Dimuat di Jawa Pos Radar Banyuwangi, 5 Oktober 2025
“Pada saatnya nanti, akan kubuat
matahari itu sebagai hadiah untukmu,” ucap Pujud sambil menunjuk matahari yang
menyilaukan mata di bawah birunya langit bumi Sriwijaya.
“Aku tak suka silaunya,” sahut
Wangi, kekasihnya.
“Akan kubuat matahari itu berwarna jingga.
Warna senja kesukaanmu.” Lelaki pemilik banyak lahan itu mantap dengan
janjinya.
Pujud ingat, hal itu terjadi karena
tantangan orang tua Wangi beberapa hari yang lalu saat mengutarakan niatnya
mempersunting kekasihnya itu.
Wangi bangga pada keteguhan hati
Pujud. Mendengar janji itu, hatinya gemetar. Bangga.
“Agar orang tuamu melihat, bahwa aku
bisa berbuat apapun. Bahkan mengubah takdir. Mengubah warna matahari!” lanjut
Pujud tegas.
Perlahan, matahari tergelincir ke
arah barat, meski panasnya masih menyengat sepasang kekasih itu. Panas matahari
itu bagi Pujud adalah tantangan baginya untuk menunjukkan kesombongannya
merubah matahari menjadi jingga.
Jembatan Ampera menjadi saksi atas
sebuah janji seorang pemuda kaya pada kekasinya. Sebuah janji yang jika tidak
ditepati akan membuat malu dirinya sebagai seorang lelaki. Baginya, kemegahan
jembatan itu menyiratkan keteguhan janjinya untuk menantang takdir.
Lalu lalang orang-orang di sekitar
jembatan legendaris yang berwarna jingga tersebut saat ini tidak mempedulikan
janji besar dari seorang Pujud. Kelak janji itu sebenarnya juga mempengaruhi
orang-orang di sekitar mereka.
Kini Pujud mulai berpikir dengan
cara apa dia menantang matahari. Sebuah perbuatan yang tidak main-main,
menjadikan warna matahari berubah.
Pujud ingat, sebenarnya janji itu
telah dia utarakan secara spontan saat mempersunting Wangi beberapa hari yang
lalu. Sebab orang tua Wangi seakan meremehkan kekayaannya demi menolak dirinya
menjadi suami Wangi.
“Aku tahu kau pasti bisa memberikan
banyak harta untuk Wangi. Tapi Wangi jauh lebih berharga dari itu semua!” ujar
ayah Wangi saat itu.
Hal itu tentu menempeleng harga diri
Pujud. Baginya apapun bisa dia berikan demi menikahi Wangi.
“Jangankan emas. Matahari senja pun
akan kuberikan untuk Wangi!” balas Pujud sambil menahan geram.
Mendengarnya, ayah Wangi seakan
mendapat angin segar. Orang tua itu seakan mendapat jalan demi menolak
keinginan Pujud yang temperamental. Sifat itu yang tidak disukai orang tua
Wangi.
“Buktikan! Kau telah menjanjikan
senja. Sebagai lelaki, kau tentu pantang menelan ludahmu sendiri!” Ayah Wangi
berdiri lalu berlalu masuk ke dalam rumahnya, diikuti ibu Wangi.
Tinggal Wangi yang duduk menunduk di
ruang depan. Janji kekasihnya itu bukan man-main. Dalam hati, Wangi meragukan
janji Pujud. Gadis itu tahu, sifat keras hati Pujud ditampakkan di depan orang tuanya dan
janji itu keluar demi melindungi harga dirinya. Sedangkan bagi Pujud, janji
yang diucapkan itu keluar begitu saja tanpa dia sadari. Namun janji telah terucap
tak dapat ditarik kembali. Janji yang jika dia ingkari akan melepaskan Wangi
dari genggamannya dan jika diwujudkan, hal itu bagai membangun kota di lapisan
luar matahari. Konyol.
***
Maka siang ini ketika bertemu Wangi
di dekat jembatan Ampera, Pujud meyakinkan bahwa dia mampu mewujudkan janjinya
itu. Menjadikan matahari selalu jingga. Selalu senja.
“Janjiku seperti api ini,” kata
Pujud sambil menyalakan api di tangannya. Lalu api itu dijatuhkan ke sungai
musi. Seketika api itu padam, menyisakan asap. “Menyala. Panas. Namun tak mampu
mengalahkan air,” lanjutnya.
“Aku terus berusaha yakin bahwa kamu
mampu, meski aku meragukannya. Tapi janji telah kau ucap, buatkan senja
untukku. Matahari yang selalu jingga.” Wangi membangkitkan semangat dalam diri
Pujud.
Wagi selalu seperti air bagi Pujud,
yang selalu memadamkan apinya yang selalu menyala-nyala.
“Api,”
desis Pujud. “Ya. Aku bisa. Tunggu beberapa hari lagi. Matahari akan selalu
senja sepanjang hari.” Pujud tersenyum. Senyum kemenangan.
***
Di tepi sungai musi, Pujud dan Wangi
kembali bertemu di hari yang pengap dengan mata yang basah dan napas yang naik
turun.
“Lihatah, Wangi. Lihat matahari itu.
Matahari jingga yang kujanjikan.” Meski napasnya terengah-engah, dia terlihat
riang dengan mewujudkan janjinya itu.
Wangi menatap matahari. Matahari itu
bulat penuh, tidak menyilaukan matanya. Dengan warna jingga, seperti janji
Pujud.
“Tidak, langit itu kelabu meski
matahari jingga. Ini bukan jingga dalam indahnya senja. Apa yang kaubuat?”
“Aku wujudkan janji bahwa matahari
selalu jingga. Hadiah untukmu.”
“Dan lihatlah orang-orang itu.”
Wangi memandang sekeliling. Orang-orang banyak yang memakai penutup hidung.
“Lalu lihatlah ke depan sana. Kemana Ampera yang kemarin jelas terlihat dari
sini? Semua kelabu, warna mendung, warna duka. Aku tak menerima semua ini!”
keluh Wangi pada Pujud.
“Mengubah takdir itu harus bersedia
berkorban, Wangi. Setiap perjuangan besar dan setiap perubahan selalu
membutuhkan korban.”
“Aku tahu ini perbuatanmu. Dan ini bukan
perjuangan, tapi ini merusak segalanya. Juga lihatlah dirimu, napasmu
putus-putus. Ini juga karena asap yang kau buat untuk menutup matahari itu.”
“Ah kau tidak memahami perubahan.
Bukankah janjiku menjadikan matahari berwarna jingga? Terimalah, dan kita akan
hidup lebih bahagia, karena sebentar lagi lahanku akan semakin banyak.”
“Tidak. Kau buat matahari menangis!”
Wangi lalu berlari meninggalkan Pujud, membelah asap yang menyelubungi kotanya.
Kembali Pujud merasa direndahkan.
Teringat lahan yang dihanguskannya. Dilihatnya udara tertutup asap dari lahan yang terbakar, membuat
matahari berwarna jingga. Api dari tangannya
kembali menyala. Matanya menyeringai menatap kekasihnya yang pergi.
“Kaupun akan kubuat jingga, Wangi!”
gumam Pujud seperti kutukan.
***
Bukit Sangkal, 29 Oktober 2015 14.42 WIB
.jpeg)