Untuk mendapatkan gamabran yang lebih jelas tentang para Leluhur kita, berangkali ada baiknya apabila diutarakan secara ringkas, sejarah aataupun riwayat mulai dari asal sumber yang menurunkan para Leluhur. Apabila didalam uraian ini banyak dikemukakan hal-hal yang berkaitan dengan Kraton, sama sekali bukan dimaksudkan untuk menonjolkan strata dan status kebangsawanan dengan lika-liku gelarnya, akan tetapi justru sebaliknya. Didalam uraian berikutnya akan tampak secara jelas langsung maupun tak langsung, betapa para Leluhur kita lebih suka memilih menetap berbaur dengan masyarakat di pelosok pedesaan, tanpa menonjolkan predikat kebangsawanannya. Kesemuanya itu didorong oleh motivasi keyakinan akan kebenaran cita-cita perjuangan para Nenek-Moyang serta kecintaannya terhadap lingkungan hidupnya, konsisten dengan tujuan hidup masyarakat Jawa yakni tercapainya keselarasan yang serasi dengan alam semesta seisinya.
Untuk mengawali uraian ini, maka mau tidak mau harus dimulai dari zaman Kartosuro, nama Kartosuro ini dimulai pada masa pemerintahan Amangkurat II /Amangkurat Amral, cucu Sultan Agung, memindahkan ibu-kota ke Wonokerto dan kerajaan Mataram diubah namanya menjadi Kartosuro Hadiningrat. Dan sebagaimana kita ketahui bahwa sumber asal para Leluhur kita berawal dari B.P.H. Mangkunagoro (Kartosuro).
B.P.H. Mangkunagoro: adalah putra sulung Amangkurat IV (Amangkurat Mas/Jawi) dari istri R.Ay. Kulon (berasan dari Semboyan). Selain Pangeran Mangkunagoro, para putra Amangkurat IV yang terkenal adalah : 1. Sri Sunan Paku Buwono II, putra ke-10 dari Permaisuri G.K.R. Kencana (dari Kudus); 2. B.P.H. Hadiwijoyo (seda Kaliabu), putra ke-18 dari istri R. Pandansari; dan 3. B.P.H Mangkubumi, putra ke-21 dari istri R.Ay. Tejowati Keempat Pangeran tsb, masing-masing mempunyai kelebihan sendiri; B.P.H. Mangkunagoro ahli dibidang Ketata Negaraan dan Agama serta Kejiwaan. Karena mencemaskan hubungan Kraton dengan Kompeni Belanda, maka beliau sering mengasingkan diri meninggalkan Ibu-kota Kerajaan, untuk bermeditasi. Tindakannya ini menimbulkan kesalah-pahaman pihak kerajaan dan beliau dituduh akan makar; karena merasa terasing, pindah bermukim di daerah asal Ibunya di Semboyan. Dengan bantuan Kompeni Belanda, akhirnya beliau ditangkap dan diasingkan ke Ceylon (sekarang Srilanka), diikuti beberapa kerabat.
B.P.H. Mangkunagoro antara lain berputra: 1. R.M. Said, setelah dewasa bernama R.M. Suryokusumo (dan kemudian menjadi K.G.P.A.A. Mangku Nagoro I); 2. Panembahan Potrokusumo (ketika muda bernama R.M. Ambiya); yang mengikuti jejak ayahandanya dibidang Spiritual, sehingga menanggalkan gelar kebangsawanannya dan bermukim diwilayah Wonogiri; oleh para pengikutnya digelari Panembahan. Beliau bersama adiknya (R.M. Sabar), kelak membantu perjuangan R.M. Said (Pangeran Sambernyowo).
R.M. Said (yang ahli dibidang Militer dan Pemerintahan) semula mengabdikan diri di Kartusuro, namun intrik dan finah Patih Pringgoloyo, beliau berontak. R.M. Said, menyatakan dirinya tidak lagi bersedia mengakui kedaulatan Kartosuro, meloloskan diri beserta seluruh keluarga dan kerabatnya. Tekadnya makin bulat untuk mengusir Kompeni Belanda dari bumi Mataram. Dari markasnya bermula di desa Nglaroh, dan kemudian berpindah-pindah, dilancarkanlah peperangan melawan Belanda dan pasukan Kartosuro di medan tempur mulai dari Wonogiri, Ponorogo, Madium, Nambangan, Sragen, Cepu, Bojanegoro hingga Grobogan bahkan Kedu Bagelen hinggan Banyumas. (Secara lengkap dapat dibaca dalam Sejarah, babad Salatiga, Babad Panambangan dslb.) Tekad perjuangan waktu itu diikrarkan: “TIJI TIBEH”, artinya : mati sijih mati kabeh, dan mukti siji mukti kabeh.
