Selasa, 03 November 2026

BEBERAPA CATATAN TENTANG PARA LELUHURKU

Untuk mendapatkan gamabran yang lebih jelas tentang para Leluhur kita, berangkali ada baiknya apabila diutarakan secara ringkas, sejarah aataupun riwayat mulai dari asal sumber yang menurunkan para Leluhur. Apabila didalam uraian ini banyak dikemukakan hal-hal yang berkaitan dengan Kraton, sama sekali bukan dimaksudkan untuk menonjolkan strata dan status kebangsawanan dengan lika-liku gelarnya, akan tetapi justru sebaliknya. Didalam uraian berikutnya akan tampak secara jelas langsung maupun tak langsung, betapa para Leluhur kita lebih suka memilih menetap berbaur dengan masyarakat di pelosok pedesaan, tanpa menonjolkan predikat kebangsawanannya. Kesemuanya itu didorong oleh motivasi keyakinan akan kebenaran cita-cita perjuangan para Nenek-Moyang serta kecintaannya terhadap lingkungan hidupnya, konsisten dengan tujuan hidup masyarakat Jawa yakni tercapainya keselarasan yang serasi dengan alam semesta seisinya. 

Untuk mengawali uraian ini, maka mau tidak mau harus dimulai dari zaman Kartosuro, nama Kartosuro ini dimulai pada masa pemerintahan Amangkurat II /Amangkurat Amral, cucu Sultan Agung, memindahkan ibu-kota ke Wonokerto dan kerajaan Mataram diubah namanya menjadi Kartosuro Hadiningrat. Dan sebagaimana kita ketahui bahwa sumber asal para Leluhur kita berawal dari B.P.H. Mangkunagoro (Kartosuro). 

B.P.H. Mangkunagoro: adalah putra sulung Amangkurat IV (Amangkurat Mas/Jawi) dari istri R.Ay. Kulon (berasan dari Semboyan). Selain Pangeran Mangkunagoro, para putra Amangkurat IV yang terkenal adalah : 1. Sri Sunan Paku Buwono II, putra ke-10 dari Permaisuri G.K.R. Kencana (dari Kudus); 2. B.P.H. Hadiwijoyo (seda Kaliabu), putra ke-18 dari istri R. Pandansari; dan 3. B.P.H Mangkubumi, putra ke-21 dari istri R.Ay. Tejowati Keempat Pangeran tsb, masing-masing mempunyai kelebihan sendiri; B.P.H. Mangkunagoro ahli dibidang Ketata Negaraan dan Agama serta Kejiwaan. Karena mencemaskan hubungan Kraton dengan Kompeni Belanda, maka beliau sering mengasingkan diri meninggalkan Ibu-kota Kerajaan, untuk bermeditasi. Tindakannya ini menimbulkan kesalah-pahaman pihak kerajaan dan beliau dituduh akan makar; karena merasa terasing, pindah bermukim di daerah asal Ibunya di Semboyan. Dengan bantuan Kompeni Belanda, akhirnya beliau ditangkap dan diasingkan ke Ceylon (sekarang Srilanka), diikuti beberapa kerabat. 

B.P.H. Mangkunagoro antara lain berputra: 1. R.M. Said, setelah dewasa bernama R.M. Suryokusumo (dan kemudian menjadi K.G.P.A.A. Mangku Nagoro I); 2. Panembahan Potrokusumo (ketika muda bernama R.M. Ambiya); yang mengikuti jejak ayahandanya dibidang Spiritual, sehingga menanggalkan gelar kebangsawanannya dan bermukim diwilayah Wonogiri; oleh para pengikutnya digelari Panembahan. Beliau bersama adiknya (R.M. Sabar), kelak membantu perjuangan R.M. Said (Pangeran Sambernyowo). 

R.M. Said (yang ahli dibidang Militer dan Pemerintahan) semula mengabdikan diri di Kartusuro, namun intrik dan finah Patih Pringgoloyo, beliau berontak. R.M. Said, menyatakan dirinya tidak lagi bersedia mengakui kedaulatan Kartosuro, meloloskan diri beserta seluruh keluarga dan kerabatnya. Tekadnya makin bulat untuk mengusir Kompeni Belanda dari bumi Mataram. Dari markasnya bermula di desa Nglaroh, dan kemudian berpindah-pindah, dilancarkanlah peperangan melawan Belanda dan pasukan Kartosuro di medan tempur mulai dari Wonogiri, Ponorogo, Madium, Nambangan, Sragen, Cepu, Bojanegoro hingga Grobogan bahkan Kedu Bagelen hinggan Banyumas. (Secara lengkap dapat dibaca dalam Sejarah, babad Salatiga, Babad Panambangan dslb.) Tekad perjuangan waktu itu diikrarkan: “TIJI TIBEH”, artinya : mati sijih mati kabeh, dan mukti siji mukti kabeh. 

