kami ke ruangan khusus, saya mengikutinya untuk mengadzani. di sana saya pertama kami melihat putri kami, saya kumandangkan adzan, matanya seakan menatap saya, bening, cantik. "Semoga kau menjadi wanitah sholihah, nak," ucapku dalam hati.
Kemudian saya kembali ke ruang operasi,membantu istri saya yang masih lemah untuk dipindahkan ke ruang lain, dari hidungnya masih terpasang selang oksigen, dia nampak tidak sadarkan diri. Setelah beberapa lama,dia merasa dingin, tangan dan kakinya bergetar kedinginan, saya pegang mencoba untuk menghangatkan, sambil terus saya ajak bicara, saya tidak mau dia tertidur.
Setelah semua tenang,hati kami berbinar bahagia mengucap Hamdalah berkali-kali, bersyukur atas karunianya Meski dengan ganjalan di hati atas perilaku perawat-perawat itu.
Telepon dari orang tua kami di Palembang menunjukkan kebahagiaan.
"Ardhanareswari," jawabku ketika ada keluarga yang menanyakan nama putri kecil kami ketika itu hari Jum'at, 27 Mei 2011 jam 09.15 WIB.
"Jadilah pribadi yang berbakti, cerdas dan berprestasi"

MENULIS ADALAH HASRATKU

Ya, menulis sejak tahun 1997 ketika saya masih sangat remaja sekali, ketika orang lain menyebut masa SMA adalah sebagai masa yang indah karena dapat bebas meluapkan masa remajanya, yang kebanyakan dilepaskan dengan lepas kendali. Tapi saya tidak bisa, saya menjalani masa SMA di sebuah pesantren dengan pengawasan yang ketat dan disiplin yang tinggi, jadi apa yang harus kuluapkan? Apalagi dengan lepas kendali?
Maka saya menulis. Pertama saya menulis adalah resensi film yang pernah saya tonton, menulis dengan buku tulis dan pulpen. Tulisan keduaku adalah novel, saat itu sedang booming novel dan film laga. Dan akupun menulis tanpa bantuan komputer, hanya buku tulis dan pulpen aku mulai novel pertamaku dengan tema laga, dengan jagoan bersenjata golok.
Tulisan keduaku masih berupa novel, kali ini bersetting padang pasir, mungkin di Afrika atau Timur Tengah. Kisahnya tentang rombongan Antropolog yang menjelajahi padang pasir untuk sebuah penelitian. Dan  karena suatu sebab, rombongan ilmuwan itu tersesat karena kendaraan yang ditumpanginya mengalami kecelakaan. Satu persatu para ilmuwan itu tak dapat bertahan di ganasnya padang pasir dan meninggal di situ. Dan menyisakan satu orang ilmuwan yang masih berusaha bertahan hidup di padang pasir dengan segala keterbatasannya. Hingga beberapa minggu kemudian ada kecelakaan pesawat kecil yang jatuh di padang pasir itu. Ada korban selamat dan akhirnya berteman dengan ilmuwan itu. Endingnya mereka berdua diselamatkan oleh sebuah pencarian. Yang aku merasa suka dengan novel ini, ternyata setelahnya ada film yang ceritanya mirip dengan novel keduaku itu dan filme itu mendapatkan piala Oscar.
Tulisan ketiga masih berupa novel dengan buku tulis. Bercerita tentang sekawanan anak SMP yang berkemah di alas roban, kemudian tanpa sengaja mendapati sebuah rumah di tengah hutan yang dijadikan markas oleh para gembong narkoba. Sekawanan anak SMP itu berusaha membongkar pelanggaran hukum para gembong narkoba itu dan rela berkorban apapu, disekap oleh mereka. Sampai akhirnya salah seorang remaja itu bisa keluar hutan dan melaporkan apa yang dilihat kepada polisi. Kemudian sekawanan anak SMP ini menyatakan diri sebagai kelompok detektif kecil.