Selama perjuangannya, pernah bergabung dengan Pangeran Mangkubumi (Pamannya), dan kawin dengan salah seorang putri Mangkubumen. Ketika Pangeran Mangkubumi dinobatkan sebagai Sinuhun Mangkubumi (Sinuhun Sukowati) beliau diangkat menjadi Patih dengan gelar dan nama K.G.P.A. Mangku Nagoro. Selama itu beliau beserta kerabatnya lebih banyak bermukim di sekitar Madiun, Ponorogo dan Wonogiri, karena itulah mempunyai hubungan erat kekerabatan dengan pemuka masyarakat setempat. Sebelum menjadi menantu B.P.H. Mangkubumi, beliau menikah dengan putri seorang Ulama: Kyai Nuriman, perkawinannya ini berputra seorang putri bernama R.Aj. Sombrong.
Perlu diketahui bahwa menjelang perjanjian Giyanti (desa Pagiyanti), R.M. Said memisahkan diri dari pasukan Mangkubumen, dan meneruskan perlawanan terhadap Belanda. Hal ini disebabkan beliau sangat kecewa karena Mataram dipecah menjadi 2 (dua) wilayah Kerajaan; dan tidak urung akan kian mudah dilindas Belanda. Kekecewaannya itu pernah disampaikan kepada kerabat dekatnya dan sekaligus juga salah seorang penasehatnya, yakni Tumenggung Kudonowarso.
Sejak itu kian bulat dan mantaplah tekadnya, untuk tidak pulang kembali ke Mataram sebelum: 1. Belanda terusir dari bumi Mataram dan 2. Sebelum dapat mempersatukan para birokrat dan tokoh Mataram untuk membangun kembali Wilayah dan bangsanya. Ketika pada tahun 1757, beliau dipanggil kembali oleh Sri Sunan Paku Buwono III (adik sepupunya), untuk pulang kembali ke Surakarta Hadiningrat, dengan sangat berat hati terpaksa dipenuhinya, dengan syarat : 1. Bekas Rumah kediaman Patih Sindurejo, diminta untuk menjadi tempat tinggalnya (kompleks Puro Mangkunagaran sekarang). 2. Gelar dan Nama K.G.P.A. tetap diminta untuk dipakai. 3. Seluruh wilayah yang didudukinya tetap menjadi wilayah kekuasaannya. Dengan dasar perjanjuan Salatiga maka, seluruh tuntutannya dipenuhi dan beliau, dinobatkan sebagai seorang Pangeran Adipati dan sekaligus Senopati Surakarta Hadiningrat.
Inilah kesemua ringkasnya, dan selanjutnya menjadi lebih jelas bagi kita, mengapa para “Tedak Turunnya” (mulai dari Eyang Harjoreksoko), dinikahkan dengan para pemuka dan kerabat dari bekas basis wilayah pejuangan Pangeran Sambernyowo. Wilayah tersebut meliputi Purwantoro, Jatsrono di Wonogiri dan Badegan, Sumoroto di Ponorogo serta wilayah Madiun. Jejak Pangeran Sambernyowo ini diikuti oleh adiknya yakni Panembahan Potrokusumo. Dua alur waris bersaudara itu, atas kehendak Tuhan YME akhirnya dipersatukan/dipertautkan kembali pada turunan VI – V, yakni perkawinan antara Eyang Juminah dengan Eyang Poncodikromo. Demikian dari generasi hingga kita sekalian yang pada akhirnya telah menyebar ke seluruh pelosok Nusantara tercinta.
Mengapa Eyang-eyang itu lebih memilih tinggal dan hidup dipelosok pedesaan (menurut ukuran pada zaman itu) daripada menetap dan menikmati hidup di Kotaraja ? Sebagai keturunan ningrat, beliau-beliau tanpa banyak kesulitan, tentu bisa mencapai tingkat kedudukan yang baik dan mendapatkan tempat tinggal yang lebih nyaman dipusat pusat pemerintahan, tetapi tidak pula dilakukannya, mengapa ? Inilah hikmah salah satu warisan beliau yang patut kita syukuri. Jelas disini betapa tajamnya para Eyang kita menalari, menghayati serta melaksanakan secara konsekuen, segala yang tersurat serta tersirat didalam wasiat Leluhur terdahulu.