Selama perjuangannya, pernah bergabung dengan Pangeran Mangkubumi (Pamannya), dan kawin dengan salah seorang putri Mangkubumen. Ketika Pangeran Mangkubumi dinobatkan sebagai Sinuhun Mangkubumi (Sinuhun Sukowati) beliau diangkat menjadi Patih dengan gelar dan nama K.G.P.A. Mangku Nagoro. Selama itu beliau beserta kerabatnya lebih banyak bermukim di sekitar Madiun, Ponorogo dan Wonogiri, karena itulah mempunyai hubungan erat kekerabatan dengan pemuka masyarakat setempat. Sebelum menjadi menantu B.P.H. Mangkubumi, beliau menikah dengan putri seorang Ulama: Kyai Nuriman, perkawinannya ini berputra seorang putri bernama R.Aj. Sombrong. 

Perlu diketahui bahwa menjelang perjanjian Giyanti (desa Pagiyanti), R.M. Said memisahkan diri dari pasukan Mangkubumen, dan meneruskan perlawanan terhadap Belanda. Hal ini disebabkan beliau sangat kecewa karena Mataram dipecah menjadi 2 (dua) wilayah Kerajaan; dan tidak urung akan kian mudah dilindas Belanda. Kekecewaannya itu pernah disampaikan kepada kerabat dekatnya dan sekaligus juga salah seorang penasehatnya, yakni Tumenggung Kudonowarso. 

Sejak itu kian bulat dan mantaplah tekadnya, untuk tidak pulang kembali ke Mataram sebelum: 1. Belanda terusir dari bumi Mataram dan 2. Sebelum dapat mempersatukan para birokrat dan tokoh Mataram untuk membangun kembali Wilayah dan bangsanya. Ketika pada tahun 1757, beliau dipanggil kembali oleh Sri Sunan Paku Buwono III (adik sepupunya), untuk pulang kembali ke Surakarta Hadiningrat, dengan sangat berat hati terpaksa dipenuhinya, dengan syarat : 1. Bekas Rumah kediaman Patih Sindurejo, diminta untuk menjadi tempat tinggalnya (kompleks Puro Mangkunagaran sekarang). 2. Gelar dan Nama K.G.P.A. tetap diminta untuk dipakai. 3. Seluruh wilayah yang didudukinya tetap menjadi wilayah kekuasaannya. Dengan dasar perjanjuan Salatiga maka, seluruh tuntutannya dipenuhi dan beliau, dinobatkan sebagai seorang Pangeran Adipati dan sekaligus Senopati Surakarta Hadiningrat. 

Inilah kesemua ringkasnya, dan selanjutnya menjadi lebih jelas bagi kita, mengapa para “Tedak Turunnya” (mulai dari Eyang Harjoreksoko), dinikahkan dengan para pemuka dan kerabat dari bekas basis wilayah pejuangan Pangeran Sambernyowo. Wilayah tersebut meliputi Purwantoro, Jatsrono di Wonogiri dan Badegan, Sumoroto di Ponorogo serta wilayah Madiun. Jejak Pangeran Sambernyowo ini diikuti oleh adiknya yakni Panembahan Potrokusumo. Dua alur waris bersaudara itu, atas kehendak Tuhan YME akhirnya dipersatukan/dipertautkan kembali pada turunan VI – V, yakni perkawinan antara Eyang Juminah dengan Eyang Poncodikromo. Demikian dari generasi hingga kita sekalian yang pada akhirnya telah menyebar ke seluruh pelosok Nusantara tercinta. 