Tulisan keempat adalah sekuel dari detektif cilik. Karena jasanya membongkar gembong narkoba, mereka mendapat beasiswa sekolah ke Australia. Di sana mereka juga membongkar kasus pembunuhan yang sangat berbelit-belit. Tapi novel ini tidak selesai...
Yang menjadi penyesalan adalah saya kehilangan semua tulisan-tulisan pertama saya itu.
Tulisan kelima berupa novel berjudul Hidup. Tulisan ini yang pertama kali dipublikasikan. Cerpen ini dimuat di buletin Pondok Pesantren Al-Muayyad Surakarta “Ayyada.”
            Tahun 2000 aku mulai menulis beberapa cerpen dan tahun 2004 aku mengikuti kursus jurnalistik jarak jauh di LPWI (Lembaga Pendidikan Wartawan Indonesia) Ummul Quro, Purwodadi. Saya lulus dan mendapat kesempatan magang sebagai wartawan di sebuah koran mingguan di Jawa Timur. Saya dibekali ID Card Pers yang berlaku selama enam bulan. Tapi kesempatan magang itu tidak saya ambil mengingat jarak yang jauh dari tempat tinggal saya.
            Sayapun masih aktif dengan tulisan cerpen-cerpen, kemudian awal tahun 2005 saya bergabung dengan FLP (Forum Lingkar Pena) Soloraya dengan mengikuti pelatihan yang diadakan FLP, saya mengambil kelas menulis Fiksi. Beberapa cerpen saya masuk nominasi untuk dibahas dalam forum bahas karya FLP. Sebuah kebanggaan...
            Agustus tahun 2006 Cerpen saya dimuat di Harian Solo Pos, bangga dan sangat bahagia sekali. Cerpen remaja yang mengangkat tema kebijakan Ujian Nasional yang dirasa tidak adil. Kurang lebih sebuan kemudian honor cerpen turun. Inilah yang saya maksud menikmati proses mengesampingkan hasil. Saya menikmati proses menulis saya tanpa bermimpi untuk apa tulisan saya.
            Sebulan kemudian cerpen kedua saya kembali dimuat di Solo Pos, cerpen berjudul Edan. Dan serasa gila juga karena dalam satu dua bulan sebagai penulis pemula dua cerpen masuk media massa.
            Kemudian tahun 2007, saya dihubungi ketua FLP Solo untuk mengirimkan beberapa cerpen saya untuk diikutkan dalam lomba menulis cerpen.
            Alhamdulillah, cerpen saya masuk 10 besar dan berhak dimuat dalam buku Antologi Cerpen 10 Cerpenis Jawa Tengah. Sesuatu tak terduga, sama tak terduganya ketika launching buku itu saya ditunjuk maju ke depan untuk membacakan cerpen saya. Karena saya tak menduga dan teramat sangat gugup, akhirnya saya meminta diwakilkan oleh salah seorang mentor saya di FLP, salah sata inspirator saya di FLP, seorang kartunis, cerpenis NasSirun Purwokartun atau biasa kami panggil Kang NasS.
            Setelah itu tidak tahu mengapa, saya vakum menulis, entah karena punya kesibukan lain, membantu orang tua di usaha percetakannya, masuk menjadi honorer sebagai staf Tata Usaha di sebuah SMP, atau karena yang lain? Entahlah, tapi masa vakum menulis itu yang tidak saya suka, tapi saya jalani.
            Dan 2013, saya kembali menulis. Saya mengirimkan tcerpen lama saya ke Majalah Serambi Al-Muayyad dan dimuat pada bulan Agustus 2013.
Tapi tulisan pertama saya setelah vakum sekian lama adalah terinspirasi dari istri dan anak perempuan kami yang masih dua tahun dengan seorang ibu pemulung dengan dua anak balitanya yang memulung dimalam hari. Yang mengais sampah di tempat sampah warga.. Pengalaman inspiratif ini saya tulis dalam sebuah cerpen berjudul “Lebaran Reri” yang dimuat di Majalah Hadila September 2013.