Jika dianalisis dalam relevansinya dengan cara berpikir dewasa ini, maka kurang lebih adalah sebagai berikut:
1. Para Eyang merasa mengemban amanat cita-cita luhur dari Leluhur yang belum sempat terselesaikan, yakni terusirnya penjajah dan persatuan bangsa serta pembagunan Tanah Air seisinya, dengan kekuatan diri sendiri berasaskan jati diri manusia Jawa. Percaya akan diri sendiri dilandasi iman yang kokoh, memang merupakan kekuatan yang tak kenal surut. Faham akan kewajiban.
2. Untuk mencapai itu kesemuanya, makna falsafah “kumpule balung pisah” tidak diartikan mutlak harus bermukim disatu tempat dan menjalin kekerabatan dalam arti sempit, justru harus bersedia menyebar berbaur dalam masyarakat yang lebih luas. (seperti fasafah pohon pisang; jika ingin pohon dan buah yang subur, anakannya harus dipisah dari rumpun induknya). Bukankah ini relevan dengan konsep transmigrasi swakarsa? Disamping itu dalam kaitannya dengan perjuangan mengusir penjajah, tiada lain adalah pemekaran pengaruh dan pemerataan kekuatan untuk memecah kekuatan lwan.
3. Bersedia menjadi pelopor didalam membangun serta mengembangkan tempat yang baru karena disitulah sumber penghidupan bersama anak-cucu bersama masyarakatnya dan menjadi pangkalan perjuangan kelak. Membaur bukan berarti menanggalkan jati diri, akan tetapi justru terjadi pengayaan wawasan dan budaya, kebhinekaan kian beragam corak warnanya, sedangkan kesatuan dan hakekat keyakinan akan cita-cita luhur kian meluas, mendalam dan mantap.
4. Daerah/Wilayah sebagai basis penopang suksesnya perjuangan tidak mungkin dilupakan dan diabaikan; Pusat dengan Daerah (Pelosok) bisa dibedakan tetapi tidak mungkin dipisahkan. Bukankah ini konsep Sentralisasi dan desentralisasi yang dimulai aplikasinya dari kerabat sendiri?
5. Secara tak langsung menanamkan kesadaran berbangsa dan bernegara (falsafah kebangsaan) kepada masyarakat daerah pelosok tanpa kesan menggurui. Itulah sebabnya para Eyang putri banyak yang dinikahkan dengan Lurah, Demang dan bukan dengan Wedana atau Bupati (yang sebagian telah terbius bujuk rayu Belanda). Lurah dan Demang bukan saja Pamong rakyat, akan tetapi pemuka yang faham benar serta tak terpisahkan dari masyarakat serta wilayahnya.
Kini kita lebih paham, mengapa Eyang Malang Wibowo, Eyang Poncosasmito dan Eyang Poncodikromo lebih suka dan krasan menetap dipelosok, hingga diakhir hayatnya jasadnya tenteram disemayamkan di Pemakaman Gunung Cilik Badegan Ponorogo. Disamping itu masih terdapat pula Pekerjaan Rumah untuk kita yakni menelusuri kembali dan mencatat: Siapa suami Eyang-eyang putri kita itu (dalam sisilah tampak jelas bahwa keturunan Leluhur kita lebih dominan putri daripada prianya), dari mana pula asal-usulnya. Misalnya: Siapa Eyang Harjoreksoko Kakung, dan Eyang Malang Wibowo Kakung itu? Atau siapakah Besan Eyang-eyang itu? Dari beberapa sumber yang patut dipercaya, salah seorang Besan Eyang Malang Wibowo, yaitu "Eyang Joyodirono" sekaliyan, dimakamkan di "Gunung Bungkus" letaknya ± 12 km dari Makam Gunung Cilik.
Kini kesemuanya terserah kepada kita, akan mampukah kita mewujudkan harapan serta dambaan para Leluhur. Dengan keutuhan keakraban Paguyuban Kekerabatan kita yang bukan bersifat eksklusif, tetapi justru memadu kehendak mulya, yakin pasti kita mampu. Semoga Tuhan YME senantiasa melimpahkan Rahmat dan hidayahnya kepada kita sekalian. Amien.