Mengapa Eyang-eyang itu lebih memilih tinggal dan hidup dipelosok pedesaan (menurut ukuran pada zaman itu) daripada menetap dan menikmati hidup di Kotaraja ? Sebagai keturunan ningrat, beliau-beliau tanpa banyak kesulitan, tentu bisa mencapai tingkat kedudukan yang baik dan mendapatkan tempat tinggal yang lebih nyaman dipusat pusat pemerintahan, tetapi tidak pula dilakukannya, mengapa ? Inilah hikmah salah satu warisan beliau yang patut kita syukuri. Jelas disini betapa tajamnya para Eyang kita menalari, menghayati serta melaksanakan secara konsekuen, segala yang tersurat serta tersirat didalam wasiat Leluhur terdahulu. 

Jika dianalisis dalam relevansinya dengan cara berpikir dewasa ini, maka kurang lebih adalah sebagai berikut: 

 1. Para Eyang merasa mengemban amanat cita-cita luhur dari Leluhur yang belum sempat terselesaikan, yakni terusirnya penjajah dan persatuan bangsa serta pembagunan Tanah Air seisinya, dengan kekuatan diri sendiri berasaskan jati diri manusia Jawa. Percaya akan diri sendiri dilandasi iman yang kokoh, memang merupakan kekuatan yang tak kenal surut. Faham akan kewajiban. 

 2. Untuk mencapai itu kesemuanya, makna falsafah “kumpule balung pisah” tidak diartikan mutlak harus bermukim disatu tempat dan menjalin kekerabatan dalam arti sempit, justru harus bersedia menyebar berbaur dalam masyarakat yang lebih luas. (seperti fasafah pohon pisang; jika ingin pohon dan buah yang subur, anakannya harus dipisah dari rumpun induknya). Bukankah ini relevan dengan konsep transmigrasi swakarsa? Disamping itu dalam kaitannya dengan perjuangan mengusir penjajah, tiada lain adalah pemekaran pengaruh dan pemerataan kekuatan untuk memecah kekuatan lwan. 

 3. Bersedia menjadi pelopor didalam membangun serta mengembangkan tempat yang baru karena disitulah sumber penghidupan bersama anak-cucu bersama masyarakatnya dan menjadi pangkalan perjuangan kelak. Membaur bukan berarti menanggalkan jati diri, akan tetapi justru terjadi pengayaan wawasan dan budaya, kebhinekaan kian beragam corak warnanya, sedangkan kesatuan dan hakekat keyakinan akan cita-cita luhur kian meluas, mendalam dan mantap. 

 4. Daerah/Wilayah sebagai basis penopang suksesnya perjuangan tidak mungkin dilupakan dan diabaikan; Pusat dengan Daerah (Pelosok) bisa dibedakan tetapi tidak mungkin dipisahkan. Bukankah ini konsep Sentralisasi dan desentralisasi yang dimulai aplikasinya dari kerabat sendiri? 

 5. Secara tak langsung menanamkan kesadaran berbangsa dan bernegara (falsafah kebangsaan) kepada masyarakat daerah pelosok tanpa kesan menggurui. Itulah sebabnya para Eyang putri banyak yang dinikahkan dengan Lurah, Demang dan bukan dengan Wedana atau Bupati (yang sebagian telah terbius bujuk rayu Belanda). Lurah dan Demang bukan saja Pamong rakyat, akan tetapi pemuka yang faham benar serta tak terpisahkan dari masyarakat serta wilayahnya. 

Kini kita lebih paham, mengapa Eyang Malang Wibowo, Eyang Poncosasmito dan Eyang Poncodikromo lebih suka dan krasan menetap dipelosok, hingga diakhir hayatnya jasadnya tenteram disemayamkan di Pemakaman Gunung Cilik Badegan Ponorogo. Disamping itu masih terdapat pula Pekerjaan Rumah untuk kita yakni menelusuri kembali dan mencatat: Siapa suami Eyang-eyang putri kita itu (dalam sisilah tampak jelas bahwa keturunan Leluhur kita lebih dominan putri daripada prianya), dari mana pula asal-usulnya. Misalnya: Siapa Eyang Harjoreksoko Kakung, dan Eyang Malang Wibowo Kakung itu? Atau siapakah Besan Eyang-eyang itu? Dari beberapa sumber yang patut dipercaya, salah seorang Besan Eyang Malang Wibowo, yaitu "Eyang Joyodirono" sekaliyan, dimakamkan di "Gunung Bungkus" letaknya ± 12 km dari Makam Gunung Cilik. 

Kini kesemuanya terserah kepada kita, akan mampukah kita mewujudkan harapan serta dambaan para Leluhur. Dengan keutuhan keakraban Paguyuban Kekerabatan kita yang bukan bersifat eksklusif, tetapi justru memadu kehendak mulya, yakin pasti kita mampu. Semoga Tuhan YME senantiasa melimpahkan Rahmat dan hidayahnya kepada kita sekalian. Amien.