Kemudian saya mencoba mengumpulkan cerpen-cerpen saya juga satu novel saya untuk saya terbitkan sendiri, self publisher melalui www.nulisbuku.com.
Semoga Februari 2014 ini buku-buku saya itu bisa terbit. Sekarang saya kembali memulai menulis dan menikmati proses menulis novel saya.
Semoga bisa bermanfaat, selayaknya cahaya bulan sabit, tetap bercahaya meski tak purnama.

Bidadari Surga

 Tuti Anggraini, A.Md.


Kehidupan itu akan terus berjalan dan meninggalkan peristiwa masa lalu yang ditinggalkan. Kehidupan itu akan terus berubah sesuai dengan perubahan yang kita inginkan. Satu-satunya yang tetap adalah perubahan itu sendiri.
Aku, merasa perubahanku yang mengubah segala sikap berontakku dimulai tahun 2009. Perubahan yang bercabang menjadi dua sisi, hitam dan putih. Sisi hitam yang kini ingin kuputihkan lagi adalah berhentinya aku menulis. Sedangkan sisi putihnya adalah aku mencoba meniti kehidupan yang harus baru, meniti jalan untuk menikah.
Aku mengenalnya sebagai wanita kota yang sederhana, seorang yang hidup di kota tapi ternyata berasal dari tetangga desa dimana saya tinggal.
“Miracle..” ya, sebuah keajaiban karena pertemuan kami, karena meski berharap bertemu, tapi jarak yang membuatku ragu akan pertemuan itu. Dia di Jakarta dan rumahnya di Palembang, sementara saya di ujung timur Jawa Tengah.
Tapi keajaiban itu terwujud di bulan September 2009 menjelang Hari Raya Idul Adha, saat orang-orang membuat kabar saya ditingggal menikah kekasih. Haha, saya tertawa mengingat kabar burung itu, saya tahu Desa saya, dan saya tak peduli kabar tak benar itu.
Maka saya tetap melangkah menuju tempat pertemuan dengan perempuan sederhana yang telah dijanjikan di rumah neneknya tepat di sebelah timur desa saya. Dia ditemani pamannya yang sedang bekerja diteras rumah neneknya.
Pertama melihat, jauh dari apa yang saya bayangkan sebagai perempuan kota, jauh bagaikan lagit dan bumi. Selama ini gadis-gadis kota yang saya lihat adalah seperti dalam televisi dengan pakaian ketat dan polesan make up di sekujur tubuhnya. Tapi ini jauh sekali dari itu, dia sangat sederhana, dengan rambut panjang yang diikat sederhana, dengan rok panjang mendekat telapak kaki. Wow, amazing...
Ada pertemuan pertama, ada juga pertemuan kedua. Sehari setelahnya dia datang ke rumahku diantar pamannya yang ternyata telah berteman lama dengan bapakku. Dan kalau diurutkan ke atas, dia ternyata masih ada hubungan keluarga dengan nenek buyutku. Pertemuan di senja itu adalah juga perpisahan, setidaknya untuk sementara waktu, karena esoknya setelah sholat idul adha, dia kembali ke Jakarta, tempatnya bekerja.
Harapan untuk bertemu lagi tentu saja sangat sulit, sampai kakak babpkku mengenalkan aku pada seorang gadis yang berprofesi sebagai guru di Jawa Timur. Sayapun tak menolak untuk dikenalkan, apa salahnya berkenalan?
Beberapa kali pertemuan, yang membuat saya ada di dua pilihan, wanita sederhana itu atau wanita yang sebagai guru?
Tapi memang pertanyaan ada jawabnya. Guru itu menentukan pilihan pada anggota TNI yang bertugas di Jawa Barat. Maka telah terjawablah pertanyaanku. Kemudian akhir tahun 2009, gadis yang kukenal sebagai Tuti Anggraini itu berkunjung kembali ke rumah neneknya bersama seluruh keluarganya di palembang, lengkap dengan ayah dan ibunya. Sayapun memberanikan diri untuk bertemu, berkenalan dengan keluarga besarnya.