TINJAUAN PADA JALUR ASAL-USUL PARA LELUHURKU DARI PIHAK EYANG KAKUNG

I. PANEMBAHAN POTROKUSUMO ; adalah juga salah seorang putra B.P.H. MANGKUNAGORO Kartosuro (saudara seayah lain ibu dengan R.M. SAID (Pangeran Sambernyowo) yang kemudian menjadi K.G.P.A.A. MANGKU NAGORO I. Panehmabahan Potrokusumo, rupa-rupanya mengikuti jejak ayahandanya yang lebih mengutamakan “olah kejiwaan dan keagamaan” (kebatinan/spiritual), sehingga lebih suka menganggalkan gelar kebangsawanannya; para pengikutnya menyebutnya Panembahan. Sedangkan saudaranya, R.M. Said lebih mengutamakan dibidang “olah Kanuragan”. Panembahan POTROKUSUMO berputra 3 (tiga) orang, sebagai berikut : 1. R.Ay. MALANG SEMERANG ; Demang di desa Tempuran, Kismantoro Purwantoro. 2. R.Ay. PONCODIWIRYO (RONGGO SUGOTO) Purwantoro Wonogiri. 3. R.Ay. PANEWU Wonogiri 

II. R.Ay. PONCODIWIRYO (RONGGO SUGOTO) berputra 3 (tiga) orang : 1. R.Ay. RONGGO TARUKARTIKO Sengon Bulukerto 2. R.Ay. MALANG WIBOWO Demang di desa Sambijajar, Jatisrono Wonogiri (dimakankan di Badegan Sumoroto, Ponorogo). 3. Nama serta domisilinya secara jelas tidak diketahui 

III. R.Ay. MALANG WIBOWO berputra 6 (enam) orang : 1. R. HATMODIWIRYO Petinggi Ngendran Jatisrono Wonogiri 2. R.Ngt. PONCOWIGUNO Demang di Doho GIrimarto 3. R.Ng. PONCOPRAYITNO Demang di desa Bendo Bulukerto 4. R.Ng. PONCOSASMITO Demang di Tawang Jatisrono Wonogiri, tetapi kemudian 5. R.Ng. MARTODIRONO 6. R.Ngt. TIRTODIRONO meletakkan jabatan dan pangkat Demangnya, dan selanjutnya menjadi “Lurah Kepolo” di Badegan, Ponorogo. Merdikan ****) di Badegan Petinggi di desa Tanjungsari Jatisrono Wonogiri. 

IV. R.Ng. PONCOSASMITO berputra 5 (lima) orang : 1. R. PONCOLAKSONO Lurah desa Karangwaluh 2. R. REKSOSAMITO 3. R.Ng. PONCODIKROMO 4. R. JOYODIKROMO 5. R. KARTODIKROMO Badegan Lurah di Badegan Ponorogo Lurah di Badegan Ponorogo Badegan Ponorogo 

Selanjutnya R.Ng. PONCODIKROMO (cucu MALANG WIBAWAN) menikah dengan R. Aj. JUMINAH (cucu SURYONEGARAN), menurut jalur garis keturunan dari B.P.H. MANGKUNAGORO Kartosuro, masing-masing adalah turun ke V (Wareng) dan turun ke VI (Udeg-udeg); jadi “Paman” menikahi “Kemenakan” (periksa halaman 2 dan bagan silsilah).*****) Setelah berputra 2 (dua) orang, Eyang Poncodikromo menikah lagi dengan putri Cina (Tiongkok). Dari kedua perkawinannya, beliau dikaruniai putra 14 (empat belas) orang, masing-masing dari Eyang Juminah (sembilan) orang dan dari Eyang Nyonyah* 5 (lima) orang putra. 

Keterangan : * ** *** **** 

Berdasarkan ketentuan Projo Kadipaten Mangkunagaran, seseorang calon atau pengganti Mangku Nagoro, sebelum berusia 40 tahun (berdasarkan perhitungan tarikh Jawa), belum diperkenankan menggunakan gelar dan sesebutan Mangku Nagoro. Gelar dan sesebutannya adalah : Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Prabu Prangwadono (tempat tinggal beliau juga bukan di Dalem, tetapi di bagian barat Puro Mangkunagaran yang disebut Prangwadanan). Adapun gelar dan sesebutan Mangku Nagoro selengkapnya adalah : Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Nagoro Senopati Surakarta Hadiningrat.

Didalam Naskah Bapak Gunawan Alm. Tertulis B.R.M. SLAMET; telah dicocokkan dengan “Serat Asal-Silah lan Sujawarah para Noto Tanah Jawa” dan “Het Triwindu-Gedenkbuk Mangku Nagoro VII”, dan yang benar adalah Raden Mas Sulomo (Para putra Mangkunagaran baru mulai menggunakan sebutan Bandoro Raden Mas, pada masa M.N. III). 

Didalam naskah Bapak Gunawan Alm. Tertulis Ngabehi; Ngabehi adalah bukan pangkat atau jabatan, akan tetapi sesebutan atau gelar yang diberikan kepada seorang “Penewu = Pejabat yang membawahi 1000 orang bawahan” atau kepada seseorang Pejabat (di daerah) yang dianugrahi tanah (bengkok) seluas 1000 karyo. Sebagai contoh: Eyang R.Ng. PONCODIKROMO, lurah di Badegan, karena keturunan Priyayi (Wareng) atau karena jasanya, rupa-rupanya juga mendapatkan bengkok seluas 1000 karyo, karena itu bergelar Ngabehi. (Di daerah-daerah, banyak pejabat yang sebutannya disesuaikan dengan bawahan atau bengkoknya: Kliwon = 2000 (kalih ewon); Penatus = 100; Paneket = 50; Penglawe = 25 biasanya Kebayan). Sebagai informasi, di Jawa Timur khususnya di daerah Madiun, karena “salah-kaprah”, sebutan Ngabehi ini sering dianggap gelar turun-temurun, sehingga anak – cucu – hingga cicit ikut menggunakannya. 

Sangat boleh jadi yang dimaksud adalah “Kepala Perdikan” (Daerah yang dibebaskan dari segala pajak). Tetapi mungkin juga seperti yang diwilayah Kasultanan Jogja, seseorang yang tidak mengabdi pada Raja/Gupermen juga disebut “Merdikan” (mirip arti swasta, tetapi bukan wiswasta). Umumnya hidup semata-mata dari hasil kekayaan pribadi. ***** 

Didalam lingkungan masyarakat Jawa, sistem hubungan kekerabatan tersusun dan mempunyai nama/sebutan hingga 10 tingkat: I. Anak. VI. Udeg-udeg. II. Cucu (Putu/Wayah). VII. Gantung Siwur III. Cicit (Buyut). VIII. Gropak Senthe. IV. Canggah. IX. Debog Bosok. V. Wareng. X. Galih Asem ****** 

Kolom kedua ini kelak dapat diubah, diperlebar atau dikembangkan menjadi anak-lampiran bila data telah dapat dihimpun dengan lebih lengkap. Bahkan untuk lebih memudahkan didalam mencari alur hubungan waris, bila perlu dapat disertai dengan “Nomor Urut Jalur Keturunan”. (Semacam Nomor Kode Jati Diri didalam lingkungan kekerabatan). 

Arti singkatan SI.S.K.S. : SampeyanDalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan/Sultan KGPAA : Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Ario KGPA : Kangjeng Gusti Pangeran Ario KPH : Kangjeng Pangeran Haryo (Pangeran Sentono) BPH : Bandoro Kangjeng Pangeran (Pangeran Putro) GKR : Gusti Kangjeng Ratu GRA : Gusti Raden Ayu/Ajeng BRM : Bandoro Raden Mas RMH : Raden Mas Haryo RM : Raden Mas RAy : Raden Ayu RAj : Raden Ajeng RNg : Raden Ngabehi RNgt : Raden Nganten RRr : Raden Rara R : Rade M : Mas Rr : Mas Rara

RISALAH TENTANG ASAL-USUL DAN GARIS KETURUNAN PARA LELUHURKU UNTUK MUDAH DAN SINGKATNYA DIAWALI DARI MANGKU NAGORO PERTAMA TINJAUAN TERHADAP JALUR ASAL-USUL PARA LELUHUR DARI PIHAK EYANG PUTRI I. II. III.