Gugup, keringat dingin, deg-degan campur aduk yang saya rasakan, apalagi saya duduk tepat di samping ayahnya. Obrolan-obrolan kecil muncul. Dalam pertemuan itu setidaknya mereka tahu bahwa saya berani untuk bertatap muka dengan mereka.
Lagi-lagi tanpa diduga, awal Januari 2010 orang tua saya memberitahu saya bahwa mereka akan melamar gadis Palembang itu untuk menikah dengan saya. Lamaran itu dilakukan melalui budhe saya yang tinggal di Palembang.
Tak bisa saya jawab. Saat itu saya antara yakin dan tidak dengan pernikahan saya. Segala bimbang muncul bertubi-tubi sehingga membuat saya nampak seperti remaja yang teramat labil.
Benar saja, budhe saya mengabarkan telah melamar dan diterima. Pernikahan dilaksanakan lima bulan lagi, itu berarti Mei 2010.
Kelabilan saya yang membuat calon istri saya sering menangis karena saya. Saya masih ragu dengan pernikahan, dengan calon saya, dengan jarak yang teramat jauh, dengan kehidupan setelah nikah, dengan semuanya.
Sayapun sempat terjerumus dalam jalan yang salah, minuman keras. Dunia terasa hitam semuanya, menghibur diri dengan berbagai kesenangan asal bisa tertawa..
Sampai akhirnya saya membaca sebuah hadits kalau mengkonsumsi minuman keras, maka empat puluh hari sholatnya tidak diterima. Saya sempat berfikir, bagaimana dalam jarak empat puluh hari itu saya mati? Mati dalam keadaan sholat yang tidak diterma...
Mencoba sadar, mengucap istighfar. Tapi saya tetap sholat, biarlah tidak diterima, tapi saya mencoba meminta maaf pada-Nya. Mungkin setelah empat puluh hari saya terbangun dari tidur di malam hari, saya melakukan sholat tahajud, kemudian sholat hajat dilanjutkan sholat istikharoh. Agar saya dikuatkan hati saya, kalau memang dia adalah jodoh yang telah ditakdirkan untuk menikah dengan saya, saya mohon dihilangkan keraguan saya, diyakinkan lebih pada hati saya.
Pagi harinya saya menonton TV, acara yang diperlihatkan liputan tentang Palembang. Biasa saja, yang menjadi tidak biasa adalah dalam sehari itu tiap kali melihat TV acaranya selalu berhubungan dengan Palembang, entah jembatan Ampera, entah sejarah Palembang, entang kuliner Palembang, selalu ada.
Hari berikutnya, meski tak sesering kemarin, berita tentang palembang tetap ada. Kemudian saya berfikir, apakah ini jawaban dari istikharoh saya kalau jodoh saya adalah gadis Palembang itu? Mungkinkah jawabannya melalui televisi, tak adakah jawaban yang lebih dalam lagi?
Saya tetap bimbang, tetap membuat calon istri saya menangis, tetap membuat sakit hati calon istri saya, sikap yang kini kusesali. Tapi saya ingat, tiap kali saya menghadapi masalah saya selalu ingin bercerita melalui telepon pada calon istri saya, selalu. Antara Januari sampai Mei 2010. Mungkin itu sebuah jawaban dari istikharoh saya lagi.
Sampai akhirnya bulanpun memasuki bulan Mei. Tanggal 23 Mei, saya harus menuju Palembang, untuk menikah pada 28 Mei 2010.
Bersama nenek dan paman calon istri saya, bersama budhe saya yang tinggal di Ponorogo, saya naik bis dan menyeberangi selat Sunda menuju Palembang. Ada kejadian yang bagi sebagian orang dianggap berhubungan dengan mistis.