K.G.P.A.A. MANGKU NAGORO I (Pangeran SAMBERNYOWO) di Surakarta Hadiningrat, ketika muda bernama R.M. SAID, dilahirkan di Kartosuro pada tanggal 7 April 1726; beliau adalah putra B.P.H. Mangkunagoro (putra sulung S.I.S.K.S.. Amangkurat IV/Jawi di Kartosuro). Setelah dewasa bernama R.M. SURYOKUSUMO. Dinobatkan menjadi K.G.P.A.A. Mangku Nagoro I pada tanggal 24 Februari 1757 dan wafat pada tanggal 28 Desember 1795. Beliai menjadi menantu B.P.H. Mangkubumi (yang kelak setelah bertahta bergelar: Ng. D.S.D.I.S.K.S.. Hamengku Buwono I), dinikahkan dengan R. Aj. Galuh atau R. Aj. Inten, selanjutnya bernama G.K. Ratu Bendoro. Dari pernikahannya ini, berputra 3 (tiga) orang sebagai berikut: 1. Kangjeng Ratu Angger 2. Kangjeng Ratu Sasi 3. Bandoro Raden Mas Hamijoyo (Prabu Hamijoyo) 

B.R.M. PRABU HAMIJOYO ; setelah dewasa diangkat menjadi Pangeran dengan gelar dan nama Kangjeng Pangeran Haryo Prabu Prangwadono *) Beliau menikah dengan salah satu seorang putri Almarhum S.I.S.K.S.. Paku Buwono II; perkawinan tsb terjadi dimasa pemerintahan S.I.S.K.S.. Paku Buwono III. Dari perkawinannya ini berputra Bandoro Raden Mas Sulomo **) K.P.H. Prabu Prangwadono, wafat menahului ayahandanya (Mangku Nagoro I), dan belum sampai dinobatkan menjadi Kangjeng Gusti. 

B.R.M. SULOMO ; dilahirkan di Surakarta pada tanggal 4 Januari 1768. Pada usia 28 tahun ditetapkan sebagai penggantu kakeknya, menjadi MANGKU NAGORO II (tgl. 25 Januari 1796). Selanjutnya menjadi menantu S.I.S.K.S.. Paku Buwono III ini, hanya dilahirkan seorang putri, yang pada dewasanya dinikahkan putra DANUREJAN; yakni Kangjeng Pangeran KOLONEL (?) dari Surakarta. Sebelum menjadi K.G.P.A. Prabu Prangwadono, beliau terlebih dulu telah menikah dengan putri B.R.M. Haryo Warih Kusumo dari Keparen Surakarta; dari perkawinannya dianugerahi 2 (dua) orang putra : 1. Kangjeng Pangeran Haryo SURYONAGORO 2. B.R.M. Haryo BROJONOTO (Letnan Kolonel Legiun Mangkunagaran). IV. 

KANGJENG PANGERAN HARYO SURYONAGORO ; berputra 3 (tiga) orang (dua orang putri dan seorang pria) sebagai berikut : 1. R.Ay. PONCOWINOTO Wedono di Jatisrono (Daerah Wonogiri) 2. R.Ay. HARJOREKSOKO 3. R.Ng. HARJOWACONO Abdidalem Panewu ***) Mangkunagaran. Abdidalem Panewu ***) Mangunagaran. V. 

R.Ay. HARJOREKSOKO berputra 3 (tiga) orang putri kesemuanya : 1. R.Ay. JUMINAH 2. R.Ay. JUMINEM 3. R.Ay. JUMIRAH VI. dan (wafat ketika masih kanak-kanak). 

R.Ay. JUMINAH setelah dewasa dinikahkan dengan R.Ng. PONCODIKROMO lurah di Badegan Ponorogo yang sebelumnya bernama R.Ng. SASMITOWIJOYO (cucu R.Ay. MALANG WIBOWO). Ditinjau dari hubungan alur waris bila dihitung sejak dari B.P.H. MANGKUNAGORO Kartosuro, maka : R.Ay. JUMINAH adalah turun ke VI (Udeg-udeg); sedangkan R.Ng. PONCODIKROMO adalah turunan V (Wareng). Dengan demikian dalam hubungan waris adalah “Kemenakan” dengan “Paman” (periksa halaman 3 dan bagan Silsilah). *****) 

BEBERAPA CATATAN TENTANG PARA LELUHURKU

Untuk mendapatkan gamabran yang lebih jelas tentang para Leluhur kita, berangkali ada baiknya apabila diutarakan secara ringkas, sejarah aa...