Kejadiannya dalah mogoknya bis yang saya tumpangi berkali-kali padahal kata sopirnya bis itu bis yang baru, mogok pertama di Salatiga, karena kabel AC putus, mogok kedua di Semarang, kemudian mogok ketiga di Jawa Barat, mungkin Ciamis atau daerah lain, saya lupa. Tiap mogok waktu yang dibutuhkan untuk kembali jalan cukup lama. Sayapun sampai bosan makan bekal saya, keripik tahu. Kemudian masuk ke kapal, di dalam kapal kembali bis bermasalah dengan AC, setelah menyeberang, bis mogok lagi di Lampung. Di sini rumor beredar, ternyata di dalam bis selain saya yang akan menikah, ternyata ada tiga calon mempelai lagi yang akan menikah menumpang bis itu. Inilah yang menjadi mitos, bis tidak kuat dengan aura calon pengantin. Senyum kecil saya mendengarnya. Rumor yang berdar yang lain adalah kenek bis membawa jimat berupa keris. Percaya?
Sampaidi pull bis di Lampung, kami penumpang oper bis. Akhirnya sampai di Palembang Molor satu hari, rencana sampai Palembang tanggal 25 pagi, harus ditempuh sampai tanggal 26 Sore. Padahal besoknya saya harus akad nikah. Saya dan budhe saya menginap di rumah budhe Palembang. Masalah selesai? Tidak, ternyata setelah saya cek perlengkapan saya, baju yang akan saya kenakan untuk akad nikah ketinggalan di rumah, di Wonogiri, sementara saya hanya membawa satu baju ganti yang sangat tidak pantas untuk dikenakan melaksanakan akad nikah. Akhirnya saya minta tolong pada kakak sepupu saya untuk membelikan baju berwarna hijau muda sesuai dengan baju yang ketinggalan.
Selesai? Masih belum, saya tidak membawa peci atau kopiah. Tepatnya tidak punya dan tidak memiliki niat untuk beli untuk akad nikah, saya berniat akad nikah tidak memakai peci, biar beda. Ternyata salah, karena kebiasaan di Palembang, akad nikah adatnya memakai kopiah. Untungnya suami budhe saya memiliki banyak koleksi kopiah, padahal keluarga budhe saya bukan muslim, salut saya. Pluralisme Indonesia harus terus dijaga. Sayapun diberi satu yang pas saya kenakan.          
Setelah itu saya dikasih tahu cara mengucap akad nikah. Paginya jam sembilan saya berangkat ke tempat akad nikah di rumah calon istri saya. Antara lupa dan ingat dengan wajah calon saya, rasa bimbang masih ada meski sedikit demi sedikit mulai terhapus. Harus dijalani, harus, mantapkan hati.
28 Mei 2010, jam 08.00 WIB di Bukit Sangkal, Kalidoni, Palembang

“Saya terima nikahnya Tuti Anggraini binti Slamet dengan maskawin tersebut dibayar tunai.”
Setelah sempat molor satu jam, dengan mahar uang tunai sebesar duaratus delapanpuluh ribu lima ratus sepuluh rupiah, akad nikah berjalan lancar, saya tidak mengulangi kalimat akad nikah. Sebuah prestasi, karena kata penghulunya tidak semua orang yang pernah dinikahkannya lancar mengucap akad nikah, meski Cuma sedikit, meski dengan membaca.
Istri saya keluar dari kamar untuk menandatangi buku nikah, saya pegang tangannya untuk memasukkan cincin kawin yang terukir nama saya, sayapun memiliki cincin kawin yang terukir namanya.
Pernikahan hari Jum’at, 28 Mei 2010 itu hari dimana saya sudah benar-beran yakin bahwa dia adalah istri saya, pendamping hidup saya, sahabat sejati saya, dan bidadari surga saya.
“Demi Allah, saya mencintaimu, istriku.” Kata yang terucap dalam hati saya..
Dan saya sholat jum’at bersama ayah mertua saya

Sejarah Keluarga Kerabat Singo Prono (Joyo Wilastro/Mantri Gedhong Praja Mangkunegara I)

          Dengan berkah serta perlindungan Allah yang Maha Esa dan Maha Murah dan Maha Adil serta Maha Kasih yang tanpa pilih kasih, termas...